Kelvin tumbuh dengan cara sama. Anak buruh serabutan dari Desa Ngletih Timur, Kabupaten Kediri, Jawa Timur itu nyaris putus sekolah, sebelum sebuah sekolah gratis memberinya tanah untuk berakar.
Nama sekolah itu SMA Dharma Wanita 1 Pare. Dan dari sana, Kelvin tumbuh menembus pendidikan tinggi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Kelvin, ayahnya lulusan sekolah dasar. Bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tak pernah bisa diramalkan dari hari ke hari.
Ibunya lulusan SMP. Ibu rumah tangga yang setiap pagi pergi ke rumah tetangga menjadi buruh cuci pakaian, momong bayi, mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan.
Dari rumah itu, dengan pohon sengon di halamannya, berjarak 28,9 kilometer ke SMA Dharma Wanita 1 Pare api kecil mulai berpendar. Jarak yang jauh bagi mimpi anak keluarga miskin.
Harapan di dahan Pohon Sengon
Kelvin adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya, yang ia kagumi sejak kecil, sudah lebih dulu membuka jalan-meraih beasiswa, berprestasi di SMK. Tapi kemudian berhenti. Menikah muda, menyesal, dan pada suatu malam mengajak Kelvin bicara empat mata."Dek, kakak belum bisa membahagiakan Emak Bapak. Tolong kamu, sebagai adikku, bahagiakan mereka. Gak usah pacaran dulu. Empet, diempet sepuluh, lima belas tahun. S1 lulus, S2 lulus, S3 lulus. Tapi kakak titip Emak Bapak tolong dibahagiakan," ujar Kelvin memulai ceritanya di SMA Dharma Wanita 1 Pare, Sabtu 13 Juni 2026.
Kalimat itu menancap. Dan Kelvin menyimpannya dalam-dalam.
Ketika duduk di kelas 9 SMP, Kelvin berdiri di tepi sebuah persimpangan kehidupan. Di satu sisi, ada kenyataan: biaya pendaftaran SMK Plosokaten saja sudah lima juta rupiah, belum seragam, belum lain-lain. Di sisi lain, ada keinginan yang belum memiliki nama.
"Saya kalkulasi. Tidak mungkin," kenangnya.
Maka ia membayangkan simpang ketiga: tidak ke mana-mana. Putus sekolah tampak seperti pilihan yang paling masuk akal. Bukan karena ia menyerah, tapi karena ia tidak melihat pintu lain yang terbuka.
| Baca juga: Pendaftaran Sekolah Swasta Gratis Jakarta 2026 Dibuka! Ini 103 Pilihannya |
Namun, pintu itu datang dua hari sebelum pendaftaran SMA Dharma Wanita 1 Pare ditutup. Kepala sekolah SMP-nya, Bapak Masyhuri, menghubunginya.
"Ayo Kelvin, daftar di sini. Bagaimana caranya, saya akan bantu semua persyaratannya. Yang penting kamu berani coba dulu," kenang Kelvin meniru ucapan Masyhuri.
Kelvin mendaftar. Tanpa memberitahu orang tuanya terlebih dahulu. Karena ia tahu, di rumah itu, kalau tak ada biaya, jawabannya sudah niscaya.
Di sinilah SMA Dharma Wanita 1 Pare memainkan perannya yang pertama: menjadi satu-satunya pintu yang berani terbuka untuk anak-anak seperti Kelvin.
Sekolah berasrama yang digagas Pemerintah Kabupaten Kediri ini memang dirancang khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin di 26 kecamatan Kabupaten Kediri. Sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak yang masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) pada desil satu hingga enam.
Kelvin bisa sekolah gratis sepenuhnya. Biaya pendidikan, makan, tempat tinggal, bahkan uang saku Rp200 ribu per bulan dan tabungan ketika lulus dijamin.
Pada Juli 2023, pengumuman itu datang. "Senang sekali yang awalnya hampir putus sekolah karena latar belakang ekonomi, harapan muncul lagi," kata Kelvin pelan.
Tapi setelah diterima menjadi siswa, bukan berarti hari-hari akan menjadi mudah. Tiga bulan pertama, Kelvin hampir menyerah. Bukan karena pelajarannya berat. Tapi karena hidupnya tiba-tiba punya jadwal padat ala sekolah berasrama.
Dari bangun jam empat pagi, salat subuh berjamaah, cuci baju, kelas dari jam tujuh sampai setengah empat sore. Ragam prosesi layaknya upacara militer, hingga belajar malam dan lampu-lampu dimatikan pukul 21.30.
"Kenapa makan harus upacara? Makan tinggal makan aja kenapa sih?" keluh dia.
Ia tak berani protes langsung. Hanya menggerutu bersama teman-teman, pelan-pelan, di sudut yang jauh dari telinga guru.
Tapi setiap pagi, ketika rasa muak itu datang, Kelvin punya satu ritual kecil. Ia duduk, merenung, dan mengingat wajah orang tuanya di Ngletih Timur: Ayah yang pulang dengan tangan kosong, ibu yang pergi ke rumah tetangga sebelum matahari naik.
"Kalau saya nge-stuck di zona nyaman, percuma saya hidup 16 tahun. Orang tua saya di rumah menunggu kabar kesuksesan saya. Harapannya tinggal saya," kata dia.
Emosi kembali. Semangat kembali. Dan ia bangkit lagi. Seperti pohon sengon yang terus tumbuh menjulang mendombrak langit.
Di SMA Dharma Wanita 1 inilah Kelvin menemukan apa yang sebelumnya tak pernah ia punya. Keteraturan yang membentuk, bukan untuk membelenggu.
Di tempaan itu, ada seorang guru yang tak pernah berhenti percaya padanya. Siti Fatimah, Wakil Kepala Sekolah yang sekaligus guru biologi SMA Dharma Wanita 1 Pare.
Bu Siti, begitu ia dipanggil, adalah salah satu perempuan yang menjadi salah satu tulang punggung transformasi sekolah ini. Ketika SMA Dharma Wanita berubah dari sekolah reguler menjadi sekolah berasrama pada 2023, Siti ada di garis terdepan.
Siti mengawal para guru beradaptasi, mengikuti pelatihan intensif dari Putera Sampoerna Foundation (PSF). Transformasi ditekankan dengan metode pembelajaran yang disebut Project-Based Learning (PjBL).
| Baca juga: SPMB Jateng 2026, Sekolah Gunakan AI untuk Layani Siswa |
Siti tahu benar, Kelvin datang dengan ribuan semangat dan akan membawa banyak manfaat seperti pohon Sengon. Siti mendorongnya melahirkan inovasi Tepache: minuman probiotik fermentasi dari limbah kulit nanas, yang kemudian menjadi PjBL bagi para murid termasuk Kelvin. Tepache ini pula yang nantinya menjadi kartu truf Kelvin saat melamar ke ITS.
"Sekolahan ini sudah membantu saya sejauh ini. Ibaratnya, ini saatnya fight back," kata Kelvin bersemangat.
Tiket Emas dari ITS
Tiga tahun cerita di SMA Dharma Wanita 1 Pare. Kelvin pernah menjadi wakil ketua OSIS di tahun pertama, ketua OSIS di tahun kedua, ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas, anggota Forum Anak Kabupaten Kediri. Prestasi akademik menyusul. Kelvin turun dalam Olimpiade Sains Airlangga dalam ajang debat hukum dan masuk peringkat 114 besar nasional.Lalu, ITS membuka jalur penerimaan mahasiswa baru dengan skema golden ticket. Skema ini merupakan jalur prestasi untuk ketua OSIS, entrepreneur, atlet, dan konten kreator. Kelvin mendaftar. Tapi sebelum sampai ke sana, ia harus melewati dua kekalahan dulu.
Pertama di IPB. Lalu di Universitas Negeri Malang. Dua kali ditolak, dalam waktu berdekatan. Kelvin sempat berhenti. Menyerah sebentar.
Tapi Bu Siti tak membiarkan itu lama. Setiap hari Siti serta guru-guru Kelvin memberi dukungan. Setiap hari Kelvin didorong dan ditemani membuka peluang.
"Ayo cari terus. Eman-eman bakatmu. Jangan sampai berhenti di sini," kata Kelvin menirukan guru-gurunya.
"Saya melihat Bapak Ibu Guru sangat excited. Kok mereka yang semangat, masa saya yang enggak?" tanya Kelvin.
Dari sanalah ia bangkit untuk ketiga kalinya. Menulis esai tentang Tepache, inovasi dari sekolah kecil di Kabupaten Kediri yang terbang dalam balutan doa ke ITS.
Akhirnya, Pada 20 Januari 2026, Kelvin resmi dinyatakan lolos golden ticket. Kelvin diterima Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada jurusan Statistika Bisnis.
"Keberhasilan ini bukan milik saya sendiri. Ada orang-orang di baliknya. Guru-guru, Pemerintah Kabupaten Kediri, Mas Bupati yang menginisiasi program ini (sekolah gratis SMA Dharma Wanita 1), orang tua yang menunggu di rumah," ungkap dia.
Kelvin berjanji akan membawa karakter yang telah dipupuk selama tiga tahun di Dharma Wanita 1 ke ITS. Rencana sudah disusun: melanjutkan pengembangan Tepache di level yang lebih tinggi, dan suatu hari membawa nama SMA Dharma Wanita 1 Pare ke panggung nasional.
Di Ngletih Timur, pohon sengon itu masih berdiri. Sudah dipangkas berkali-kali. Kayunya sudah jadi atap. Tapi ia masih di sana, tumbuh ke atas.
Beberapa minggu lagi, Kelvin akan berangkat ke Surabaya. Meninggalkan Ngletih Timur, meninggalkan jarak 28,9 kilometer yang dulu terasa tak mungkin ditempuh, malah membawanya lebih jauh.
"Jadi saya akan mencari jawaban dari apa yang pernah saya dengar. Pendidikan akan mengubah segalanya. Saya masih belum menemukan apa maksudnya. Jawaban itu akan saya cari terus, akan saya cari lewat pendidikan yang lebih tinggi di ITS. Apa sih artinya kalimat itu," sebut dia.
Seperti pohon sengon yang butuh tanah yang baik untuk tumbuh: Pendidikan menjelma akar untuk pohon mimpi yang kuat, mimpi yang terus menjulang dengan dahan rimbun sejuta manfaat.
| Baca juga: Despi dan Cahaya Literasi di Lereng Pasir Buncir |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda