Pakar lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prabang Setyono. DOK UNS
Pakar lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prabang Setyono. DOK UNS

Pakar UNS Ungkap Cara Cegah Peningkatan Limbah Pakaian dari Budaya Baju Baru Saat Lebaran

Pendidikan Ramah Lingkungan UNS Lebaran 2022
Renatha Swasty • 02 Mei 2022 11:10
Jakarta: Lebaran kerap menjadi momen berbondong-bondong membeli baju labaran. Namun, tradisi ini membawa ancaman bagi lingkungan.
 
Peningkatan pembelian pakaian tentu menghadirkan keuntungan besar bagi pedagang. Omzet yang didapatkan pedagang baju dapat meningkat hingga dua kali lipat. Sayangnya, hal itu justru berpotensi merugikan lingkungan.
 
Saat permintaan baju meningkat, unit produksi di hulu akan menggunakan sumber daya bahan baku yang lebih banyak. Hal itu akan mendatangkan ancaman yakni peningkatan produksi limbah tekstil.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, di bagian hilir atau unit penjualan akan mengalami limpahan baju bekas yang banyak. Baju-baju bekas tersebut membutuhkan perawatan ekstra untuk dapat dijual kembali.
 
Perawatan ekstra ini dapat berupa pencucian yang membutuhkan detergen yang cukup banyak. Ancaman-ancaman tersebut dapat meningkatkan produksi limbah fesyen di lingkungan.
 
Pakar lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prabang Setyono, menanggapi fenomena ini. Prabang menyebut budaya simbolik baju Lebaran memiliki makna positif. Namun, dalam praktiknya harus diimbangi dengan sikap bijak berpakaian.
 
“Budaya tersebut sebenarnya pemaknaan simboliknya bagus, hanya pemaknaan secara fisiknya tidak harus dengan baju baru tapi baju yang bagus yang sudah tersimpan lama tapi belum dipakai atau jarang dipakai saja,” ujar Prabang dikutip dari laman uns.ac.id, Senin, 2 Mei 2022.
 
Prabang memberikan beberapa solusi yang dapat dilakukan masyarakat bila sudah terlanjur membeli baju baru. Guru besar bidang ilmu pencemaran lingkungan ini menyarankan masyarakat menggunakan sistem sirkuler baju layak pakai.
 
Sistem ini berupa penyaluran baju-baju yang dianggap sudah kekecilan atau tidak tren tapi masih bisa dipakai kepada masyarakat yang membutuhkan. Alih-alih membuang, sistem sirkuler penyaluran ini tidak akan menimbulkan limbah bahan tekstil dari baju tersebut.
 
“Bagi yang sudah membeli pakaian maka baju yang dianggap sudah tidak tren atau sudah tidak dipakai harus disalurkan ke suatu unit usaha atau tempat penampungan baju layak pakai untuk didistribusikan ke masyarakat pengguna lain agar penggunaannya berkelanjutan atau sustainable,” kata Kepala Program Studi S1 Ilmu Lingkungan UNS ini.
 
Sementara itu, baju-baju yang sudah tidak layak pakai dan harus menjadi sampah dapat diberlakukan sistem sirkuler ekonomi. Baju-baju tersebut dapat dijual kepada produsen dengan produk yang memanfaatkan limbah baju.
 
Potongan-potongan baju dapat diubah menjadi bahan fillet atau pengisi properti rumah tangga, seperti kursi sofa dan bantalan.
 
Prabang menuturkan sesuai dengan lagu anak-anak “Baju Baru” di era 90-an, Lebaran tidak harus dirayakan dengan baju baru. Tetapi, kesucian hati menyambut kemenangan hakiki.
 
Baju baru Alhamdulillah
'Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama.

 
Baca: Observatorium Bosscha Ungkap Cara Pengamatan Hilal Penentuan 1 Syawal 1443 H
 
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif