Pakar Perilaku Hewan IPB University, Supratikno, menjelaskan perilaku memutari individu lain pada ikan, burung, hingga mamalia merupakan bentuk efek tidak langsung dari komunikasi perilaku dan kimiawi antarsatwa.
“Pada kasus ikan yang terlihat lemah atau hampir mati lalu dikelilingi ikan-ikan kecil, yang sebenarnya terjadi adalah ikan tersebut mengeluarkan hormon stres atau substansi kimia lain. Zat ini terdeteksi oleh ikan di sekitarnya dan menarik mereka untuk mendekat,” papar Supratikno dalam keterangan tertulis, Selasa, 3 Februari 2026.
Ia mengatakan ikan-ikan yang mendekat bukan bermaksud menolong. Mereka ingin mengidentifikasi apakah ikan tersebut sudah mati atau belum.
"Ikan mati adalah sumber makanan karena di alam berlaku hukum yang sangat efisien di mana tidak ada sumber daya yang sia-sia,” kata dia.
Selain itu, jika ikan yang sedang lemah tadi adalah individu yang tadinya dominan, ikan lain akan mendekat untuk mengancam dan mengambil alih dominasi. Meski demikian, dalam kondisi tertentu ikan yang tadinya sedang lemah dapat kembali pulih.
Hal ini biasanya terjadi pada ikan yang kekurangan oksigen, bukan karena penyakit. “Gerakan memutar ikan lain menciptakan aliran air yang membantu suplai oksigen ke insang. Selain itu, gerakan memutar bisa jadi dianggap sebagai ancaman dari ikan lain," ujar Supratikno.
Secara naluriah, dengan adanya ancaman tadi, ikan yang tadinya lemah akan berusaha menghindari bahaya dan bergerak sehingga secara otomatis operkulum terbuka, insangnya kembali berfungsi untuk mengambil oksigen. Fenomena serupa juga terlihat pada kalkun yang memutari bangkai predator.
Supratikno mengatakan perilaku ini adalah insting kewaspadaan. Kalkun memastikan predator benar-benar sudah mati dan tidak hanya berpura-pura mati.
"Pada individu muda, aktivitas ini sekaligus menjadi proses belajar mengenali ciri-ciri predator,” kata dia.
Pada semut, perilaku memutari objek berkaitan dengan identifikasi kolektif. Semut memutari objek untuk memastikan apakah itu makanan, bangkai, atau ancaman.
"Mereka juga meninggalkan feromon sebagai penanda zona demarkasi untuk melokalisasi bahaya,” jelas dia.
Zona demarkasi ini akan mengunci objek yang dilingkari untuk tidak keluar atau sebaliknya supaya tidak ada individu dari kelompok lain yang masuk. Pada saat melakukan aktivitas berputar, semut juga akan mengeluarkan feromon untuk memanggil kawanannya.
Sementara itu, pada domba, perilaku memutar dipengaruhi struktur sosial. Sebagai hewan ruminansia sosial, domba mengikuti perilaku pemimpin kelompok.
"Gerakan memutar dilakukan untuk menilai potensi bahaya, merespons bau asing, sekaligus sebagai penanda wilayah,” ujar dia.
Supratikno menekankan seluruh perilaku tersebut berakar pada naluri bertahan hidup. Hewan sosial menggunakan perilaku kelompok untuk meningkatkan kekuatan, mengurangi stres, dan mengacaukan konsentrasi predator.
Dia juga meluruskan pandangan mistis yang kerap muncul yang sering dikaitkan dengan tingkah laku hewan. “Pada dasarnya, setiap hewan memiliki indra dengan sensitivitas berbeda yang kadang-kadang tidak mampu dirasakan oleh hewan lainnya,” tutur dia.
Selain itu, hukum efisiensi ekosistem bahwa tidak ada energi yang terbuang sia-sia. “Artinya, jika ada sumber daya yang akan mati, makhluk lain secara naluriah akan memanfaatkannya,”kata Supratikno.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News