Dosen muda di ITB Arni Rahmawati Fahmi Sholihah. DOK ITB
Dosen muda di ITB Arni Rahmawati Fahmi Sholihah. DOK ITB

Arni Sholihah, Dosen Muda ITB Peneliti Sungai di Indonesia

Pendidikan penelitian sungai Dosen ITB
Renatha Swasty • 26 April 2022 20:42
Jakarta: Arni Rahmawati Fahmi Sholihah tertarik meneliti sungai sejak lama. Sampai akhirnya dia mendapat kesempatan melalui Program Dana Riset Peningkatan Kapasitas Dosen Muda.
 
Arni terpilih mendapat dana dengan riset yang diajukan, yakni Eksplorasi Diversitas Ikan Air Tawar di Hulu Daerah Aliran Sungai Citanduy, Jawa Barat. Arni merupakan Dosen Muda SITH ITB yang juga alumni jurusan Biologi ITB.
 
Selama menjadi mahasiswa di Biologi ITB, dia menjabat sebagai Senator Himpunan yang menjadi representasi Himpunan di Kongres KM ITB. Arni memiliki fokus riset tentang biogeografi Sundaland.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat kuliah S3, riset yang dilakukannya tentang sungai-sungai yang menggabungkan Sundaland, seperti sungai di daerah utara Jawa, lalu dilakukan perbandingan. Saat ini, risetnya berfokus mencari sungai yang belum memiliki data terutama di daerah selatan Jawa sehingga data dapat disatukan dengan sungai di daerah utara Jawa.
 
Sungai Citanduy menjadi lokasi riset terkini karena sudah memiliki balai pengurus sungai sehingga birokrasi cukup mudah. Selain itu, Sungai Citanduy juga berada di daerah selatan Jawa dan jauh lebih bersih dari Sungai Citarum.
 
Arni menuturkan polusi di Sungai Citanduy adalah eutrofikasi dari lahan pertanian. Bagian hulu menjadi lokasi polusi karena terdapat gunung sehingga secara evolusi dapat melihat perbedaan spesies di hulu akibat isolasi geografis, sedangkan saat menggunakan daerah hilir untuk mencari informasi evolusi cukup sulit.
 
Dia berharap setelah mendapatkan data Sungai Citanduy juga dapat melakukan riset di Sungai Cimanuk.
 
Arni mengungkapkan fokus dari penelitian itu bukanlah ikan air tawar, tetapi sejarah dari suatu daerah. Ikan air tawar merupakan salah satu hewan model untuk mempermudah penelitian berdasarkan benchmark hasil riset S3 di daerah utara Jawa.
 
Pada awalnya, spesimen yang akan dianalisis adalah makrozoobentos, tetapi terdapat banyak makrozoobentos alien atau spesies yang bukan berasal dari daerah tersebut yang juga dapat disebut spesies invasif. Pada daerah hulu Jawa Barat sudah banyak pertanian sehingga sulit mendapatkan ikan bahkan makrozoobentos.
 
“Harapan dari hasil riset ini setelah mendapatkan data ikan juga mendapatkan data makrozoobentos,” jelas dia.
 
Arni menyebut inspirasi penelitian ini berhubungan dengan ekologi. Dia juga terinspirasi oleh Djoko Tjahjono Iskandar, seorang Dosen SITH ITB yang memiliki eksplorasi tertinggi.
 
Pada saat ini proses riset dalam tahap survei titik. Penentuan survei titik sulit dilakukan karena tidak berfokus pada jarak, tetapi pada perubahan signifikan seperti tipe lahan.
 
Setiap tipe lahan yang berbeda dapat diamati secara visual dari batu dan arus. Hal ini karena biogeografi ingin mengetahui evolusi yang terjadi sehingga belum ada titik dan jarak pasti untuk mengetahui habitat dari spesies model untuk mengetahui evolusi. Pengambilan data akan dilaksanakan pada Juni 2022 setelah UAS.

Hari Bumi

Menanggapi Hari Bumi, Arni mengaku sedih terdapat perbedaan Pulau Jawa dan Borneo terkait polusi terhadap diversitas ikan air tawar. Dia menyebut sungai di Pulau Jawa terdapat banyak sampah sehingga terdapat ikan yang punah seperti ikan belida (Chitala lopis), tapi di pulau lain masih ada.
 
Dia menuturkan cara mendapatkan lokasi ikan berdasarkan omongan warga lokal. Indonesia terutama Pulau Jawa terdapat informasi mengenai ikan air tawar, tapi data tersebut sudah ratusan tahun lalu dan baru ditambahkan oleh kelompok riset Arni.
 
Arni menuturkan dibandingkan dengan negara asing yang sudah memiliki basic science dan data dari ratusan tahun lalu, cukup mudah untuk melakukan aplikasi. Namun, di Indonesia saat ini data tidak cukup banyak sehingga fokus pengembangan riset yang menghasilkan return berupa data untuk aplikasi. Hal ini berbeda dengan biogeografi yang membahas histori dengan aplikasi yang tidak cepat mendapatkan return.
 
“Di Bumi terdapat banyak spesies sehingga yang berhak hidup di Bumi juga banyak. Mungkin karena manusia spesies yang baru menyebabkan manusia masih egois dan mementingkan spesies sendiri hingga terjadi presepsi bahwa bumi tentang manusia. Jika sifat egois masih ada, bumi akan rusak sehingga sulit untuk kita menikmati hidup. Saya pribadi juga menjadi sulit mendapatkan spesimen ikan karena banyak polutan di sungai," kata Arni.
 
Baca: Dosen ITB Temukan Terobosan Baru Bahan Baterai HP Lebih Aman dengan Cairan Ionik
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif