Jakarta: Kemunculan dugaan kasus hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius menyebabkan penumpang kapal pesiar mengalami gangguan pernapasan berat selama pelayaran lintas negara. Isu kesehatan ini menjadi sorotan global, sebab risiko penyakit zoonosis ini berpotensi meningkat di tengah meningkatnya mobilitas manusia.
Kasus hantavirus pun mendapat sorotan dari sejumlah pakar dan akademisi di Tanah Air, tak terkecuali dari Universitas Airlangga. Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Laura Navika Yamani SSi MSi PhD, menjelaskan kasus hantavirus umumnya tidak muncul secara tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar.
Ia menilai, kondisi tersebut lebih mengarah pada kemungkinan paparan awal sebelum perjalanan atau saat individu berada di wilayah dengan reservoir hewan pengerat.
“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, mobilitas lintasnegara dalam perjalanan laut berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus tanpa menunjukkan lokasi infeksi awal secara langsung.
Pola Penularan dan Faktor Lingkungan
Kondisi ini membuat aktivitas di lingkungan dengan populasi hewan pengerat tinggi berisiko meningkatkan infeksi.
Ia menekankan bahwa sebagian besar hantavirus tidak menunjukkan transmisi antarmanusia. Namun, beberapa strain tertentu seperti Andes virus memiliki kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia.
Oleh karena itu, ia menilai investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap menjadi langkah penting untuk memastikan pola penularan yang terjadi. Selain itu, perubahan lingkungan seperti perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan juga ikut memengaruhi distribusi reservoir penyakit.
“Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” ujarnya.
Gejala Awal dan Upaya Mitigasi
Kemudian berlanjut ke Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok. Pada fase ini, pasien membutuhkan penanganan kesehatan intensif.
Ia menambahkan, bentuk berat infeksi hantavirus, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi. “Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30 - 50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” jelasnya.
Laura menegaskan pentingnya deteksi awal dan penguatan sistem surveilans kesehatan, termasuk surveilans genomik, untuk memahami pola penyebaran virus. Ia juga mendorong penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) UNAIR itu juga menekankan, penguatan sanitasi, pemantauan gejala, serta komunikasi risiko yang efektif menjadi kunci dalam mencegah penyebaran. “Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa di masa depan,”
pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di