Ilustrasi kucing. Pexels
Ilustrasi kucing. Pexels

Jangan Coba-Coba! Dosen Unair Bagikan Bahaya Konsumsi Daging Kucing

Renatha Swasty • 24 Oktober 2022 16:09
Jakarta: Kucing merupakan salah satu hewan domestikasi yang dipelihara manusia. Sebagai hewan kesayangan, kucing tak termasuk ke dalam hewan ternak konsumsi.
 
Mengonsumsi kucing merupakan tindakan keji yang berpotensi menjadi vektor zoonosis di tengah masyarakat. Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner SIKIA Universitas Airlangga (Unair) Prima Ayu Wibawati mengatakan konsumsi daging kucing sangatlah tidak etis.
 
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 menyebut ternak memanglah hewan peliharaan, namun diperuntukkan untuk pangan manusia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Dari UU itu, daging kucing bukan produk hewan yang masuk kriteria dikonsumsi manusia. Jadi, ini merupakan tindakan penyalahgunaan. Apa pun alasan (konsumsi) hanyalah dalih untuk menghalalkan dan membenarkan pendapat pengkonsumsi tersebut," tegas Prima dikutip dari laman unair.ac.id, Senin, 24 Oktober 2022.
 
Dia menyebut mengonsumsi daging kucing dapat memberikan dampak langsung bagi manusia. Terdapat kebijakan pemerintah terkait pemotongan hewan di Rumah Potong Hewan (RPH).
 
Hal ini berkaitan dengan perlindungan konsumen, yaitu untuk memastikan konsumen mendapatkan produk yang  aman, sehat, dan utuh, serta halal (untuk hewan yang halal). Sehingga dapat memastikan hewan tersebut memang layak potong.
 
Prima menyebut tidak ada standarisasi pemotongan kucing hingga pemakaiannya. Sehingga, tidak ada jaminan keamanan untuk dikonsumsi manusia.
 
“Sudah jelas jaminan keamanannya tidak ada. Mulai dari penangkapan, transportasi ternak, hingga bagaimana cara penyembelihannya, kita enggak tahu. Mungkin saja kucing membawa bibit penyakit,” tutur dia.
 
Dia menyebut potensi zoonosis terpampang nyata dari kegiatan konsumsi daging kucing karena tidak memiliki standarisasi jaminan keamanan pangan. Berbagai penyakit meat borne disease, seperti Tuberculosis, Brucellosis, Salmonellosis, Botulism, Staphylococcal Meat Intoxication, Taeniasis, Trichinosis hingga Clostridiosis berpotensi menginfeksi pengkonsumsi daging kucing. Bahkan, infeksi rabies dapat menyerang.
 
“Dikhawatirkan, berbagai penyakit dari meat borne disease berpotensi menginfeksi orang yang makan. Selain itu, kucing merupakan reservoir rabies, jadi apabila memang memiliki virus rabies. Maka juga potensi zoonosisnya juga sangat tinggi,” tutur dia.
 
Prima menegaskan kucing peruntukannya sebagai hewan peliharaan non konsumsi. Asal usul kucing juga menjadi pertanyaan vital yang harus diperhatikan.
 
“Bisa dibayangkan, sebenarnya kucingnya didapat dari mana? Bisa juga kucing peliharaan yang dicuri. Tindakan pemotongan juga pasti tidak berperikehewanan, karena memang bukan produk pangan yang ada standar pemotongannya,” kata dia.
 
Prima menyebut banyak organisasi mengecam tindakan konsumsi daging kucing. Namun, kecaman itu juga harus dibarengi dengan upaya edukasi masyarakat dengan menyesuaikan psikologis target.
 
Dia mengatakan perlu ada pendekatan agama, kesehatan masyarakat veteriner, potensi penyakit, hingga legislasi untuk dapat menekan angka konsumsi daging kucing di tengah masyarakat.
 
“Jika muslim dapat ditekankan keharamannya, apabila non muslim bisa disosialisasikan mengenai penyakit yang bisa ditularkan dan sisi kesayangan terhadap hewan,” papar dia.
 
Selain itu, daerah tertentu yang memiliki tradisi konsumsi daging kucing memerlukan perhatian psikologis bagi anak usia dini. Sehingga, dapat memutus rantai konsumsi secara perlahan dari jenjang usia muda.
 
“Cara edukasi bagi daerah yang ada adat tradisi lebih susah lagi, tapi kita bisa menggunakan cara yang memberikan dampak psikologis bagi anak terkait pemotongan kucingnya. Pendekatannya kucing kan harus disayang, jadi enggak boleh dibunuh dan dimakan,” kata dia.
 
Baca juga: Mengenal Zoonosis: Penyakit yang Ditularkan Hewan Penyebab Cacar Monyet Hingga AIDS

 
(REN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif