Intoleran Berpotensi Menyebar Lewat Pendidikan

Intoleran Pasif Seperti Bom Waktu

Intan Yunelia 19 Oktober 2018 08:00 WIB
Guru Intoleran
Intoleran Pasif Seperti Bom Waktu
Seorang guru sedang mengajar di depan kelas, MI/Gino Hadi.
Jakarta:  Temuan hasil survei tentang indikasi guru beropini intoleran, menguatkan dugaan bibit intoleransi berpotensi disebarkan lewat dunia pendidikan. Opini intoleran yang meski masih berisifat pasif ini tetap harus diwaspadai, karena ia seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Indikasi itu muncul dari hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah tentang potret keberagaman guru Indonesia.  Survei yang mengambil sampel dari 2.237 orang guru ini merilis temuan, 63,07 persen guru yang disurvei terindikasi beropini intoleran.


“Kalau sudah seperti itu (beropini intoleran), berarti antara guru dan siswa sudah terjebak intoleransi pasif.  Itu ada di dalam pikiran, belum memusuhi secara nyata,” kata Heru kepada Medcom.id, Jumat,19 Oktober 2018.

Opini intoleran pada sejumlah guru ini harus segera ditanggulangi secepatnya. Akumulasi dari sikap tersebut jika dibiarkan terlalu lama, dapat menimbulkan intoleransi di tengah-tengah masyarakat. 

“Seperti kasus Tolikara, dan Pak Ahok waktu itu, mungkin bibit intoleransi itu sudah ada lama, lalu karena ada yang memicu bisa meledak. Itu bahaya sekali,” terang Heru. 

Fakta dan temuan hasil survei ini perlu ditindaklanjuti. Pemerintah harus mengambil sikap yang dapat mengubah pola pikir mereka melalui pembinaan kompetensi kepribadian.

Baca: Survei Guru Intoleran Jadi Alarm Dini

“Guru harus patuh terhadap konstitusi. Ketika seorang guru mengajarkan di dalam kelas intoleransi, artinya tidak patuh terhadap konstitusi,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah membeberkan hasil temuan yang mengejutkan.  Sebesar 63,07 persen guru terdeteksi memiliki opini intoleran terhadap pemeluk agama dan kepercayaan lain. 

Dalam survei tersebut, juga mengukur kadar opini radikal guru.  Hasilnya menunjukkan, dengan menggunakan kuesioner, sebesar 14,28 persen guru memiliki opini yang sangat radikal dan radikal. Sedangkan dengan menggunakan alat ukur implisit, guru memiliki opini yang sangat radikal dan radikal sebesar 46,09 persen.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id