Kondisi langit di Jalan Mayjend Jonosewojo, Surabaya pada 15 Oktober 2026 pagi. DOK ITS/Threads@grc.philip
Kondisi langit di Jalan Mayjend Jonosewojo, Surabaya pada 15 Oktober 2026 pagi. DOK ITS/Threads@grc.philip

Bukan Sekadar Cuaca Panas, Ini Penyebab Udara Surabaya Sempat Tidak Sehat

Renatha Swasty • 16 Oktober 2026 16:34
Ringkasnya gini..
  • Kualitas udara di Kota Surabaya sempat masuk kategori Tidak Sehat akibat lonjakan konsentrasi partikulat PM2.5.
  • Pakar ITS menjelaskan pencemaran dipicu emisi kendaraan, industri, pembakaran terbuka, serta dinamika cuaca panas.
  • Pemerintah dan masyarakat diimbau berkolaborasi mengendalikan emisi guna mencegah risiko penyakit jantung hingga paru-paru.
Surabaya: Kondisi kualitas udara di Surabaya sempat berada dalam kategori tidak sehat dan perlu upaya pengendalian. Hasil pemantauan di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes menunjukkan konsentrasi partikulat meter ukuran 2,5 mikron (PM2.5) sempat berada dalam kategori Tidak Sehat, terutama pada rentang waktu pukul 06.00–09.00 WIB pada 15 Oktober 2026. 

“Hal ini menunjukkan adanya episode pencemaran yang perlu ditanggapi secara serius,” ujar dosen Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Arie Dipareza Syafei, dalam keterangan tertulis, Jumat, 16 Oktober 2026.

Arie menjelaskan kualitas udara dinilai melalui pengukuran konsentrasi polutan, seperti PM2.5, PM10, ozon, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan karbon monoksida (CO). Hasil pengukuran tersebut digunakan untuk menentukan kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagai informasi mengenai tingkat pencemaran dan risiko kesehatan.

Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021, baku mutu PM10 ditetapkan sebesar 75 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 40 µg/m³ untuk rata-rata tahunan. Sementara itu, baku mutu PM2.5 sebesar 55 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 15 µg/m³ untuk rata-rata tahunan. 

Arie menekankan hasil pengukuran harus disesuaikan dengan periode rata-ratanya. Kualitas udara yang memenuhi baku mutu tidak sepenuhnya bebas dari risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Dia menuturkan penurunan kualitas udara di Surabaya tidak semata-mata disebabkan oleh cuaca panas, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai sumber emisi. Sumber pencemar tersebut antara lain berasal dari kendaraan bermotor, aktivitas pembakaran industri, dan pembakaran terbuka. Selain itu, debu fugitif dari area terbuka juga dapat berkontribusi terhadap pencemaran udara.

Kepala Laboratorium Pengendalian Pencemaran Udara dan Perubahan Iklim ITS tersebut menegaskan cuaca panas bukan merupakan sumber langsung munculnya PM2.5, melainkan kondisi yang dapat memengaruhi dinamika polutan di udara. Arie menjelaskan intensitas sinar matahari yang tinggi dapat meningkatkan pembentukan ozon, sedangkan pemanasan permukaan turut memengaruhi proses pencampuran udara.
 
Dosen ITS Arie Dipareza Syafei
Dosen Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Arie Dipareza Syafei. DOK ITS


Alumnus program doktoral Hiroshima University, Jepang tersebut juga memaparkan wilayah dengan tingkat emisi kendaraan yang tinggi berpotensi mengalami peningkatan pencemaran udara. Terutama pada pagi hari ketika volume kendaraan di jalan mulai meningkat. 

“Peningkatan emisi pada pagi hari, ketika lapisan pencampuran udara masih relatif dangkal, dapat menyebabkan polutan lebih mudah terakumulasi di lapisan troposfer,” papar Arie. 

Penurunan kualitas udara dapat berdampak pada kesehatan masyarakat di Kota Surabaya. Dalam jangka pendek, paparan polusi udara dapat menyebabkan iritasi, batuk, sesak napas, hingga memperburuk asma. 

Sementara itu, paparan berulang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan paru-paru. Kondisi cuaca panas juga dapat menambah beban tubuh, termasuk meningkatkan risiko dehidrasi. 

“Kombinasi keduanya perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru,” ujar dia.

Arie menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mengendalikan pencemaran udara. Pemerintah diharapkan bisa memperkuat sistem peringatan kualitas udara, menindak praktik pembakaran terbuka, serta memeriksa sumber emisi tinggi. 

Sementara itu, masyarakat diimbau tidak lagi membakar sampah dan memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan. “Kita perlu bersama-sama mereduksi emisi,” pesan Arie. 
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan