Ia menyebut, pengembangan vaksin covid-19 memerlukan pengujian yang panjang. “Kenapa pakai vaksin asal China? Karena baru China yang sudah melakukan penelitian hingga ke fase III. Kita harus cepat menggunakan vaksin ini karena kita sudah banyak korbannya,” jelas Kusnandi dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 Juli 2020.
Kusnandi memaparkan, sebelum bisa digunakan secara luas, pengembangan vaksin harus menjalani tahap preklinis dan klinis. Pada tahap preklinis, antigen vaksin diperiksa kestabilannya, baik secara fisik maupun kimia. Hasilnya, vaksin tersebut secara fisik dan kimia sudah stabil.
Vaksin covid-19 juga sudah diujicobakan kepada hewan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa vaksin yang disuntikkan ke hewan tetap aman dan membentuk zat anti.
Baca juga: Indonesia Tak Boleh Ketergantungan Vaksin Covid-19 Luar Negeri
Setelah dinyatakan aman dan bekerja pada hewan, vaksin kemudian diujicobakan ke manusia. Kusnandi mengungkapkan, proses uji klinis ke manusia terdiri dari tiga fase.
Fase pertama, diujikan kepada 100 orang dewasa. Jika dinyatakan aman, uji coba masuk kepada fase kedua, yaitu uji coba kepada minimal 400 orang.
Setelah kembali berhasil, uji coba selanjutnya masuk ke fase 3, yaitu dengan jumlah relawan mencapai ribuan orang. Saat ini, uji klinis di kota Bandung merupakan pengujian pada fase ke-3.
Uji coba fase ke-3 tidak bisa dilakukan hanya pada satu sentra pengujian, tetapi harus dilakukan di banyak lokasi. Karena itu, uji klinis vaksin covid-19 ini tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara di dunia.
“Memang yang paling cepat dan bisa dipakai saat ini untuk mencegah peredaran covid-19 di Indonesia adalah yang dibuat di China,” kata Kusnandi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News