Menristekdikti, Mohamad Nasir, Medcom.id/Citra Larasati.
Menristekdikti, Mohamad Nasir, Medcom.id/Citra Larasati.

Mahasiswa S2 dan S3 Diminta Ikut Dongkrak Publikasi Ilmiah

Pendidikan Pendidikan Tinggi Publikasi Ilmiah
Intan Yunelia • 28 Januari 2019 16:34
Jakarta:Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir ke depan akan mendorong mahasiswa program magister (S2), dan doktoral (S3) untuk ikut meningkatkan jumlah publikasi ilmiah di jurnal-jurnal ilmiah yang terakreditasi internasional. Hal itu guna mengoptimalisasi potensi publikasi ilmiah Indonesia yang saat ini tengah mengejar ketertinggalannya.
 
"Kalau kemarin baru guru besar dan dosennya saja yang saya wajibkan. Nanti ke depan para mahasiswa S2 dan S3 akan kita dorong juga," kata Nasir usai acara Penyerahan Anugerah Jurnalis dan Media Kemenristekdikti 2018. Penyerahan tersebut dirangkaikan dengan Acara Bedah Kinerja 2018, Fokus Kinerja 2019, di Gedung D Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin, 28 Januari 2019.
 
Mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini menilai, minimnya jumlah publikasi ilmiah, karena mahasiswa tidak diajarkan menulis publikasi ilmiah yang baik. Padahal mereka potensial menghasilkan riset-riset yang bisa dipublikasikan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita punya jutaan mahasiswa, yang doktor kita punya ribuan. Master pun ribuan. Ini berarti potensiyatapi masih belum dioptimalkan," ujar Nasir.
 
Baca:Medcom.id Kembali Raih Penghargaan dari Kemenristekdikti
 
Targetnya, Indonesia bisa mengejar ketertinggalan jumlah publikasi ilmiah setidaknya dari negara tetangga Malaysia yang sekarang menduduki posisi pertama di kawasan Asia Tenggara. Perlahan, kini selisihnya bisa dikikis semakin menipis dari tahun ke tahun.
 
"Kita harus kita tingkatkan. Kualitas nanti nomor dua, kuantitas dulu. Kita sudah 30 ribu publikasi ilmiah, Malaysia 31ribu publikasi ilmiah. Tadi selisihnya jauh sekali. Ini tinggal seribukan," tuturnya.
 
Untuk diketahui, Kemenristekdikti mewajibkan dosen dan guru besar di perguruan tinggi untuk membuat publikasi ilmiah minimal satu dalam setahun. Keseriusan Kemenristekdikti dalam mendongkrak jumlah publikasi ilmiah dituangkan dalamPeraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor.
 
Permenristekdikti ini mengamanatkan bahwa publikasi ilmiah merupakan salah satu indikator untuk melakukan evaluasi terhadap pemberian tunjangan profesi Dosen dan tunjangan kehormatan Guru Besar.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi