Curcuma Pro buatan Tim Peneliti UNS. Foto: Dok. UNS
Curcuma Pro buatan Tim Peneliti UNS. Foto: Dok. UNS

Curcuma Pro, Ramuan Pendongkrak Imunitas Besutan Peneliti UNS

Citra Larasati • 08 Februari 2021 08:08
Jakarta:  Tim peneliti dari Universitas Sebelas Maret (UNS) menciptakan inovasi minuman yang berfungsi sebagai imunomodulator atau peningkat imunitas yang diberi nama Curcuma Pro. Inovasi ini dilakukan melihat situasi pandemi covid-19 saat ini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, bahkan setiap hari kasus positif di Indonesia makin meningkat.
 
Melihat kondisi tersebut, masyarakat diminta untuk makin memperketat protokol kesehatan dan sebisa mungkin untuk menghindari kegiatan di luar rumah. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk meningkatkan imunitas tubuhnya agar terhindar dari virus ini.
 
Terkait dengan upaya peningkatkan imunitas tubuh, tim peneliti UNS Surakarta menciptakan inovasi minuman yang berfungsi sebagai imunomodulator atau peningkat imunitas.  Minuman bernama Curcuma Pro ini digagas oleh tim peneliti yang beranggotakan Dr. Ir. Joko Sutrisno (Fakultas Pertanian), Prof. Dr. Hartono, dr. (Direktur RS UNS), Dr. Ir. Eddy Triharyanto (Fakultas Pertanian), dan Prof. Dr. Munawir Yusuf (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan).

Curcuma Pro dibuat dari bahan-bahan herbal, memiliki kandungan yang bermanfaat untuk meningkatkan imunitas dari covid-19. Bahan-bahan herbal yang dipakai yakni kunyit, jahe, temulawak, madu hutan, dan coco nectar.
 
“Berdasarkan berbagai literatur, temulawak dan kunyit mengandung curcumin. Sementara itu, jahe mengandung gingerol. Hasil riset kami menunjukan bahwa curcumin itu dapat berfungsi sebagai imunomodulator pada pasien yang terinfeksi SARS CoV-2 (Covid-19). Nah, madu hutan dan coco nectar berfungsi sebagai pemanis,” kata Hartono, Senin, 7 Februari 2021.
 
Baca juga:  Mahasiswa ITS Gagas Penghasil Energi Listrik dari Sekam Padi
 
Sementara itu, koordinator tim peneliti, Joko Sutrisno menjelaskan, bahwa penelitian ini berhasil mendapatkan pendanaan hibah dari program Difusi Inovasi yang diadakan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek/BRIN) pada 2020 lalu. Bekerja sama dengan PT. Synthesa Herba Salatiga untuk produksi, kini tim peneliti sudah membuat 7.000 botol Curcuma Pro yang sudah didistribusikan di sejumlah instansi seperti Kemenristek/BRIN, sejumlah rumah sakit, pemerintah daerah, dan pondok pesantren.
 
Meski demikian, produk Curcuma Pro belum dijual secara umum. Tim peneliti masih menganalisis dan memperkuat landasan ilmiah serta mengurus izin edar sebelum memasarkannya ke masyarakat.
 
“Kita sedang menganalisiskan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BP2TOOT) di Tawangmangu. Ini masih kita analisis laboratoriumkan seperti setiap 15 ml itu mengandung curcumin dan gingerol berapa, terus dosis yang tepat dari curcumin dan gingerol berapa mg per hari nya,” ujar Joko.
 
Saat ini, Curcuma Pro yang sudah diproduksi terbatas dikemas dalam botol dengan isian sebanyak 500 ml.  Minuman ini disarankan untuk dikonsumsi sehari dua sampai tiga kali dengan aturan pakai satu sampai dua sendok makan tiap kali minum.
 
Jika disimpan dalam suhu ruang, Curcuma Pro dapat bertahan hingga dua tahun.  “Kami masih terus memperbaiki dari segi produk maupun kemasan. Harapan kami tahun ini bisa dipasarkan secara luas,” pungkasnya. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan