Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy - Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy - Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.

Mendikbud Sebut Ada Salah Kaprah Membaca Hasil PISA Indonesia

Pendidikan kemampuan literasi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 08 Juli 2019 15:34
Jakarta: Peringkat dan capaian nilai Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia pada 2015 berada di peringkat 64 dari 72 negara. Banyak nada sumbang menanggapi peringkat Indonesia yang mendekati posisi buncit.
 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengaku prihatin dengan komentar miring itu. Dia mengklaim selama ini orang salah melihat hasil PISA Indonesia dan membandingkannya dengan negara tetangga seperti Singapura dan Vietnam.
 
"Orang Indonesia yang awam hanya itu saja yang dilihat, kita kalah dengan Singapura. Tidak tahu bahwa di Singapura jumlah siswa tidak sampai 2 juta sementara kita punya 51 juta siswa. Dia tidak peduli bahwa Singapura punya 5 juta penduduk, kita 260 juta penduduk," kata Muhadjir dalam sambutnya di Seminar on PISA "Assessing 21th Century Life Skills", di Gedung Kemendikbud, Jakarta Pusat, Senin, 8 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Muhadjir menambahkan Singapura merupakan negara kota. Sedangkan Indonesia negara kepulauan.
 
"Kemudian perbedaan kapasitasnya juga luar biasa antara baik itu secara spasial maupun struktural. Spasial itu karena wilayah, struktural itu karena kebijakan," ujarnya.
 
Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu mengakui posisi Indonesia memang masih berada di bawah. Namun, dia meminta masyarakat tetap optimistis terhadap masa depan pendidikan Indonesia.
 
(Baca juga:PGRI: Ada Proses yang Salah di Dalam Kelas)
 
"Pada satu sisi Presiden selalu meminta kita optimistis menatap masa depan. Tetapi pihak produsen konten berkaitan dengan PISA itu selalu menegatifkan nada pesimis terhadap skor yang kita capai. Tentu saja kita tidak bisa menyalahkan media bahkan pejabat. Karena memang kenyataannya seperti itu," imbuh dia.
 
Muhadjir mengatakan untuk menetapkan pendidikan di Indonesia bertsandar internasional diperlukan lembaga yang melakukan standarisasi. PISA yang merupakan program dari OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development’s)dipilih untuk melakukan standarisasi.
 
Sebenarnya, bisa saja Indonesia mengabaikan standar internasional, tetapi itu akan menjadi risiko. Indonesia tidak akan tahu posisi pendidikan dalam pergaulan internasional.
 
Untuk itu, Muhadjir sudah meminta Director for the Directorate of Education and Skills PISA Andreas Schleicher untuk melakukan perbedaan dalam cakupan sampel maupun pendekatan pengambilan kesimpulan kualitas hasil tes.
 
"Dulu waktu saya bertemu dengan beliau (Andreas Schleicher) di Paris, pernah saya sampaikan beberapa hal tentang misalnya sample coverage. Kemudian harus ada perbedaan pendekatan membuat kesimpulan terhadap kualitas hasil dari tes PISA antara negara-negara yang populasi siswanya kecil dibanding Indonesia yang besar," kata Muhadjir.

 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif