Ilustrasi Badak. Foto: Pexel
Ilustrasi Badak. Foto: Pexel

Badak Sumatera Tinggal 50 Ekor, BRIN Andalkan Teknologi Reproduksi Berbantu

Ilham Pratama Putra • 25 Agustus 2026 13:33
Ringkasnya gini..
  • Populasi badak Sumatera saat ini hanya tersisa sekitar 50 ekor dan mengalami kesulitan perkembangbiakan secara alami.
  • BRIN mendorong penerapan Assisted Reproductive Technology (ART) untuk membantu proses reproduksi satwa terancam punah.
  • BRIN bermitra dengan lembaga dari Kenya dan Colossal (Texas) untuk memperkuat teknologi konservasi dan green skill.
Jakarta: Populasi badak Sumatera terus menghadapi ancaman serius. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria megungkap jumlah badak Sumatra kini hanya sekitar 50 ekor. 
 
Kondisi populasi yang sangat terbatas membuat proses perkembangbiakan satwa tersebut semakin sulit. Bahkan, dalam tahap reproduksinya.
 
"Badak di Indonesia, badak Sumatera sekarang jumlahnya tinggal 50 ekor. Badak jarang ketemu sehingga susah untuk kawin. Ketika kawin, susah untuk hamil. Ketika hamil, susah untuk melahirkan," ujar Arif dalam YouTube BRIN dikutip Selasa 25 Agustus 2026.

Menurut Arif, situasi tersebut menunjukkan konservasi satwa liar kini membutuhkan dukungan teknologi. Menjaga habitat dan populasi tidak lagi cukup jika satwa yang tersisa mengalami kesulitan untuk berkembang biak secara alami.
 
Salah satu teknologi yang mulai dikembangkan untuk menjawab persoalan tersebut ialah Assisted Reproductive Technology (ART) atau teknologi reproduksi berbantu. Arif mengatakan teknologi tersebut telah berkembang dan berhasil digunakan dalam upaya konservasi satwa di Kenya. 
 
Pengembangan teknologi serupa juga menjadi bagian dari kolaborasi BRIN dengan sejumlah mitra internasional. "Kami melakukan kolaborasi dengan Kenya dan juga lembaga di daerah Texas, Colossal namanya Colossal, itu lembaga yang saat ini konsen pada dunia wildlife conservation," beber dia.
 
Baca juga: Rumah Modular BRIN Kokoh Tahan Gempa NTT, Intip Spesifikasinya  

Perkembangan tersebut memperlihatkan konservasi keanekaragaman hayati telah memasuki tahap baru. Teknologi tinggi tidak hanya digunakan untuk kebutuhan industri atau kehidupan manusia, tetapi juga untuk mempertahankan spesies yang berada di ambang kepunahan.
 
Ia menilai kebutuhan terhadap teknologi konservasi akan semakin besar. Hal itu terjadi seiring meningkatnya ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.
 
"Konservasi keanekaragaman hayati hari ini membutuhkan teknologi yang tinggi. Bahkan sekarang sudah mulai berkembang berbagai riset-riset unggulan terkait dengan hal ini," jelas dia.
 
Arif mengatakan perkembangan teknologi dalam konservasi juga menjadi bagian dari kebutuhan green skill. Dia menekankan green skill semakin penting di masa depan.
 
Keterampilan tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh akademisi dan peneliti. Tetapi juga dunia privat yang semakin membutuhkan kompetensi terkait keberlanjutan dan perlindungan lingkungan.
 
Bagi Indonesia, kebutuhan tersebut menjadi semakin penting. Mengingat, kekayaan biodiversitas yang dimiliki sekaligus besarnya tantangan untuk mempertahankan spesies dan ekosistemnya.
 
"Teknologi pun kini menjadi salah satu harapan untuk memastikan satwa dengan populasi sangat kecil tetap memiliki peluang bertahan dan berkembang biak," ujar Arif.
 
Baca juga: Roket Dua Tingkat BRIN, 'OTW' Uji Terbang di 2029  

 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan