Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Pakar UGM: Setop Polemik Kehalalan Vaksin Sinovac

Pendidikan Virus Korona vaksin covid-19 Vaksinasi covid-19
Arga sumantri • 12 Januari 2021 11:58
Yogyakarta: Ahli Virologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Mohamad Saifudin Hakim meminta masyarakat tidak lagi mempersoalkan kehalalan vaksin Covid-19 Sinovac. Sebab, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa halal yang menjamin vaksin covid-19 buatan Tiongkok itu bebas dari unsur najis.
 
"Masyarakat sebaiknya tidak lagi mempermasalahkan halal-haram karena MUI sudah menetapkan vaksin Sinovac halal dan suci. Jadi, seharusnya tidak perlu lagi ada gejolak untuk menolak vaksin,” kata dia melalui siaran pers UGM, Selasa, 12 Januari 2021.
 
Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKM) UGM ini menyampaikan, gerakan penolakan terhadap program vaksinasi bukan barang baru. Gerakan penolakan ini akan terlihat lebih gencar ketika muncul program vaksinasi jenis baru yang ditetapkan oleh pemerintah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Bagaimana Menerjemahkan Efikasi 65,3%? Berikut Penjelasan Sederhana Pakar UGM
 
Menurut dia, Ada kelompok anti vaksin garis keras, yang bila diberi penjelasan sebaik apapun, tetap akan menolak vaksinasi dengan bermacam alasan. 
 
"Tidak hanya menolak karena aspek halal-haram saja, tapi keamanan, efektivitas, background anti-medis, dan lainnya akan selalu dijadikan alasan," papar anggota tim Lab Covid-19 FKKMK UGM ini.
 
Kendati begitu, ada kelompok yang menolak program vaksinasi dikarenakan kebimbangan. Golongan ini disebut Hakim menolak mendapatkan lantaran adanya miss-informasi yang diterima. Namun, mereka biasanya akan mau menerima vaksin saat diberikan penjelasan secara rasional terkait keamanan dan efektivitas vaksin.
 
Hakim kembali mengimbau masyarakat untuk menghentikan polemik kehalalan vaksin Sinovac. Pasalnya, MUI telah menyelesaikan semua prosedur dan tahap pemeriksaan vaksin hingga menetapkan vaksin halal dan suci.
 
"Sebelum mengeluarkan fatwa, MUI telah melakukan studi dengan melihat langsung proses produksi dan mengkajinya. Kehalalan vaksin sudah diterbitkan," terangnya.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif