Hasil ini menunjukkan implementasi program MBG dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Peningkatan nilai ekonomi ini berasal dari perputaran dana yang masif di tingkat bawah hingga industri pengolahan.
“MBG memberikan dampak makroekonomi yang positif dan terukur. Simulasi kami menunjukkan peningkatan PDB tambahan sebesar Rp14,5 hingga Rp26 triliun,” kata Kepala Tim Riset MBG di BRIN, Iwan Hermawan, dikutip dari ANTARA, Kamis, 5 Maret 2026.
Hermawan menjelaskan proyeksi kenaikan PDB tersebut didorong oleh penguatan dua pilar utama ekonomi, yakni konsumsi dan investasi. Pertumbuhan konsumsi agregat diperkirakan naik hingga 0,19 persen, sementara sektor investasi berpotensi tumbuh sebesar 0,24 persen.
Pertumbuhan pada kedua komponen tersebut dianggap sangat krusial karena merupakan penyumbang terbesar dalam struktur PDB Indonesia. Meski aktivitas ekonomi meningkat tajam, BRIN memproyeksikan tekanan inflasi akan tetap berada dalam batas yang terkendali.
“Karena kedua komponen tersebut menyumbang sebagian besar PDB. Jika keduanya meningkat secara signifikan, maka akan mendorong pertumbuhan PDB,” ujar Hermawan.
Dia menekankan keberadaan program MBG merupakan langkah strategis untuk mencapai visi ekonomi jangka panjang pemerintah. Program MBG diharapkan menjadi katalisator utama dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi yang ambisius pada akhir dekade ini.
“Terlebih lagi, dengan target pertumbuhan 2029 sebesar 8 persen, program ini seharusnya selaras dengan tujuan tersebut, sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali,” ujar dia.
BRIN juga menemukan efek berganda (multiplier effect) dari program MBG menjangkau sektor hulu hingga hilir secara luas. Peningkatan permintaan pangan akan memaksa rantai pasok domestik untuk bekerja lebih produktif dan efisien.
Sektor produksi pangan seperti beras, susu, dan hortikultura diprediksi akan mengalami lonjakan aktivitas yang paling signifikan. Hal ini juga akan berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja baru di wilayah perdesaan dan pusat pengolahan.
“Peningkatan produksi terutama terlihat pada beras, produk daging olahan, susu, dan hortikultura, diikuti oleh penyerapan lapangan kerja hingga 0,19 persen di sektor pangan dan pengolahan,” ujar dia.
Secara teknis, BRIN menilai kinerja program yang telah berjalan sejauh ini sudah berada di jalur yang benar. Meskipun demikian, evaluasi berkala tetap diperlukan untuk memastikan standar setiap porsi makanan tetap terjaga kualitasnya.
“Secara keseluruhan, kinerja program telah mendekati harapan mereka, meskipun mungkin ada beberapa catatan mengenai porsi makanan,” kata dia.
Sebagai langkah perbaikan ke depan, BRIN merekomendasikan pemerintah membangun sistem pengawasan berbasis data yang terintegrasi. Sistem ini diperlukan untuk memantau distribusi dan kualitas gizi secara langsung agar tidak terjadi kebocoran anggaran.
Penguatan MBG disarankan melalui dasbor hasil-dampak nasional yang mencakup aspek keamanan pangan hingga tata kelola secara real-time. Dengan transparansi tinggi, program ini diharapkan dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi ekonomi rakyat. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News