Melansir laman sciencealert, obat-obatan yang ada saat ini untuk Alzheimer sebagian besar berfokus pada penghilangan plak amyloid-beta yang terkait dengan penyakit tersebut. Senyawa baru ini mengambil pendekatan berbeda.
Senyawa ini menargetkan enzim tertentu untuk secara terapeutik memprogram ulang epigenom neuron, serangkaian tanda molekuler yang dapat ditambahkan atau dihapus dari DNA. Hal ini untuk mengubah cara kerja gen.
Obat-obatan berbasis antibodi monoklonal seperti lecanemab dan donanemab, yang menargetkan protein amyloid-beta, sedikit banyak dapat memperlambat perkembangan penyakit jika pengobatan dimulai sejak dini. Namun, hingga saat ini belum ada cara yang terbukti efektif membalikkan penurunan fungsi kognitif akibat Alzheimer pada manusia.
Terapi yang menargetkan protein lain bernama tau juga ternyata tidak terlalu efektif.
Hal ini membuat para peneliti menduga selama ini mereka salah memahami penyakit Alzheimer. Mereka berfokus pada protein yang merupakan gejala penyakit tersebut, bukan penyebab utamanya.
Senyawa baru yang diberi nama FLAV-27 ini bekerja dengan cara lebih luas, yaitu dengan menargetkan perubahan hulu dalam ekspresi gen yang turut mendorong perkembangan penyakit ini melalui berbagai cara, bukan hanya melalui plak protein.
Penulis utama Aina Bellver-Sanchis yang juga seorang ahli biologi molekuler di Institut Ilmu Saraf Universitas Barcelona di Spanyol mengatakan hal ini mengisyaratkan adanya strategi epigenetik baru untuk mengobati penyakit Alzheimer.
"Senyawa FLAV-27 merupakan pendekatan inovatif dan menjanjikan untuk penyakit Alzheimer," kata Bellver-Sanchis, "yang berpotensi mengubah jalannya penyakit, karena senyawa ini tidak hanya bekerja pada gejalanya atau satu biomarker patologis saja, melainkan langsung pada mekanisme molekuler yang mendasarinya."
Bellver-Sanchis dan rekan-rekannya mencatat meskipun antibodi monoklonal merupakan terobosan nyata dalam pengobatan Alzheimer, lecanemab dan donanemab hanya mampu memperlambat penurunan fungsi kognitif sekitar 30 persen dan hanya menangani sebagian dari patologi penyakit tersebut.
FLAV-27 adalah penghambat pertama dari jenisnya yang menargetkan enzim bernama euchromatic histone-lysine N-methyltransferase 2 (EHMT2), yang juga dikenal sebagai G9a.
G9a berperan dalam regulasi epigenetik di dalam otak, dan dapat menonaktifkan gen-gen yang penting untuk fungsi-fungsi utama seperti perkembangan sel otak, plastisitas sinaptik, dan pemrosesan memori.
FLAV-27 menghambat G9a dengan cara memblokir molekul yang dikenal sebagai S-adenosilmetionin; tanpa molekul tersebut, enzim tersebut kehilangan kemampuannya memengaruhi ekspresi gen.
Menurut laporan mereka, penghambatan G9a tampaknya membantu meredakan gangguan regulasi epigenetik yang terlihat pada penyakit Alzheimer, serta mengembalikan fungsi sel-sel otak ke kondisi yang lebih normal.
Senyawa baru ini belum diuji pada manusia. Namun, telah menunjukkan hasil menjanjikan dalam percobaan sel serta penelitian pada cacing nematoda dan tikus.
Selain mengurangi plak amyloid-beta dan tau yang kusut pada sel otak tikus yang ditumbuhkan di laboratorium, FLAV-27 menunjukkan tanda-tanda bahwa senyawa ini dapat membantu memulihkan sebagian kerusakan yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer pada model hewan lain, Caenorhabditis elegans.
Pada cacing nematoda, senyawa tersebut meningkatkan mobilitas, memperpanjang masa hidup, dan meningkatkan respirasi mitokondria, yang membantu memasok energi ke sel-sel.
Pada model tikus dengan Alzheimer onset dini dan onset lanjut, FLAV-27 juga memulihkan kinerja memori, perilaku sosial, serta fungsi simpul sinyal yang disebut sinapsis yang menghubungkan sel-sel otak.
Para peneliti berpendapat temuan ini mengindikasikan disregulasi epigenetik mungkin merupakan mekanisme utama yang menghubungkan berbagai penanda patologis Alzheimer, bukan sekadar efek samping dari penyakit tersebut.
Senyawa baru ini menunjukkan potensi, sama seperti calon obat lainnya, namun masih harus melalui proses panjang sebelum uji klinis pada manusia dimulai. Termasuk, studi toksikologi pada setidaknya dua spesies hewan dan langkah-langkah regulasi lainnya. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Molecular Therapy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News