"Mereka IQ-nya tinggi, kapasitas dan potensialnya juga tinggi, tapi terkadang social skill-nya masih perlu dikembangkan lagi. Hal ini yang mau kami coba akomodasi." kata Chairman Mensa Indonesia, Satriadi Gunawan saat ditemui di Jakarta, Rabu 15 April 2026.
Menurutnya, Mensa Indonesia mengambil peran untuk membuka ruang interaksi anak-anak dengan IQ tinggi. Komunitas ini menjadi tempat berbagi bagi anak-anak maupun orang tua yang kerap kebingungan dalam menyamai perkembangan intelektual anaknya yang menyerap pengetahuan dengan sangat cepat.
Hadirnya Mensa menjadi solusi bagi banyak orang tua yang belum siap menghadapi anak dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Dalam kondisi tersebut, komunitas menjadi ruang penting untuk saling berbagi pengalaman dan solusi.
| Baca juga: Bocil Udah Siap Masuk TK Belum? Cek di Sini Panduan Usia & Kesiapannya |
"Kadang anaknya nanya hal-hal yang orang tua nggak siap jawab. Nah, di sini kita jadi wadah untuk sharing bersama bagi para orang tua dengan anak yang memiliki IQ tinggi,” lanjutnya.
Di sisi lain, Star Generation sebagai lembaga pengembangan anak, melihat setiap anak perlu penguatan soft skill. Hal ini menjadi bagian penting dalam pengembangan anak, terutama ketika menghadapi persaingan global.
Anak-anak yang memiliki potensi kuat, tidak hanya dipersiapkan kemampuan akademiknya. Tapi juga dirancang kemampuan sosialnya.
"Kemampuan komunikasi dan interaksi itu juga penting. Karena itu kami buatkan program untuk membantu di sisi sosialnya, social skills, communication skills,” ujar CEO dan Founder Star Generation, Raynald Gozali.
Salah satu program yang disiapkan adalah Model United Nations (MUN) yang mensimulasikan forum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Program ini dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan komunikasi terstruktur.
| Baca juga: Pemerataan PAUD hingga ke Desa Penting untuk Bangun SDM Berkualitas |
“Model United Nations itu simulasi debat PBB, jadi melatih public speaking, research, dan bagaimana membuat argumen yang terstruktur,” jelas Raynald.
Selain itu, anak-anak juga didorong mengikuti kompetisi internasional seperti World Scholar’s Cup. Kegiatan ini diharapkan memperkuat kepercayaan diri sekaligus membuka wawasan global.
“World Scholar’s Cup itu lomba debat yang biasa diadakan di luar negeri, bahkan sampai ke Yale di Amerika,” tambahnya.
Kolaborasi kedua pihak dinilai saling melengkapi dalam membangun ekosistem pengembangan anak. Mensa Indonesia menyediakan komunitas dan jaringan, sementara Star Generation menghadirkan program konkret.
“Yang utama mungkin lebih ke bagian sosial juga, jadi kita mau rangkai program bersama untuk member Mensa Kids dan Star Generation,” sambung Satriadi.
Dengan pendekatan tersebut, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu berinteraksi dan berkontribusi di masyarakat. Penguatan aspek sosial dinilai menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan global ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News