Ilustrasi Banjir. Foto: MTVN: Khairunnisa Putri
Ilustrasi Banjir. Foto: MTVN: Khairunnisa Putri

Pakar ITB Ungkap Penyebab Banjir Bandang Sumatra, Tak Cuma Karena Curah Hujan Tinggi

Citra Larasati • 29 November 2025 17:31
Jakarta: Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatra Barat, dan sekitarnya sejak 24 November 2025 telah menewaskan 34 orang dan menyebabkan 52 warga hilang. Para pakar Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap penyebab di balik bencana yang menimbulkan kerugian masif ini.
 
Dilansir dari laman ITB, Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Dr. Muhammad Rais Abdillah, S.Si., M.Sc., menjelaskan, curah hujan pada periode tersebut tergolong sangat lebat. Berdasarkan data lapangan dan laporan media, sejumlah wilayah mencatat curah hujan lebih dari 150 milimeter. Bahkan terdapat stasiun BMKG yang mencatat curah hujan lebih dari 300 milimeter, yang dikategorikan sebagai curah hujan ekstrem.
 
Sebagai perbandingan, curah hujan ekstrem di Jakarta pada awal Januari 2020 yang menyebabkan banjir besar di Jabodetabek mencapai sekitar 370 milimeter dalam satu hari. Sedangkan, kondisi di Sumatera Utara pada akhir November 2025 kini memiliki karakteristik curah hujan yang mendekati peristiwa Jakarta 2020 tersebut.

Siklon Tropis Senyar Perkuat Intensitas Hujan

Lebih lanjut, Rais mengatakan fenomena atmosfer yang memperkuat hujan ekstrem ini memperlihatkan ciri khas adanya pusaran atau sirkulasi siklonik di sekitar wilayah Sumatera bagian utara.

"Pada 24 November sudah mulai terlihat adanya sistem yang berputar dari Semenanjung Malaysia. Dalam meteorologi, kita menyebutnya sebagai vortex, meskipun saat itu masih berupa bibit dan matanya belum terlihat jelas," kata Rais dilansir dari laman ITB, dikutip, Sabtu, 29 November 2025.
 
Fenomena itu kemudian berkembang menjadi sistem Siklon Tropis Senyar yang terbentuk di sekitar Selat Malaka dan bergerak ke arah barat. Meskipun tidak sekuat siklon di Samudra Hindia atau Pasifik, sistem ini cukup untuk meningkatkan pasokan uap air, memperkuat pembentukan awan hujan, dan memperluas cakupan presipitasi di Sumatera bagian utara.

Degradasi Lahan Perburuk Dampak Banjir

Sementara itu, pakar geospasial ITB menganggap kerusakan lingkungan dan perubahan tutupan lahan menjadi faktor penting yang memperburuk dampak banjir. Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Dr. Heri Andreas, S.T., M.T., mengatakan banjir bukan hanya soal hujan, melainkan bagaimana air diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi.
 
"Saat presipitasi turun, sebagian air meresap ke dalam tanah (infiltrasi), sementara sisanya mengalir di permukaan sebagai runoff. Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah," katanya.
 
Ia menambahkan, kawasan dengan tutupan vegetasi alami seperti hutan dan rawa memiliki kemampuan serapan air jauh lebih tinggi ketimbang wilayah yang telah berubah fungsi menjadi permukiman atau perkebunan. Saat kawasan tersebut mengalami degradasi, kemampuan infiltrasinya akan menurun drastis dan menyebabkan peningkatan runoff yang jauh lebih besar.
 
“Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir,” tuturnya.
 
Baginya, penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial sangat penting untuk mitigasi jangka panjang. “Peta bahaya dan risiko banjir yang kita miliki saat ini belum optimal, karena masih terbatas oleh data geospasial yang akurat dan pemodelan yang komprehensif,” jelasnya.
 
Sedangkan, Rais menekankan pentingnya sistem peringatan dini yang tidak hanya akurat secara ilmiah, melainkan komunikatif dan mudah dipahami masyarakat. Prediksi cuaca dan potensi bencana harus dapat diterjemahkan menjadi informasi praktis yang menjawab kebutuhan warga, seperti kapan, area yang berpotensi terkena banjir dan langkah antisipasi yang perlu dilakukan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga ilmiah, dan perguruan tinggi seperti ITB, mitigasi banjir ke depan diharapkan dapat menyatukan sains atmosfer, pemodelan geospasial, tata kelola lingkungan, serta komunikasi kebencanaan yang lebih adaptif dan berbasis data untuk menciptakan masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana. (Bramcov Stivens Situmeang)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan