Diskusi Publik membahas kelompok Islam eksklusif transnasional di perguruan tinggi, Medcom.id/Pythag Kurniati.
Diskusi Publik membahas kelompok Islam eksklusif transnasional di perguruan tinggi, Medcom.id/Pythag Kurniati.

Kelompok Islam Eksklusif Terdeteksi Berkembang di Delapan PTN

Pendidikan Pendidikan Tinggi Radikalisme di Kampus
Pythag Kurniati • 25 Mei 2019 15:25
Solo:Setidaknya, ada delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terpantau menjadi tempat berkembangnya kelompok Islam eksklusif transnasional. Meski belum sampai tingkat radikal, namun kelompok ini memiliki potensi berkembang ke arah tersebut.
 
Kondisi tersebut terungkap, dalam sebuah hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) beberapa kampus, antara lain Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
 
Penelitian tersebut dilakukan di enam perguruan tinggi umum dan dua Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Hasilnya, kedelapan perguruan tinggi tersebut telah menjadi tempat berkembangnya kelompok Islam eksklusif transnasional.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ada Unsoed (Universitas Jenderal Soedirman), IAIN Purwokerto, UNS, IAIN Solo, Unnes (Universitas Negeri Semarang, Unpad (Universitas Padjadjaran), UGM (Universitas Gadjah Mada), UNY (Universitas Negeri Yogyakarta)," kata peneliti LPPM Unusia, Naeni Amanulloh, di UNS Solo, Kamis petang, 23 Mei 2019.
 
Baca:Mata Kuliah Baru Jadi Senjata Tangkal Bibit Radikalisme
 
Menurutnya, kelompok eksklusif ini tidak selayaknya berkembang di kampus. Sebab seluruh sivitas akademika kampus sudah sepatutnya menjadi kalangan yang mampu berpandangan luas.
 
"Sedangkan kelompok eksklusif ini cenderung doktriner dan tertutup. Ini kan ada kontradiksi dengan kampus yang membudayakan berpikir kritis," ujarnya.
 
Dia khawatir, jika kelompok ini terus berkembang, maka bisa muncul sikap intoleran bahkan radikalisme. Sebab, kata Naeni, potensi tersebut sudah terlihat dalam beberapa kejadian sebelumnya.
 
Misalnya, kelompok tersebut terang-terangan mendukung Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan khilafah. "Mereka menunjukkan simpati ketika HTI dibubarkan atau saat ada pelarangan bendera ISIS," ujarnya.
 
Sementara Guru Besar bidang Sejarah Politik Islam, Hermanu Joebagio membenarkan, bahwa kelompok Islam eksklusif memang berkembang di UNS. "Kelompok-kelompok Islam moderat menjadi agak sulit berkembang di UNS," ujar dia.
 
Mengenai pengaturan kehidupan beragama kepada warga kampus, dia mengaku butuh keberanian yang besar dari pimpinan. Keberanian tersebut dapat diwujudkan dalam kebijakan-kebijakan.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif