Ahli bedah AS melakukan transplantasi jantung dari babi yang dimodifikasi secara genetik terhadap seorang pria berusia 57 tahun pada Januari 2022. AFP PHOTO/University of Maryland School of Medicine
Ahli bedah AS melakukan transplantasi jantung dari babi yang dimodifikasi secara genetik terhadap seorang pria berusia 57 tahun pada Januari 2022. AFP PHOTO/University of Maryland School of Medicine

Etika Transplantasi Organ Babi ke Manusia Tuai Perdebatan, Ini Kata Ahli Bioetika

Renatha Swasty • 07 Januari 2026 10:26
Jakarta: Transplantasi organ dari hewan ke manusia kini bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan sudah menjadi kenyataan. Pada Oktober 2025, para dokter di New York berhasil mencangkokkan ginjal babi yang dimodifikasi secara genetik ke tubuh pasien yang masih hidup.
 
Melansir laman Live Science, transplantasi lintas spesies ini dikenal dengan istilah xenotransplantasi. Terobosan medis ini memicu perdebatan etika yang cukup serius.
 
Pasien tersebut adalah salah satu dari enam orang yang mengikuti uji klinis pertama transplantasi ginjal dari babi ke manusia. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah ginjal babi yang telah direkayasa gennya dapat menggantikan ginjal manusia yang rusak dengan aman.

Satu dekade sebelumnya, para ilmuwan mengejar pendekatan berbeda. Alih-alih menyesuaikan gen babi agar organnya cocok untuk manusia, mereka mencoba menumbuhkan organ manusia yang sepenuhnya terbuat dari sel manusia di dalam tubuh babi.
 
Pada 2015, National Institutes of Health (NIH) menghentikan pendanaan untuk penelitian tersebut demi mempertimbangkan risiko etisnya dan penghentian itu masih berlaku hingga saat ini. Ahli bioetika dan profesor filsafat di University at Albany, State University of New York, Monika Piotrowska, menyatakan kebingungannya terhadap keputusan tersebut.
 
"Saya bingung dengan keputusan tersebut. Larangan itu mengasumsikan bahayanya adalah membuat babi terlalu mirip manusia. Namun regulator sekarang tampaknya merasa nyaman membuat manusia sedikit lebih mirip babi," kata Piotrowska dikutip Rabu, 7 Januari 2026.
 
Sebelum membahas lebih lanjut, sebenarnya apa itu xenotransplantasi dan mengapa penelitian ini begitu penting bagi dunia medis? Yuk simak penjelasannya.

Apa Itu Xenotransplantasi?

Mengutip laman United Network for Organ Sharing (UNOS), Xenotransplantasi merupakan proses transplantasi organ atau jaringan dari satu spesies ke spesies lain, dalam hal ini dari babi ke manusia. Selain itu, teknologi ini diprediksi bisa menjadi terobosan penting untuk mengatasi kelangkaan organ donor yang sangat kritis.
 
Chief Medical Officer UNOS, Dr. Andrew Klein, menjelaskan tantangan terbesar dalam dunia transplantasi adalah kekurangan pasokan organ. "Jadi apa pilihannya? Anda bisa menumbuhkan organ Anda sendiri, tapi saya pikir kita masih jauh dari solusi terapeutik itu. Pertanyaan berikutnya adalah: Bisakah kita menggunakan organ dari sumber lain selain manusia?" kata Klein.
 
Data menunjukkan lebih dari 100.000 orang Amerika saat ini sedang menunggu transplantasi organ yang dapat menyelamatkan hidup mereka. Permintaan jauh melampaui pasokan dan ribuan orang meninggal setiap tahun sebelum mendapatkan organ donor. Para peneliti kini memfokuskan upaya mereka untuk mengeksplorasi transplantasi organ babi sebagai solusi terhadap krisis kekurangan donor ini.
 
Food and Drug Administration (FDA) telah memberikan persetujuan kepada dua perusahaan untuk memulai uji klinis transplantasi organ hewan yang dimodifikasi secara genetik ke pasien dengan gagal ginjal. Peneliti senior UNOS, Jennifer Wainright, menyebu saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengeksplorasi persepsi publik terhadap terapi xenotransplantasi agar berbagai kekhawatiran dapat ditangani dengan tepat.
 
"Kita lebih dekat dari sebelumnya untuk menjadikan ini sebagai terapi yang layak, jadi penting untuk mengetahui apakah gagasan menerima organ yang dimodifikasi dari babi adalah sesuatu yang membuat orang merasa nyaman," kata Wainright.
 
Lantas, teknologi seperti apa yang melatarbelakangi Xenotransplantasi? Simak selengkapnya:
 

Teknologi di balik Xenotransplantasi

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa xenotransplantasi telah dilakukan menggunakan organ babi yang dimodifikasi secara genetik. Namun dalam semua kasus tersebut, transplantasi dilakukan berdasarkan penggunaan darurat dan belas kasihan, bukan sebagai terapi klinis yang disetujui.
 
Para peneliti berupaya mengatasi masalah penolakan transplantasi dengan menciptakan organ yang dapat ditoleransi tubuh manusia. Caranya dengan memasukkan beberapa gen manusia dan menghapus gen babi tertentu. Meski demikian, penerima organ babi yang telah direkayasa gen ini tetap memerlukan obat-obatan kuat untuk menekan sistem kekebalan tubuh selama dan lama setelah prosedur transplantasi.
 
Sebuah kasus baru-baru ini menunjukkan tantangan yang masih dihadapi. Seorang pria di New Hampshire menerima ginjal babi yang telah direkayasa gennya pada Januari 2025. Sembilan bulan kemudian, ginjal tersebut harus diangkat karena fungsinya menurun. Meskipun kesuksesan parsial ini memberi harapan kepada para ilmuwan. Hal ini menjadi pengingat akan penolakan tetap menjadi masalah utama dalam transplantasi organ antar spesies.
 
Klein menyebutkan pemahaman saat ini menunjukkan imunosupresi adalah setengah dari solusi. Ini melibatkan pemberian obat yang mengurangi kekuatan sistem kekebalan pasien agar tidak menyerang organ yang didonorkan. Bagian kedua dari teka-teki melibatkan modifikasi genetik pada organ hewan, yang bertujuan mencegah organ donor mengekspresikan molekul yang memicu respons kekebalan dan memasukkan gen manusia agar sel organ lebih menyerupai sel manusia.

Perdebatan etika di balik kebijakan

Kembali pada isu etika yang dibahas oleh Piotrowska, kekhawatiran yang memotivasi larangan NIH pada 2015 terhadap penyisipan sel punca manusia ke dalam embrio hewan bukan berasal dari kekhawatiran tentang kegagalan ilmiah, melainkan dari kebingungan moral.
 
Para pembuat kebijakan khawatir bahwa sel-sel manusia mungkin menyebar ke seluruh tubuh hewan, bahkan ke otaknya, sehingga mengaburkan batas antara manusia dan hewan. NIH memperingatkan kemungkinan terjadinya adanya perubahan kondisi kognitif hewan. Organisasi advokasi hewan, Animal Legal Defense Fund, bahkan berpendapat jika makhluk hasil kombinasi ini memperoleh kesadaran seperti manusia, mereka harus diperlakukan sebagai subjek penelitian manusia.
 
Kekhawatiran berpusat pada kemungkinan status moral hewan dapat berubah. Status moral yang lebih tinggi memerlukan perlakuan lebih baik karena datang dengan kerentanan terhadap bentuk bahaya yang lebih besar. NIH khawatir jika sel-sel manusia bermigrasi ke otak hewan, mereka mungkin memperkenalkan bentuk pengalaman dan penderitaan baru, sehingga meningkatkan status moralnya.

Logika yang keliru

Menurut Piotrowska, penalaran di balik larangan NIH adalah keliru. Ia menjelaskan apabila kapasitas kognitif tertentu seperti kesadaran diri memberikan status moral lebih tinggi, maka secara logis regulator seharusnya sama-sama prihatin tentang memasukkan sel lumba-lumba atau primata ke dalam babi seperti halnya mereka prihatin tentang memasukkan sel manusia.
 
Namun kenyataannya, mereka tidak menunjukkan kekhawatiran yang sama. Dalam praktiknya, lingkaran moral makhluk yang kepentingannya dianggap penting tidak ditarik berdasarkan kesadaran diri, melainkan berdasarkan keanggotaan spesies.
 
"Regulator melindungi semua manusia dari penelitian yang berbahaya karena mereka adalah manusia, bukan karena kapasitas kognitif spesifik mereka seperti kemampuan untuk merasakan sakit, menggunakan bahasa, atau terlibat dalam penalaran abstrak," jelas Piotrowska.
 
Piotrowska mengatakan kehadiran sel manusia saja tidak membuat babi menjadi manusia. Babi yang direkayasa untuk transplantasi ginjal sudah membawa gen manusia, namun mereka tidak disebut sebagai makhluk setengah manusia.
 
"Ketika seseorang mendonorkan ginjal, penerima tidak menjadi bagian dari keluarga donor. Namun kebijakan penelitian saat ini memperlakukan babi dengan ginjal manusia seolah-olah babi itu mungkin menjadi manusia," tutur dia.
 
Meski mungkin ada alasan yang baik untuk menolak penggunaan hewan sebagai pabrik organ hidup termasuk masalah kesejahteraan hewan, Piotrowska berpendapat alasan di balik larangan NIH didasarkan pada kesalahpahaman mengenai apa yang memberi makhluk hidup dan manusia khususnya kedudukan moral yang sebenarnya.
 
Nah, itulah perdebatan etika terkait transplantasi hewan babi ke manusia. Jadi, bagaimana menurut Sobat Medcom? (Bramcov Stivens Situmeang)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan