Melansir laman Science Alert, berdasarkan laporan penelitian awal, sampel rambut dari pengidap Parkinson menunjukkan kadar zat besi dan tembaga jauh lebih rendah. Namun, memiliki kandungan mangan serta arsenik yang jauh lebih tinggi.
Para peneliti yang dipimpin oleh ahli biologi Ming Li dari Universitas Hebei menyatakan temuan ini dinilai berpotensi besar untuk membantu diagnosis penyakit Parkinson. Selama ini, menemukan cara diagnosis Parkinson yang praktis sekaligus akurat masih menjadi tantangan yang besar.
Meski beberapa tes darah terbaru menunjukkan hasil positif, rambut manusia menjadi target unik yang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh sampel darah. Rambut manusia dapat menimbun logam berat dari makanan maupun lingkungan sekitar.
Keunggulan rambut dibandingkan dengan sampel tubuh lainnya seperti air liur, keringat, darah, atau urin adalah kemampuannya merekam kondisi kesehatan seseorang dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Penyebab pasti penyakit Parkinson memang belum diketahui hingga saat ini. Namun, berbagai penelitian sebelumnya mengaitkan penyakit ini dengan gangguan bakteri di usus serta pola makan yang kurang sehat, misalnya terlalu banyak mengonsumsi makanan yang diproses secara berlebihan.
Selain itu, ada pula bukti yang menunjukkan penyakit ini berhubungan erat dengan paparan zat-zat berbahaya di lingkungan, seperti pestisida. Apabila terjadi ketidakseimbangan pada faktor-faktor tersebut, rambut manusia bisa menjadi saksi kunci yang mengungkap kondisinya.
Dalam eksperimen lanjutan pada tikus, Li dan timnya juga menemukan rendahnya kadar zat besi pada rambut, di mana perubahan ini berkaitan erat dengan gangguan fungsi pencernaan.
Dinding usus pada tikus yang mengalami kondisi mirip Parkinson tampak mengalami kerusakan. Gen yang bertugas menyerap zat besi bekerja kurang optimal, sementara gen yang membantu bakteri mengambil zat besi justru lebih aktif. Kondisi ini diduga menyebabkan kekurangan zat besi di seluruh tubuh.
Pada pasien Parkinson, perubahan bakteri usus biasanya muncul bertahun-tahun sebelum penyakit ini terdeteksi. Seperti penyakit otak lainnya, Parkinson tampaknya sangat dipengaruhi oleh hubungan antara usus dan otak. Bisa jadi, rambut selama ini telah mendengar dan mencatat apa yang terjadi antara keduanya.
Di antara semua perubahan yang ditemukan, penurunan kadar zat besi pada rambut adalah yang paling jelas dan paling konsisten terlihat, baik pada pasien manusia maupun tikus.
Tim peneliti menyimpulkan hubungan antara bakteri usus dan proses pengolahan zat besi dalam tubuh merupakan bukti awal yang penting bahwa kedua sistem ini saling berkaitan dalam perkembangan penyakit Parkinson.
Peningkatan kadar arsenik pada rambut juga menarik untuk diteliti lebih jauh, karena hal ini bisa berkaitan dengan paparan lingkungan. Meski jumlah peserta penelitian masih terbatas, pasien Parkinson dalam studi ini dilaporkan lebih sering mengonsumsi jeroan dan makanan laut seperti kerang, yang diketahui lebih banyak mengandung arsenik.
"Secara keseluruhan, kami menduga penurunan level zat besi pada rambut berkaitan dengan disfungsi gastrointestinal pada pasien Parkinson, sebagaimana ditemukan dalam banyak studi lain," ungkap para penulis, "termasuk ketidakseimbangan bakteri usus yang menunjukkan kemampuan lebih tinggi dalam menyerap zat besi."
Temuan ini sejalan dengan sebuah penelitian tahun 2025 yang mengumpulkan berbagai literatur ilmiah dan menemukan bukti adanya gangguan kadar zat besi di otak, darah, dan usus pasien Parkinson.
Penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar masih diperlukan untuk memastikan hal ini, sekaligus memahami lebih dalam bagaimana kekurangan zat besi bisa berhubungan dengan Parkinson. Siapa tahu, di masa mendatang cukup dengan mengambil sehelai rambut saja sudah bisa membantu mendeteksi gangguan serius ini sejak dini. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News