penutupan prodi tidak bisa dilakukan tiba-tiba dan tidak mudah.
"Proses tersebut dilakukan melalui mekanisme yang ketat dan berlapis," kata Hartono dalam unggahan di akun Instagram @uns.official dikutip Senin, 4 Mei 2026.
Menurut dia, menutup prodi harus ada pengusulan, review, penilaian. Termasuk mendapatkan persetujuan oleh Senat Akademik dan Majelis Wali Amanan (MWA).
"Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tidak hanya aspek akademik namun juga terkait dengan potensi kesinambungannya," jelas dia.
| Baca juga: Bukan Ditutup, Mendiktisaintek Minta Prodi di-Update Agar Relevan dengan Zaman |
Hartono mengatakan kebutuhan industri bukan satu-satunya pertimbangan untuk membuka dan menutup prodi. Sebab, ada pertimbangan komprehensif.
"Ada pertimbangan lain di antaranya adalah pengembangan ilmu pengetahuan dan ciri khas (uniqueness) dari perguruan tinggi sesuai dengan visi yang telah ditetapkan," kata dia.
Dia menuturkan dalam beberapa tahun terakhir, UNS telah melakukan upgrading sejumlah prodi D3 menjadi D4 yang lebih spesifik dalam upaya untuk lebih mendekatkan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Selain itu, mendasarkan pada tren di dalam bidang yang relevan.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan program studi (prodi) di perguruan tinggi akan dikembangkan sesuai kebutuhan dan relevansi. Ia membantah isu penutupan prodi tidak relevan di masyarakat.
"Kemendikbudristek itu membuat supaya prodi ini meng-update secara berkala. Supaya ada relevansi antara apa yang diajarkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Brian di Jakarta, Rabu, 29 April 2026.
| Baca juga: Kemdiktisaintek Bakal Tutup Prodi Tak Relevan, Ini Kata Kepala BRIN |
Brian menegaskan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang juga akan menghasilkan industri baru. Dengan begitu, kampus bukan mengikuti kemampuan pasar, melainkan dapat menciptakan pasar.
"Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang itu kan juga menghasilkan industri-industri baru," tegas dia.
Dia menyebut industri maupun perkembangan iptek merupakan referensi setiap prodi agar prodi di kampus melakukan perbaikan. Brian mencontohkan dalam bidang teknik elektro saat ini industri memerlukan integrasi teknologi berbasis internet atau internet of things (IoT).
| Baca juga: Wacana Tutup Prodi, Pengamat Semprot Kemendiktisaintek: Jangan Jadikan Kampus Pabrik Buruh |
Karena itu, kampus mesti beradaptasi dan menjadi perhatian bagi pendidikan tinggi. Ia menyebut industri-industri baru seperti kecerdasan buatan (AI) juga harus menjadi referensi bagi perguruan tinggi agar program studi yang ditawarkan menjadi semakin relevan.
"Sehingga, (perkembangan) industri maupun perkembangan teknologi itu kemudian menjadi referensi bagi setiap program studi yang ada di Indonesia, untuk melakukan terus-menerus perbaikan Ini yang disebut sebagai continuous improvement," kata Brian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News