Kombinasi iklim tropis yang lembap dan pemanasan global kini melipatgandakan risiko heat stress (stres akibat panas) yang bisa berujung fatal menjadi heat stroke atau serangan panas.
Menanggapi fenomena ini, Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Aditya Lia Ramadona, Ph.D., mengingatkan bahwa heat stroke adalah level terparah dari paparan panas ekstrem. Kondisi ini menyerang ketika tubuh kehilangan kemampuan mengendalikan suhunya sendiri, sehingga merusak fungsi otak dan organ vital.
Gejalanya beragam, mulai dari suhu tubuh melonjak drastis, kebingungan, bicara pelo, kejang, hingga pingsan. Jika telat ditangani, nyawa bisa jadi taruhannya.
“Secara sederhana, ini terjadi ketika tubuh gagal mengendalikan suhu. Intinya, suhu tubuh naik cepat, mekanisme pendinginan seperti berkeringat tidak lagi efektif, lalu terjadi gangguan fungsi organ dan otak,” katanya, Jumat, 7 Juli 2026.
Mitos "Orang Tropis Kebal Panas"
Menurut Ramadona, masyarakat Indonesia sering kali denial atau menyepelekan heat stroke karena merasa sudah terbiasa hidup di negara tropis. Banyak yang menganggap cuaca panas adalah hal wajar. Padahal, riset membuktikan sebaliknya.“Riset-riset heat-health menunjukkan bahwa kenaikan suhu kecil saja dapat meningkatkan beban layanan kesehatan. Studi kami di Yogyakarta menemukan kenaikan 1°C suhu rata-rata mingguan berasosiasi dengan peningkatan 15,5 persen kunjungan ibu-anak di layanan primer,” ungkapnya.
Masalah lainnya ada pada literasi kesehatan. Istilah heat stroke masih terdengar asing di telinga masyarakat yang lebih familier dengan sebutan dehidrasi atau kelelahan biasa. Imbasnya, banyak gejala awal yang terabaikan hingga akhirnya berujung pada komplikasi serius.
Berlindung di Dalam Rumah Belum Tentu Aman
Banyak yang berpikir cara terbaik menghindari cuaca panas adalah dengan berdiam diri di dalam rumah (indoor). Namun, riset tesis dari Anzalia Sabrina, mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat FKKMK UGM, menemukan fakta mengejutkan.Suhu di dalam rumah responden lansia di lokasi Program Kampung Iklim (ProKlim) DIY justru tercatat lebih panas dibandingkan suhu luar ruangan yang diukur BMKG, dengan rata-rata mencapai 31 derajat Celsius. Kenaikan selisih suhu indoor dan outdoor sebesar 1 derajat Celsius saja bisa mendongkrak risiko heat stress pada lansia hingga 32 persen.
“Temuan ini menunjukkan bahwa menggunakan suhu luar sebagai satu-satunya indikator dapat meremehkan paparan panas yang sebenarnya dialami masyarakat,” jelasnya.
Butuh Sistem, Bukan Sekadar Edukasi Individu
Data-data tersebut membuktikan bahwa panas ekstrem harus mulai dilihat sebagai isu kesehatan masyarakat berskala besar. Kelompok rentan, wilayah pesisir, dan area perkotaan padat (urban heat island) adalah yang paling terancam. Sayangnya, respons kebijakan dan sistem peringatan dini di Indonesia dinilai belum memadai.Ramadona menegaskan, menyuruh masyarakat sekadar minum air putih atau memakai baju tipis tidaklah cukup. “Perubahan perilaku individu penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya strategi. Risiko panas juga dipengaruhi oleh kualitas rumah, kepadatan permukiman, ruang hijau, jenis pekerjaan, akses terhadap air minum, listrik, sistem pendinginan, hingga kesiapan fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Hal ini sejalan dengan temuan riset Annisa Kharismaningtyas dari UGM, yang mengungkap adanya lonjakan kunjungan pasien darah tinggi (hipertensi) di fasilitas kesehatan akibat efek tertunda dari suhu maksimum. Artinya, penanganan cuaca panas butuh penyesuaian regulasi jam kerja hingga kesiapan rumah sakit.
Melihat urgensi ini, Ramadona mendorong pemerintah segera menyusun pedoman nasional dan sistem peringatan dini yang disesuaikan dengan kondisi lokal masing-masing daerah.
“Ambang panas di Jakarta, Yogyakarta, Makassar, Kupang, Medan, atau wilayah dataran tinggi tentu berbeda. Karena itu, sistem peringatan dini sebaiknya tidak hanya menggunakan suhu absolut, tetapi juga mempertimbangkan kelembapan, suhu malam, efek urban heat island, kerentanan penduduk, dan kapasitas layanan kesehatan,” terangnya.
Sistem peringatan ini harus memuat mitigasi konkret, seperti penyesuaian jam sekolah dan kerja untuk pekerja lapangan. Tujuannya bukan melarang warga bekerja, melainkan mengatur waktu agar aktivitas berat dipindah ke pagi atau sore hari, memastikan ada waktu istirahat di tempat teduh, dan kecukupan elektrolit.
Sementara itu, untuk kelompok rentan di rumah seperti lansia dan ibu hamil, intervensi berupa perbaikan ventilasi silang sangat krusial agar rumah tidak menjadi "oven" yang membahayakan nyawa.
”Kesimpulannya, masyarakat Indonesia memang perlu menyesuaikan kebiasaan terhadap panas ekstrem, tetapi perubahan itu hanya akan berhasil jika didukung oleh sistem, mulai dari aturan kerja, desain kota, rumah yang lebih adaptif terhadap iklim, layanan kesehatan yang siap, hingga komunikasi risiko yang jelas. Panas ekstrem bukan lagi sekadar cuaca yang tidak nyaman, melainkan sudah menjadi isu kesehatan masyarakat dan ketahanan sosial,” pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda