Sarasehan Ulama. Foto: MUI DKI Jakarta
Sarasehan Ulama. Foto: MUI DKI Jakarta

Ubah Mindset Kelola Sampah, Intip Edukasi Ekoteologi di UMJ

Citra Larasati • 26 Juni 2026 18:52
Ringkasnya gini..
  • MUI DKI & Inamove gelar sarasehan bahas krisis sampah. Ingatkan proyek sampah jangan cuma jadi lahan cuan investor.
  • Paradigma harus diubah! Cegah sampah dari hulu dinilai jauh lebih penting daripada sekadar membangun teknologi mahal.
  • Pakar sebut RI terlalu buru-buru soal energi sampah. Padahal, budaya memilah sampah dari rumah belum terbentuk.
Jakarta: Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta bersama Indonesia Sustainability Movement (Inamove) menggelar Sarasehan Ulama bertajuk "Ekoteologi dan Keberlanjutan Indonesia" di Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Forum ini mempertemukan ulama, akademisi, praktisi industri, dan pakar kebijakan publik untuk membedah persoalan krisis sampah nasional dari perspektif agama, teknologi, ekonomi, hingga tata kelola pemerintahan.
 
Salah satu sorotan utama dalam sarasehan tersebut adalah peringatan agar pengelolaan sampah nasional tidak berubah menjadi proyek yang hanya menguntungkan investor dengan menggunakan dana publik. 
 
Acara yang dipandu oleh Dr. H. Rahmat Hidayat Pulungan ini mengumpulkan ulama, akademisi, hingga pakar untuk membedah masalah sampah secara mind-blowing, mulai dari kacamata agama, teknologi, sampai tata kelola negara.

Sampah Itu Punya Value, Jangan Cuma Fokus Dibakar!

Direktur Badan Pelaksana PKU MUI DKI Jakarta, Dr. Muladi Mughni PhD, mengingatkan soal konsep Fikih Ma'alat. Intinya, setiap kebijakan itu harus dilihat dampak jangka panjangnya untuk masyarakat. Dalam Islam, sampah (Al-Afsah) yang dibuang sebenarnya masih punya nilai guna kalau diolah dengan benar.

Jadi, mindset-nya harus diubah, Sobat Medcom. Jangan cuma sibuk mengolah, tapi cegah dulu sampah dari sumbernya alias dari rumah kita. "Kebijakan yang baik bukan yang paling banyak mengelola sampah, melainkan yang paling berhasil mengurangi lahirnya sampah sejak dari hulu," tegas Muladi.
 
Muladi juga mewanti-wanti agar dana APBN yang dipakai untuk mengurus sampah itu merupakan amanah rakyat. Jangan sampai keuntungannya lari ke swasta, tapi risiko ruginya malah dibebankan ke masyarakat.
 
Di sisi lain, CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), Fadli Rahman PhD, memberikan gambaran betapa daruratnya kondisi yang ada. Tiap tahun RI numpuk 50 juta ton sampah, dan 60 persennya tidak dikelola secara tepat.
 
Untuk itu, pemerintah melalui Perpres Nomor 109 buat dorong Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Kabarnya, ini bisa menekan emisi sampai dengan 80 persen dibanding buang sampah sembarangan (open dumping).
 
Proyek ini bakal dieksekusi di 31 titik, dimulai dari Bali, Bekasi, dan Solo, serta bakal melibatkan pemulung secara formal.
 
Praktisi Rancang Bangun Industri, Ir. Edy Sutrisman MM, turut memberikan pendaoatnya. Secanggih apa pun teknologinya, akan percuma jika kebiasaan masyarakat masih malas memilah sampah di rumah.
 
"Sampah basah sisa makanan yang tercampur plastik bisa merusak mesin insinerator pembangkit listrik," jelasnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA