"PCR yang kami kembangkan ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan terhadap reagen dari luar. Tidak hanya alatnya, kalau alatnya saya kira itu hal biasa, yang penting substansinya," kata Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro melalui konferensi video di Jakarta, Kamis, 23 April 2020.
Bambang menuturkan pengembangan reagen PCR ini dilakukan oleh Konsorsium Inovasi dan Riset Covid-19. Bambang menyebut reagen PCR diburu hampir semua negara, makanya Indonesia harus bisa memproduksi sendiri.
"Masih tahap uji coba, berharap mendapatkan sertifikat dari Kemenkes (Kementerian Kesehatan) untuk nantinya bisa diproduksi dalam jumlah besar," ujarnya.
Baca: Indonesia Mencoba Memproduksi Reagen
Ia pun menegaskan reagen PCR buatan dalam negeri ini nantinya bukan untuk mengganti produk dari luar negeri. Tetapi, untuk mengurangi ketergantungan, apalagi reagen merupakan barang langka.
"Diburu semua negara, kami upayakan agar kalau mempunyai kemampuan membuat bisa mengurangi ketergantungan reagen impor,” ungkapnya.
Bambang berharap reagen PCR bisa mulai diproduksi pada Mei mendatang. Bila sesuai rencana, produksi reagen PCR akan berbarengan dengan produksi rapid test.
"Rapid test bisa diproduksi insyaallah bulan depan 100 ribu unit yang lokal, selain rapid test dari luar, yang PCR juga sudah mulai diproduksi, setelah mendapatkan izin dari Kemenkes," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News