Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aksi Lembaga Dakwah Kampus se-Indonesia berunjuk rasa di Bundaran HI,Jakarta, MI/Rommy Pujianto.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aksi Lembaga Dakwah Kampus se-Indonesia berunjuk rasa di Bundaran HI,Jakarta, MI/Rommy Pujianto.

Lembaga Dakwah Kampus Pintu Masuk Islam Eksklusif Transnasional

Pendidikan Pendidikan Tinggi Radikalisme di Kampus
Intan Yunelia • 25 Mei 2019 16:34
Jakarta: Berkembangnya kelompok Islam eksklusif transnasional di perguruan tinggi ditengarai masuk dari pintu Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Hal itu terungkap dari penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta dengan beberapa perguruan tinggi lainnya.
 
Peneliti LPPM Unusia, Naeni Amanulloh mengatakan, penelitian ini fokus untuk menjawab mengapa kelompok Islam eksklusif bisa berkembang dan tumbuh di perguruan tinggi. Paham ini, kata Naeni, dibawa sekelompok mahasiswa yang kemudian difasilitasi oleh organisasi kampus.
 
Naeni mengungkapkan, paham Islam eksklusif transnasional terbawa dalam organisasi kampus. Kelompok ini cenderung mengutamakan kepentingan kelompoknya di sejumlah Lembaga Dakwah Kampus.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Semisal dahulu LDK Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM) di bawah kendali kelompok mahasiswa yang tergabung dalam gerakan Tarbiyah. Gerakan Tarbiyah inilah yang melahirkan organisasi ekstra kampus seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
 
“Kami harus menunjukkan bahwa Lembaga semacam LDK itu tidak secure, selalu dikuasai suatu kelompok, ada kompetisi. Misalkan khususnya antara Tarbiyah dengan Hizbut Tahrir. Jadi kendati sama-sama ekslusif, tetapi di dalam konteks LDK ini mereka juga saling bersaing,” kata Naeni saat dihubungi Medcom.id, Sabtu, 25 Mei 2019.
 
Baca: Kelompok Islam Eksklusif Terdeteksi Berkembang di Delapan PTN
 
Ia memaparkan, ada delapan kampus yang diteliti terkait keberadaan kelompok Islam Eksklusif Transnasional ini, di antaranya UNS Surakarta, IAIN Surakarta, Undip (Universitas Diponegoro) Semarang, Unnes (Universitas Negeri Semarang), UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta, UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), Unsoed (Universitas Jenderal Soedirman) Purwokerto, IAIN Purwokerto.
 
Eksklusivitas terhadap kelompok tertentu ini berpotensi dan mendukung bertumbuhnya pergerakan Islam ekslusif. Naeni dan peneliti lain dari perguruan tinggi lain menemukan bahwa pandangan keagamaan, kelompok Islam ekslusif ini memiliki proyeksi jangka panjang untuk Islamisasi.
 
Nah kita menyebut mereka ini sebagai gerakan islam ekslusif transnasional karena dipengaruhi oleh gerakan-gerakan yang beroperasi di level internasional. Gerakan Tarbiyah itu dipengaruhi oleh Ikhwanul Muslimin di Mesir, di kampus ada gema pembebasan gerakan mahasiswa yang punya kedekatan dengan Hizbut Tahrir Indonesia yang adalah bagian dari Hizbut Tahrir Internasional,” jelasnya.
 
Setidaknya, ada delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terpantau menjadi tempat berkembangnya kelompok Islam eksklusif transnasional. Meski belum sampai tingkat radikal, namun kelompok ini memiliki potensi berkembang ke arah tersebut.
 
Kondisi tersebut terungkap, dalam sebuah hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) beberapa kampus, antara lain Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif