Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Survei PPIM UIN Jakarta: Siswa Masih Kendor Terapkan Protokol Kesehatan

Pendidikan penelitian Riset dan Penelitian pandemi covid-19 protokol kesehatan PTKI
Arga sumantri • 05 Januari 2022 17:47
Jakarta: Tingkat kepatuhan para siswa-siswi sekolah lanjutan tingkat atas dalam mengikuti protokol kesehatan situasi pandemi covid-19 masih harus ditingkatkan. Pemahaman keagamaan disebut turut mempengaruhi tingkat kepatuhan tersebut.
 
Demikian hasil temuan survei nasional Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta terkait 'Pandangan Siswa Sekolah/Madrasah tentang Agama, Pandemi, dan Bencana'.
 
"Temuan pentingnya, protokol kesehatan, perilaku hidup sehat, dan vaksinasi di kalangan siswa perlu ditingkatkan. Selain itu, di saat pandemi covid 19 berlangsung, level Islamisme pada siswa-siswi Indonesia juga relatif tinggi. Ini perlu jadi perhatian," kata Koordinator Penelitian Yunita Faela Nisa, dikutip dari siaran pers UIN Jakarta, Rabu, 5 Januari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari sisi protokol kesehatan, Narila menambahkan, survei mencatat 41,20 persen siswa tercatat abai mencuci tangan. Lalu, 20,10 persen abai memakai masker, 42,40 persen abai menjaga jarak, dan 64,80 persen abai menghindari berkumpul.
 
"Jadi mereka masih suka kumpul-kumpul. Padahal diketahui bahwa kumpul-kumpul menjadi transmisi efektif resiko penularan," ujarnya.
 
Baca: Metode Sunat Klem, Tanpa Jahitan dan Perban
 
Perilaku hidup sehat juga tidak cukup dilaksanakan oleh para siswa. Survei mencatat 70 persen responden siswa mengabaikan olahraga minimal 30 menit per hari, 50,50 persen siswa menunjukan pola tidur tidak teratur, dan 43,40 persen berpola makan tidak seimbang.
 
Terkait vaksinasi, di sepanjang periode survei dilakukan, tim peneliti menemukan jumlah sampel yang sudah divaksin baru 47,42 persen. Sedangkan, presentase siswa belum divaksin mencapai 52,88 persen.
 
Survei ini juga mencatat faktor keagamaan turut mempengaruhi kepatuhan siswa dalam menjalankan protokol kesehatan dan vaksinasi. Survei menemukan 12,88 persen siswa nasional beranggapan bahwa vaksinasi bertentangan dengan agama.
 
Jika dilihat dari latar belakang institusi tempat lembaga pendidikan mereka belajar, 21,95 persen siswa sekolah-sekolah Kemenag melihat vaksinasi bertentangan dengan agama. Sedang, siswa-siswi di sekolah-sekolah Kemendikbud mencatatkan prosentase 14.80 persen siswa yang berpandangan bahwa vaksinasi bertentangan dengan agama.
 
Baca: Menelisik Fenomena Klithih, Kejahatan Jalanan Remaja di Yogyakarta
 
"Ini perlu jadi perhatian kita juga bahwa ternyata ada 12,88 persen siswa secara nasional berpandangan bahwa vaksinasi bertentangan dengan agama. Ini perlu satu pendekatan jika kita promosikan vaksinasi," tambahnya.
 
Selain itu, sebanyak 39 persen siswa percaya bahwa Pandemi covid-19 adalah hukuman dari Tuhan. Lalu, sekitar 48 persen responden memiliki sikap fatalis atau percaya bahwa upaya manusia tidak banyak berarti karena segala sesuatu termasuk kesehatan sudah ditentukan oleh Tuhan.
 
Survei juga menunjukkan bahwa sekitar 20 persen hingga 30 persen responden mempercayai hoaks atau teori konspirasi terkait covid-19. Misalnya, sekitar 31,5 persen responden mempercayai rumor bahwa rumah sakit sengaja menjadikan pasien sebagai pasien covid-19 demi mendapatkan biaya penanggulangan atau penanganan pasien covid-19 yang disediakan pemerintah.
 
Survei ini dilakukan serentak pada 1 September hingga 7 Oktober 2021 dengan jumlah 2.358 sampel siswa yang lolos uji perhatian dari 3.031 sampel awal. Seluruh sampel merupakan peserta didik sekolah lanjutan tingkat atas, baik di lembaga pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbduristek) maupun Kementerian Agama.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif