“Dumask ini kita buat dengan tujuan khusus untuk menyediakan jalur pembuangan masker dan sarung tangan bekas dari masyarakat umum yang aman dan ramah lingkungan," kata Chandra Wahyu Purnomo, di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) Universitas Gadjah Mada (UGM), dilansir dari laman UGM, Jumat 30 April 2021.
Sebagai peneliti utama dalam proyek Dumask, ia menjelaskan bahwa proyek Dumask didanai oleh Program Penelitian Kolaborasi Indonesia (PPKI), yang dimulai sejak Februari-Oktober 2021. Proyek ini dimulai dengan pengumpulan limbah masker dan sarung tangan menggunakan boks, serta pembuatan aplikasi untuk memantau dropbox dan alat pembakarnya.
Baca juga: Biaya Tes Swab PCR Padjadjaran di Bawah Rp900 Ribu
Dropbox ini bisa diletakkan di beberapa lokasi dan jika boks sudah penuh sampah akan memberikan notifikasi di aplikasi dan website. Selanjutnya, petugas akan datang dan mengambil boks tersebut dan sampah medis tersebut akan dihancurkan dengan pemanasan bersuhu tinggi atau yang lebih dikenal dengan metode pirolisis.
“Kebetulan UGM memiliki fasilitas Rumah Inovasi Daur Ulang (RINDU) yang berada di PIAT. RINDU ini menjadi pusat pengolahan dan pengembangan teknologi sampah dan limbah dan memiliki peralatan pemusnahan limbah teknologi termal yang memadai," ungkapnya.
Chandra mengungkapkan, reaktor pirolisis ini nantinya akan dikembangkan di universitas mitra lainnya. Program ini juga mendapat dukungan dari Universitas Airlangga, Universitas Ahmad Dahlan, Politeknik ATK, Universitas Janabadra, dan Universitas Proklamasi 45 yang kesemuanya tergabung dalam Indonesia Solid Waste Forum (ISWF).
Lebih detail, Chandra menjelaskan bahwa satu boks volume 30 liter mampu menampung sekitar 500 masker/sarung tangan bekas. Setelah boks penuh maka akan disegel dan dihancurkan dengan teknologi termal yaitu pirolisis dan incinerator.
“Untuk teknologi yang kini masih memakai pemanas dari api kompor gas," jelasnya.
Bahan untuk membuat Dumask adalah boks karton dan tempat stainles steel karenanya untuk kecepatan produksi sangat bergantung kecepatan perusahaan boks dan bengkel.
Biaya per boks karton karena masih skala kecil menghabiskan biaya Rp50 ribu. Harga ini tentu akan berbeda jika diproduksi secara massal dan harga akan jauh lebih murah.
“Kendala yang dihadapi saat ini adalah mencari industri pembuat boks karton yang custom kapasitas besar cukup sulit di Yogya. Kesulitan lain adalah mengajak masyarakat untuk membuang sampah, utamanya masker dan sarung tangan ke dropboks yang telah disediakan," paparnya.
Chandra pun berharap proyek Dumask bisa segera diadopsi oleh pemerintah daerah dan provinsi. Diharapkan dengan Dumask dapat menjadi kontribusi nyata dalam pengelolaan sampah medis selama pandemi covid-19.
Berdasarkan data yang dihimpun BBC, secara global menyebut penduduk dunia memakai 129 miliar masker dan 65 miliar sarung tangan plastik sekali pakai setiap bulannya selama pandemi covid-19. Bahkan, selama pandemi covid-19 membuat sampah masker dan sarung tangan menjadi gelombang baru setelah polusi plastik.
Limbah medis yang dibuang tidak sesuai aturan yang ada kerap menimbulkan masalah. Limbah medis yang berakhir di daratan maupun perairan berisiko membahayakan fauna maupun ekosistem yang ada.
“Sepanjang tahun 2020 sudah didapatkan banyak bukti di lapangan bila masker bekas mampu menjerat hewan-hewan seperti burung dan penyu yang berujung pada kematian," ujar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News