Jakarta: 415 juta tahu lalu, apabila kamu berkeliaran di dataran banjir Bumi, tidak akan menemukan mamalia lain, selain kalajengking raksasa yang panjangnya lebih dari satu meter.
Penelitian fosil mendalam memastikan identitas Praearcturus gigas, yang kemungkinan merupakan kalajengking terbesar yang pernah diketahui dalam sejarah.
Fosil artropoda ini pertama kali ditemukan pada tahun 1870 di Inggris. Namun, sejak saat itu terjadi perdebatan mengenai jenis makhluk apa sebenarnya Praearcturus gigas.
Dengan bantuan berbagai teknik pencitraan canggih, para peneliti menyatakan perdebatan itu kini telah terjawab. Penelitian mengungkap ini adalah kalajengking berukuran sangat besar dan mengungkap lebih banyak tentang sejarah awal kehidupan di daratan, ketika bumi masih dipenuhi tanaman kecil dan jamur, serta ketika hewan-hewan pertama kali mulai keluar dari lautan.
"Praearcturus hidup ketika kehidupan di darat baru saja dimulai, dan nenek moyang reptil, mamalia, serta burung belum meninggalkan air," kata paleontolog dari Natural History Museum Inggris selaku penulis utama penelitian ini, Richie Howard, dikutip dari laman sciencealert.com, Kamis, 11 Juni 2026.
"Hal ini menunjukkan bahwa spesies ini mungkin tumbuh sangat besar karena belum ada predator besar lain, sehingga ia bisa mendominasi lingkungannya."
Analisis terbaru yang dilakukan melibatkan pelacakan kamera lucida baru, pemindaian tomografi komputer, serta perbandingan dengan sejumlah fosil lain dari berbagai situs di Inggris yang berasal dari periode Devonian Awal.
Fosil dari Kanada yang diteliti pada 2015 dan termasuk dalam spesies kalajengking purba Eramoscorpius juga dijadikan rujukan dalam penelitian ini. Perbandingan anatomi digunakan sebagai bukti bahwa P. gigas memang termasuk kalajengking.
Para peneliti memperkirakan capitnya sepanjang 16 sentimeter. Artinya, capit saja sudah lebih panjang dari tubuh keseluruhan banyak spesies kalajengking yang hidup saat ini.
Tim peneliti juga menemukan permukaan bergerigi pada tungkainya yang kemungkinan besar digunakan untuk menghasilkan suara, teknik yang dikenal sebagai stridulasi dan cocok dengan spesies kalajengking purba lainnya.
Makhluk ini tentu menjadi salah satu hewan paling menakutkan di atas permukaan air. Namun, para peneliti juga menemukan bukti bahwa kalajengking raksasa ini kemungkinan menghabiskan sebagian waktunya di dalam air.
"Tanpa ekosistem darat yang kompleks untuk menopang kehidupan Praearcturus, hewan-hewan ini mungkin menghabiskan sebagian hidupnya berburu di air," kata Howard.
"Beberapa fosil yang ditemukan di Wales menunjukkan bahwa mereka memiliki struktur menyerupai sirip yang disebut epimera, mirip dengan yang ditemukan pada lobster dan kepiting."
Kehidupan di darat tentu sangat berbeda bagi artropoda raksasa lain yang muncul belakangan, misalnya kelabang sebesar mobil dan capung seukuran burung pemangsa modern. Mereka akan memiliki hutan lebat untuk dijelajahi, serta jauh lebih banyak hewan darat untuk ditemui dan dimangsa.
Dengan meningkatnya persaingan memperebutkan mangsa, para peneliti memperkirakan P. gigas mungkin bertahan hingga 40 juta tahun setelah periode fosil-fosil ini berasal, sebelum akhirnya punah dari muka bumi.
Penelitian lebih lanjut dan analisis fosil diharapkan dapat melengkapi garis waktu tersebut di masa mendatang, setelah dipastikan bahwa P. gigas memang seekor kalajengking.
Temuan ini juga akan bermanfaat bagi para paleontolog yang mempelajari periode perpindahan hewan dari lautan ke daratan, yang batasnya masih sangat kabur, terutama pada kelompok artropoda.
Dengan memahami makhluk purba mana yang berjalan di darat dan kapan, kita dapat memperoleh gambaran yang lebih baik tentang bagaimana berbagai spesies berevolusi hingga kalajengking yang hidup di Bumi saat ini.
"Pohon keluarga terbaik kami berdasarkan urutan DNA menunjukkan bahwa kalajengking berkerabat dekat dengan arakhnida lain yang sama-sama memiliki paru-paru buku, seperti laba-laba," kata paleontolog dari Natural History Museum Inggris, Greg Edgecombe.
"Hal ini mengisyaratkan bahwa mereka merupakan keturunan dari nenek moyang yang bernapas dengan udara. Jika demikian, maka Praearcturus adalah contoh hewan yang kemungkinan kembali ke air setelah nenek moyangnya berpindah ke daratan."
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan