Ilustrasi/Medcom
Ilustrasi/Medcom

Sampah Makanan Lebaran Melonjak Drastis, Dosen IPB: Budaya Kita Bermasalah

Citra Larasati • 17 Maret 2026 16:25
Ringkasnya gini..
  • Idulfitri identik dengan silaturahmi dan hidangan melimpah di meja tamu.
  • Namun di balik hangatnya tradisi berbagi, ada persoalan serius yang kerap terabaikan: lonjakan sampah makanan.
  • Kalau food waste tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya bisa diolah.
Jakarta: Idulfitri identik dengan silaturahmi dan hidangan melimpah di meja tamu. Namun di balik hangatnya tradisi berbagi, ada persoalan serius yang kerap terabaikan: lonjakan sampah makanan atau food waste
 
Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Dr Meti Ekayani, menilai fenomena ini mencerminkan paradoks dalam budaya konsumsi masyarakat Indonesia. Niat memuliakan tamu dengan menyediakan makanan berlimpah justru kerap berujung pada pemborosan. Akibatnya, timbunan sampah makanan melonjak drastis setiap Lebaran.
 
"Kalau ditanya penyebabnya, sebenarnya ada dua hal: budaya konsumsi masyarakat dan sistem pengelolaan sampah yang belum efektif," ujar Dr Meti kepada media, dikutip Selasa, 17 Maret 2026.

Budaya "Malu Kalau Makanan Kurang" 

Menurut Meti, kebiasaan menyajikan hidangan berlebihan sudah mengakar kuat di masyarakat Indonesia, serupa dengan budaya di sejumlah negara Asia dan Timur Tengah. Hidangan melimpah dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada tamu.

"Kita cenderung tidak mau dianggap tidak sopan kalau makanan kurang. Jadi lebih baik dilebihkan. Padahal sering kali akhirnya tidak habis," jelasnya.
 
Sayangnya, kebiasaan ini tidak dibarengi dengan perencanaan konsumsi yang matang di tingkat rumah tangga. Banyak keluarga memasak atau membeli makanan tanpa memperhitungkan jumlah anggota keluarga yang benar-benar akan menyantapnya di rumah.
 
Fenomena "lapar mata" saat berbelanja takjil hingga hidangan Lebaran juga memperparah situasi. Masyarakat cenderung membeli beragam makanan karena tergoda penampilannya, tetapi ketika waktu makan tiba, makanan tersebut justru terbuang sia-sia.
 
"Sering kali kita merasa semua makanan terlihat enak saat membeli. Tapi ketika waktunya makan, ternyata tidak habis," ungkapnya.
 
Perubahan aktivitas selama Ramadan dan Lebaran turut menjadi faktor. Tidak jarang anggota keluarga memiliki agenda buka puasa atau kunjungan ke luar rumah, sementara makanan di rumah sudah terlanjur disiapkan dalam jumlah besar.
 
"Misalnya di rumah ada lima orang, tapi ternyata tiga orang berbuka puasa di luar. Akhirnya makanan yang sudah disiapkan menjadi berlebih," tambahnya.

Sistem Pengelolaan Sampah Tidak Memberi Insentif

Meti menegaskan, persoalan food waste tidak berhenti pada pemborosan makanan. Dampaknya langsung memperbesar timbunan sampah yang harus ditangani kota. Sayangnya, sistem pengelolaan sampah di Indonesia dinilai belum mampu mendorong masyarakat untuk mengurangi sampah dari sumbernya.
 
"Pengelolaan sampah kita masih didominasi sistem kumpul–angkut–buang. Berapa pun sampah yang dihasilkan, iurannya sama. Jadi tidak ada insentif bagi masyarakat untuk mengurangi sampah," kritiknya.
 
Ia membandingkan dengan sejumlah negara maju yang menerapkan skema pembayaran iuran berdasarkan volume sampah yang dihasilkan. Sistem seperti ini, menurutnya, efektif mendorong rumah tangga untuk lebih bijak mengelola limbah.
 
Kebiasaan memilah sampah yang belum membudaya juga menjadi masalah serius. Ketika sampah makanan tercampur dengan sampah anorganik seperti plastik atau kertas, material yang seharusnya masih bernilai ekonomi justru rusak dan tidak dapat didaur ulang.
 
"Kalau food waste tercampur dengan sampah kering, yang tadinya masih bisa dijual atau didaur ulang jadi tidak bisa dimanfaatkan lagi," paparnya.

Ubah Kebiasaan, Olah Limbah Makanan

Meti mendorong perubahan perilaku masyarakat dimulai dari perencanaan konsumsi yang lebih baik. Hitung jumlah anggota keluarga yang benar-benar akan makan di rumah sebelum memasak atau membeli hidangan.
 
Selain itu, kebiasaan memilah sampah di tingkat rumah tangga harus mulai dibudayakan. Limbah makanan yang tidak terhindarkan masih bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, misalnya kompos atau pakan ternak melalui budi daya maggot.
 
"Kalau food waste tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya bisa diolah. Dengan begitu, kita tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menciptakan manfaat baru dari limbah makanan," tutupnya.
 
Langkah kecil dari setiap rumah tangga dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan. Lebaran yang bersih dan berkah bisa dimulai dari piring kita sendiri.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan