Arsitek Baskoro Tedjo. DOK ITB
Arsitek Baskoro Tedjo. DOK ITB

Mengenal Baskoro Tedjo Arsitek Global di Balik Selasar Sunaryo dan Perpustakaan Bung Karno

Pendidikan Karya Seni Arsitektur Unik ITB arsitektur
Renatha Swasty • 26 April 2022 20:08
Jakarta: Baskoro Tedjo adalah seorang arsitek tersohor lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan segudang karya, baik di Indonesia maupun mancanegara. Baskoro juga menulis beberapa buku desain dengan judul-judul ternama yang banyak menjadi inspirasi dari arsitek di Indonesia.
 
Dosen Program Studi Arsitektur ITB itu menceritakan pejalannya menjadi seorang arsitek global. Hal itu disampaikan dalam webinar The Path to be the Next Global Architect yang diadakan Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB.
 
Baskoro Tedjo lahir di Semarang pada 1956 dari ayah seorang jurnalis. Baskoro semasa muda suka terlibat dalam seni dengan memainkan peran pada penampilan drama maupun melantunkan lagu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kedua hal itu menghantarkan sebuah paralel, penyampaian pesan dari seorang jurnalis dengan cara tersurat dan dari seorang seniman dengan cara tersirat.
 
“Seorang arsitek selain menceritakan ide melalui desain fisik bangunan, juga menuliskan ide lewat laporan desain bangunan,” kata Baskoro dikutip dari laman itb.ac.id, Selasa, 26 April 2022.
 
Setelah lulus dari ITB pada 1982, Baskoro meneruskan karier dengan menjadi pengajar di institusi yang sama. Baskoro kemudian melanjutkan pendidikan di The City University of New York di bidang Environment and Behaviour.
 
Berbeda dengan pendekatan luas yang ia pelajari kala berkuliah S1 di ITB, studinya kali ini mengajarkan pendekatan yang spesifik dalam melakukan suatu proses desain. “Kuliah saya di S2 ini mengajarkan cara mendesain dengan fokus pada kacamata perilaku manusia dan lingkungannya,” ucap Baskoro.
 
Mengenal Baskoro Tedjo Arsitek Global di Balik Selasar Sunaryo dan Perpustakaan Bung Karno
Desain rumah buatan Baskoro Tedjo. DOK ITB
 
Setelah meraih gelar Master of Science dan kembali ke Tanah Air, Baskoro diangkat sebagai dosen di Program Studi Arsitektur ITB. Pada 1994, Baskoro dan Sunaryo, seorang pelukis dan pematung tersohor di Indonesia, bekerja sama mendesain Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Proyek yang selesai dibangun pada 1998 ini berhasil meraih penghargaan IAI Awards 2002.
 
“Proyek saya yang pertama kali, Selasar Sunaryo mengubah jalan karier saya,” beber dia.
 
Baskoro kembali mengejar pendidikan di Department of Architecture, Osaka Univsersity Jepang. “Saya belajar dari banyak arsitek hebat tentang desain compact-living dan gaya arsitektural Jepang," kata Baskoro.
 
Setelah lulus pada 1999, ia lantas memutuskan bergabung di beberapa asosiasi arsitek, seperti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Arsitek Muda Indonesia (AMI). Dia juga mendirikan sebuah firma desain yang dinamakan Baskoro Tedjo & Associates.
 
Baskoro banyak membawa karyanya mengikuti pameran-pameran hingga ke mancanegara, salah satunya adalah di Hague, Belanda, pada 23 April 1999. Melalui firma yang dibuatnya, Baskoro juga banyak mengikuti sayembara desain bangunan. Tak lama setelah itu, dia berhasil memenangkan sayembara desain Perpustakaan Bung Karno.
 
“Kedua proyek inilah yang membuat nama saya lantas dikenal di dunia perarsitekturan di Indonesia,” ucap Baskoro.
 
Akibat namanya yang sedang naik daun, Baskoro Tedjo & Associates banyak mendapatkan permintaan desain. Menggunakan gaya compact-living atau rumah minimalis yang ia dapatkan kala berkuliah di Jepang, desain rumah yang ia rancang berhasil meraih perhatian nasional. Banyak dari karyanya yang berhasil menjadi sorotan di majalah-majalah arsitektur dan menciptakan tren tersendiri.
 
Baskoro dan firma kembali memenangkan banyak sayembara bergengsi, seperti Stasiun Monorail Jakarta, Campus Center ITB, Kalla Tower di Makasar, Rumah WWF di Jakarta, dan yang terakhir Indonesian Cultural Center di Dilli, Timor Leste. Buku pertama beliau “Baskoro Tedjo – Extending Sensibilities Through Design” yang berisi koleksi karyanya sejak diluncurkan pada 2012.
 
Pada 2021, dia meluncurkan buku keduanya “Baskoro Tedjo – Berbagi” yang berisi kumpulan karya dan cerita perjalanannya sejak 2012.
 
Baca: Heri Dono Hadirkan Satire lewat Sentuhan Budaya
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif