President University mengukuhkan Prof. Dr. Anton Wachidin Widjaja, S.E., M.M. sebagai Guru Besar, dan dua Guru Besar lainnya pada kesempatan terpisah, yakni Prof. Dr.-Ing. Erwin Parasian Sitompul, S.T., M.Sc. dan Prof. Jhanghiz Syahrivar, S.E., M.M., Ph.D.
Dalam sambutannya, Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Samsuri menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya pencapaian jabatan Guru Besar bagi seorang dosen. Ia menegaskan bahwa menjadi Guru Besar bukan hanya sebuah capaian personal, tetapi juga kontribusi strategis bagi institusi dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Ia menekankan pentingnya menjaga integritas akademik sebagai bagian dari mandat Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi. Hal ini mencakup komitmen untuk menjunjung tinggi kejujuran dalam publikasi ilmiah, tidak hanya dengan menghindari plagiasi, tetapi juga praktik fabrikasi dan falsifikasi data.
Selain itu, ia menegaskan bahwa peran dosen tidak hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa sebagai bagian dari tanggung jawab seorang pendidik profesional.\
Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Lukman menyampaikan apresiasi atas pengukuhan Guru Besar di President University (21/4). Ia menekankan, pencapaian ini merupakan bentuk pengakuan atas jabatan akademik tertinggi yang dapat diraih oleh seorang dosen.
“Kami sangat berbahagia dapat menyaksikan pengukuhan Guru Besar di President University. Ini merupakan bentuk pengakuan atas capaian akademik tertinggi dalam dunia pendidikan tinggi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa pencapaian tersebut bukanlah hal yang mudah. Dari sekitar 333.000 dosen di Indonesia, hanya sekitar 12.000 yang berhasil mencapai jabatan Guru Besar, atau sekitar 3 persen.
Selain itu, dari total 415 perguruan tinggi di wilayah Jawa Barat dan Banten, hanya 19 yang berstatus unggul dan President University termasuk di dalamnya. Salah satu indikator penting dalam pencapaian tersebut adalah keberadaan Guru Besar di lingkungan kampus.
Dalam acara pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Manajemen Stratejik, Anton yang juga mengemban tugas sebagai Dekan Fakultas Bisnis President University menyoroti pentingnya transformasi digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin didominasi oleh teknologi.
Ia menjelaskan bahwa meskipun digitalisasi menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan, banyak UMKM masih menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya literasi digital, keterbatasan infrastruktur, serta keterbatasan modal dalam mengadopsi teknologi.
Menurutnya, hal ini memerlukan kesiapan pelaku usaha untuk terus meningkatkan kemampuan, berani melakukan transformasi, serta mampu menciptakan nilai tambah bagi pelanggan melalui inovasi berbasis digital. Mengacu pada temuan Transparency International dan World Economic Forum (2024), integritas bisnis berperan penting dalam mendorong keberhasilan UMKM melalui peningkatan reputasi, pengurangan risiko, serta terciptanya keunggulan bersaing yang berkelanjutan.
“Keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada integritas dalam menjalankan bisnis. Praktik bisnis yang jujur, transparan, dan beretika menjadi kunci dalam membangun kepercayaan, baik dari pelanggan maupun mitra usaha,” tegas Anton.
Pemerintah tentunya memegang peranan kunci dalam hal ini, namun yang terjadi adalah apa yang diberikan pemerintah tidak sesuai dengan permasalahan dan pergumulan UMKM. Iwan Jaya Azis (2024) mengingatkan bahwa pengembangan UMKM yang efektif haruslah dimulai dari mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan dan pergumulan UMKM, kemudian menentukan dan merancang solusi yang tepat. Kebijakan dan dukungan terhadap UMKM tidak boleh dirancang dari atas ke bawah, melainkan berbasis pada realita yang dihadapi di lapangan.
Dalam orasinya sebagai Guru Besar Ilmu Manajemen Pemasaran dengan kepakaran Inovasi Pemasaran dan Etika Konsumen, Prof. Jhanghiz menegaskan, pemasaran merupakan jantung dari bisnis sekaligus esensi dari inovasi. Ia mengajak untuk melihat pemasaran tidak hanya sebagai fungsi manajerial untuk meningkatkan pendapatan, melainkan sebagai kekuatan yang memiliki dampak luas terhadap kehidupan sosial.
Menariknya, Jhanghiz merupakan alumni President University dari angkatan pertama, sekaligus menjadi alumni pertama President University yang berhasil meraih gelar Guru Besar. Pencapaian ini mencerminkan keberlanjutan kualitas pendidikan yang dibangun oleh President University sejak awal berdiri, serta kontribusi nyata alumni dalam dunia akademik.
Ia menyoroti bahwa kenyamanan dan kemudahan hidup yang dinikmati masyarakat modern sering kali tidak terlepas dari realitas yang dialami kelompok rentan. Dalam praktiknya, etika pemasaran kerap diabaikan dan belum menjadi perhatian utama dalam pengajaran maupun implementasi.
“Pemasaran bukan hanya alat ekonomi, tetapi kekuatan sosial yang dapat membentuk nilai dan realitas masyarakat. Ia bisa memperkuat, namun juga dapat merusaknya,” ungkapnya.
Melalui perspektif macromarketing, Jhanghiz menjelaskan pemasaran harus dipahami sebagai bagian dari sistem sosial yang lebih luas. Ia mengidentifikasi bahwa praktik pemasaran kerap mengalihkan tanggung jawab sosial kepada konsumen, misalnya dalam isu keberlanjutan, sementara permasalahan struktural dalam sistem produksi dan distribusi tidak mendapat perhatian yang memadai.
Sebagai penutup, Jhanghiz menyerukan pentingnya pendekatan kritis terhadap pemasaran melalui perspektif macromarketing. Ia menegaskan bahwa pemasaran harus dikaji tidak hanya dari sisi efektivitas bisnis, tetapi juga dari aspek etika, keadilan, dan dampak sosial, sehingga dapat berkontribusi secara nyata terhadap kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Sementara itu Prof. Dr.-Ing. Erwin Parasian Sitompul, S.T., M.Sc. - Profesor Rekayasa Otomasi Berbasis Kecerdasan Buatan menyoroti perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan, khususnya jaringan saraf tiruan (artificial neural network), yang mengalami lonjakan signifikan dalam dua dekade terakhir. Ia menjelaskan bahwa pada awal tahun 2000-an, model neural network masih relatif sederhana, dengan jumlah parameter terbatas dan dapat dijalankan menggunakan komputer pribadi dalam waktu pelatihan yang singkat.
Namun, dalam kurun waktu 25 tahun, teknologi tersebut telah berkembang secara drastis, baik dari segi kompleksitas maupun skalanya. Model neural network kini digunakan secara luas dalam berbagai bidang, seperti pemrosesan teks dan citra, dengan dukungan data dalam jumlah besar.
Perkembangan ini turut mengubah paradigma dalam rekayasa sistem otomasi, dari sistem yang bersifat kaku menjadi sistem yang mampu belajar dari data, beradaptasi, dan merespons perubahan lingkungan secara dinamis.
Di sisi lain, Erwin juga menyoroti dampak signifikan perkembangan AI terhadap dunia pendidikan tinggi. Akses informasi yang kini semakin terbuka, ditambah dengan kehadiran teknologi seperti ChatGPT, Gemini, dan Copilot, memungkinkan mahasiswa menyelesaikan tugas dengan lebih cepat.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya risiko berkurangnya pemahaman mendalam terhadap konsep dasar. “AI dapat menghitung, mengklasifikasi, bahkan memprediksi. Namun, AI tidak bertanggung jawab atas konsekuensi etis dan tidak memahami konteks sosial. Semua itu tetap menjadi peran manusia,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya penguasaan fundamental knowledge agar mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pengembang. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa transformasi digital dimaknai sebagai ruang untuk membentuk generasi yang mampu mengembangkan teknologi secara bertanggung jawab dan berpusat pada manusia.
Pendiri President University sekaligus CEO dari PT Jababeka Tbk., SD Darmono, menegaskan bahwa sejak awal didirikannya, President University dirancang untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap terjun ke dunia profesional. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan keterampilan praktis, termasuk pengalaman kerja, kemampuan berbahasa Inggris, serta kesiapan berinteraksi dalam lingkungan internasional.
“Kami ingin lulusan President University memiliki ilmu, keterampilan, pengalaman kerja, serta terbiasa bergaul dalam lingkungan global. Mereka harus nasionalis, tetapi tidak sempit, dan memiliki wawasan internasional agar mampu mendorong kemajuan Indonesia,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Ketua Yayasan President University, Budi Susilo Soepandji, menyoroti capaian institusi dalam melahirkan Guru Besar sebagai indikator penting kualitas akademik. Hingga saat ini, President University telah memiliki delapan Guru Besar, sebuah pencapaian yang tidak mudah di tengah ketatnya persyaratan akademik di Indonesia.
Ia menekankan bahwa keberadaan Guru Besar harus mampu memperkuat citra akademik kampus sekaligus mendorong pertumbuhan riset dan inovasi. “Kami berharap semakin banyak Guru Besar yang lahir dari President University, sehingga kualitas riset semakin berkembang dan President University dapat menjadi kebanggaan, bahkan menjadi ‘bunga’ yang tumbuh di kawasan Jababeka,” ungkapnya.
Sementara itu, Rektor President University, Handa Abidin menyoroti makna simbolis dari pengukuhan Guru Besar kali ini. Ia mengungkapkan bahwa salah satu profesor yang dikukuhkan, Prof. Jhanghiz, merupakan alumni President University dari angkatan pertama. “Sekitar 18 tahun yang lalu, beliau lulus dari President University. Hari ini, beliau diresmikan sebagai profesor di President University. Ini menunjukkan bahwa President University tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan akademisi dari alumninya sendiri,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa capaian tersebut menjadikannya sebagai profesor termuda di LLDIKTI Wilayah IV.
Menutup sambutannya, Rektor berharap kontribusi para Guru Besar dapat melampaui batas institusi. “Kami berharap keilmuan yang dimiliki tidak hanya berdampak bagi President University, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia, bahkan dunia,” ujarnya.
| Baca juga: Kemdiktisaintek Bakal Tutup Prodi Tak Relevan, Ini Kata Kepala BRIN |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News