Fenomena ini bukan sekadar kebetulan alam, melainkan hasil dari proses geologi dan kimiawi yang telah berlangsung selama miliaran tahun. Sehingga, menciptakan ciri khas laut yang kita kenal sekarang.
Keberadaan rasa asin ini sebenarnya menyimpan cerita tentang perjalanan panjang elemen-elemen dari daratan menuju lautan. Setiap tetes air hujan yang jatuh ke bumi membawa kekuatan mengikis bebatuan, melepaskan mineral-mineral yang terkubur di dalamnya, dan membawanya mengalir menuju muara.
Di balik birunya ombak, tersimpan kadar garam yang luar biasa besar, yang jika dikeringkan konon mampu menutupi seluruh permukaan daratan bumi dengan lapisan setebal ratusan meter.
Memahami asal-usul rasa asin pada air laut membuat kita menyadari betapa dinamisnya bumi yang kita tinggali. Lantas, kenapa air laut asin dan dari mana sumber garam tersebut berasal? Yuk, simak ulasannya di bawah ini dilansir dari laman geosains.id:
Kenapa air laut asin?
Air laut terasa asin karena di dalamnya terlarut berbagai macam mineral, terutama garam seperti natrium dan klorida. Kadar garam ini, yang sering disebut salinitas, rata-rata mencapai 3,5 persen di setiap liternya.Rasa asin tersebut berasal dari dua sumber utama. Pertama, sisa-sisa batuan di darat yang terkikis air hujan lalu hanyut terbawa sungai ke laut. Kedua, dan yang paling utama adalah adanya gas serta mineral yang merembes keluar dari perut bumi melalui dasar samudra.
Proses alami ini terjadi terus-menerus selama jutaan tahun sehingga tingkat keasinan laut tetap terjaga. Di dalam air laut juga terkandung oksigen, zat besi, dan nutrisi lain yang sangat penting bagi makhluk hidup.
Jadi, garam di laut bukan hanya soal rasa, melainkan fondasi utama yang menjaga seluruh kehidupan di dalam laut agar tetap berjalan.
Rasa asin air laut konsisten selama jutaan tahun
Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa laut tidak menjadi semakin asin padahal mineral dari darat dan gunung berapi bawah laut terus mengalir ke laut setiap hari? Jawabannya karena laut memiliki kemampuan dalam menjaga keseimbangan alaminya. Salah satu cara utamanya melalui bantuan makhluk hidup seperti kerang, terumbu karang, dan plankton.Mereka menyerap mineral dari air laut untuk membangun cangkang dan kerangka tubuh yang keras. Ketika makhluk-makhluk ini mati, sisa tubuh mereka yang kaya mineral akan tenggelam dan mengendap menjadi sedimen di dasar laut, sehingga kadar garam yang berlebih pun ikut terbuang secara alami.
Selain peran makhluk hidup, laut juga memiliki sistem penggerak raksasa yang disebut sirkulasi termohalin. Arus laut yang digerakkan oleh perbedaan suhu dan kadar garam ini memastikan mineral tidak menumpuk di satu tempat saja, melainkan tersebar merata ke seluruh samudra di dunia.
Ditambah lagi, tumbuhan laut seperti fitoplankton terus mengambil nutrisi dari air untuk tumbuh, yang secara tidak langsung membantu membersihkan kandungan kimia tertentu.
Melalui kerja sama antara proses fisik dan biologis ini, laut berhasil mempertahankan kadar garam yang stabil selama jutaan tahun sehingga tetap menjadi lingkungan yang nyaman bagi kehidupan di dalamnya.
Rasa air asin di setiap laut berbeda-beda
Nah, ternyata, kadar garam di berbagai lautan tidak sama. Hal ini sangat bergantung pada iklim, curah hujan, dan seberapa banyak air tawar yang mengalir masuk ke dalamnya.Sebagai contoh, di tempat yang sangat panas dan kering seperti Laut Merah, airnya terasa jauh lebih asin karena matahari terus-menerus menguapkan air dan menyisakan garam di permukaan.
Sebaliknya, di wilayah seperti Laut Baltik, airnya cenderung terasa lebih tawar karena sering diguyur hujan dan mendapat banyak kiriman air segar dari sungai-sungai besar di sekitarnya.
Perbedaan kadar garam ini bukan sekadar soal rasa, tetapi juga menjadi penentu siapa yang bisa bertahan hidup di sana. Ada hewan yang sangat sensitif dan hanya bisa hidup jika kadar garamnya stabil, namun ada juga makhluk hebat yang bisa beradaptasi meski kondisi keasinan air berubah drastis.
Pada akhirnya, rasa asin laut adalah hasil kerja keras alam selama jutaan tahun yang melibatkan gunung berapi hingga siklus hujan. Dengan memahami salinitas, kita tidak hanya belajar tentang air, tetapi juga memahami bagaimana bumi menjaga keseimbangan iklim dan kehidupan di dalamnya. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan Sobat Medcom, ya! (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News