"Kita juga mengantisipasi kalau sampai terjadi resesi global dan juga krisis pangan global," kata Rektor IPB University Alim Setiawan di Jakarta, Kamis, 9 April 2026.
Alim mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian. Pihaknya juga sudah menyiapkan berbagai inovasi untuk mengantisipasi ancaman krisis energi dan pangan.
"Kita sudah sampaikan berbagai inovasi yang bisa diadopsi oleh masyarakat,” ujar dia.
Salah satu fokus utama adalah pengembangan benih padi unggul. IPB menyiapkan varietas dengan produktivitas tinggi.
"Salah satu varietas unggulan adalah IPB 9G. Benih padi ini memiliki potensi produksi yang tinggi. IPB 9G punya potensi produksi sekitar 10–11 ton per hektare," jelas dia.
Inovasi ini diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan nasional. IPB ingin berkontribusi langsung bagi masyarakat.
Melansir laman ipb.ac.id, varietas IPB 9G ditemukan oleh inovator IPB, Hajrial Aswidinnoor. Inovasi ini membawa era baru dalam pertanian ‘cerdas-iklim’ dengan inovasi benih yang adaptif di tanah masam, tahan hama penyakit serta kebutuhan pupuk dan air yang lebih efisien.
Produktivitas tanaman padi ini bisa mencapai maksimal 11 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Varietas ini juga ditanam di Purwakarta dan berhasil mencapai produktivitas 10,7 ton GKP per hektare.
Hasil uji coba penanaman IPB 9G yang merupakan varietas benih cerdas iklim ini dapat menghemat kebutuhan air hingga 10-20 persen. Dari sisi penggunaan pupuk, IPB 9G juga lebih efisien 25 persen dari varietas umum lainnya.
Dengan demikian, efisiensi penggunaan pupuk kimia dapat meminimalisasi dampak lingkungan dari pertanian padi. Penggunaan IPB 9G juga dapat menghemat biaya tanam, tahan hama penyakit, dan dapat meningkatkan pendapatannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News