Ilustrasi NTT. DOK Kemendikbud
Ilustrasi NTT. DOK Kemendikbud

Bukan Cuma Pulau Komodo, Ini 5 Budaya Khas di NTT

Renatha Swasty • 07 Juni 2022 14:12
Jakarta: Sobat Medcom pasti sudah sering mendengar kecantikan alam yang dimiliki Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satunya, Pulau Komodo
 
Namun, NTT tidak cuma memiliki alam yang cantik. Wilayah di Timur Indonesia ini mempunyai ragam kebudayaan yang tidak kalah menarik untuk ditelusuri. 
 
Berikut lima budaya khas dari NTT yang perlu diketahui dikutip dari ditsmp.kemendikbud.go.id:

1. Se’i, daging asap khas Rote

Pengasapan adalah salah satu teknik yang telah dilakukan oleh nenek moyang masyarakat NTT untuk mempertahankan kualitas daging sapi. Se’i adalah salah satu hasil olahan daging sapi dengan cara pengasapan yang merupakan hasil olahan khas dari salah satu kabupaten di wilayah Nusa Tenggara Timur, yaitu kabupaten Rote Ndao. 

Se’i  berasal dari bahasa daerah Rote, artinya daging yang disayat dalam ukuran kecil memanjang, lalu diasapi dengan bara api sampai matang. Se’i adalah makanan khas suku Rote yang kemudian merambah selera masyarakat NTT. 
 
Produk daging se’i memiliki keunikan dan spesifikasi. Baik aroma, warna yang merah, maupun tekstur yang empuk dan rasa yang lezat.

2. Aksara Lota

Tidak banyak yang mengetahui di kawasan NTT, khususnya Kabupaten Ende, Pulau Flores memiliki aksara asli daerah tersebut yang disebut dengan Lota. Pengguna terbesar aksara Lota di masa lalu yaitu masyarakat etnis Ende yang beragama Islam. 
 
Aksara Lota merupakan turunan langsung dari aksara Bugis. Sejarah mencatat, aksara Lota masuk ke Ende sekitar abad ke-16 semasa Pemerintahan Raja Goa XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabia bergelar Sultan Alaudin (1593-1639). 
 
Kata Lota berasal dari kata lontar. Terdapat 8 aksara Lota Ende yang tidak ada dalam aksara Bugis, yaitu bha, dha, fa, gha, mba, nda, ngga, dan rha. Sebaliknya, ada 6 aksara Bugis yang tidak terdapat dalam aksara Lota Ende, yaitu ca, ngka, mpa, nra, nyca, dan nya.

3. Kesenian Tari Bonet

Tari Bonet menjadi salah satu tarian yang selalu hadir dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat komunal yang berkaitan dengan adat istiadat dan tradisi Suku Dawan di NTT. Tari Bonet dikenal dengan ciri khas bentuk formasi melingkar dan penggunaan puisi atau pantun. 
 
Liriknya mengandung kekayaan khasanah sastra lisan Suku Dawan. Tarian ini nyaris selalu ada di setiap kegiatan maupun peristiwa adat masyarakat Dawan, seperti upacara kelahiran, pernikahan, kematian, serta pembangunan rumah, permohonan hujan, dan lain sebagainya. 
 
Secara etimologis kata Bonet berasal dari rangkaian kata dalam bahasa Dawan, yaitu Na Bonet yang artinya mengepung, mengurung, mengelilingi, atau melingkari. 

4. Upacara Bijalungu Hiu Paana

Bijalungu hiu paana adalah sebuah upacara adat yang diselenggarakan warga Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat, NTT. Upacara dilaksanakan setiap akhir Februari.  Tanggal pastinya ditentukan oleh Rato (pemimpin spiritual Marapu) dengan melihat tanda-tanda alam serta berdasarkan perhitungan bulan gelap dan bulan terang.
 
Bijal memiliki makna turun atau pergi. Sedangkan, Hiu Paana adalah nama sebuah hutan kecil. Jadi, bijalungu hiu paana berarti pergi ke hutan Hiu Paana. 
 
Dinamakan demikian karena puncak upacara yang berpusat di kampung Waigali ini memang dilaksanakan di hutan itu, tepatnya di sebuah gua kecil tak jauh dari kampung. Dalam upacara ini masyarakat melakukan tradisi ritual Kabena Kebbo (lempar kerbau) dan ritual Teung (potong kerbau).

5. Ritus Pasola

Pasola adalah upacara ritual masyarakat yang menganut kepercayaan Marapu di Sumba bagian barat untuk merayakan musim tanam padi. Pasola merupakan bentuk ritual untuk menghormati Marapu, mohon pengampunan, kemakmuran dan untuk hasil panen yang melimpah. 
 
Upacara ini biasanya diselenggarakan dalam bulan Februari di daerah Lamboya dan Kodi, dan pada bulan Maret di daerah Gaura dan Wanukaka. Perayaan puncak mulai 6-8 hari setelah bulan purnama. Saat itulah pantai bagian selatan menjadi tempat munculnya milyaran cacing nyale yang kecil-kecil. Pemandangan seperti ini menjadi tanda musim pasola dimulai.
 
Baca: Mollo, Festival Budaya Indonesia di Universitas Paris Nanterre
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan