Mahasiswa Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Sanggar Malang Sinau, Kota Malang Jawa Timur, memberikan kursus bahasa Inggris kepada siswa. MI/Bagus Suryo.
Mahasiswa Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Sanggar Malang Sinau, Kota Malang Jawa Timur, memberikan kursus bahasa Inggris kepada siswa. MI/Bagus Suryo.

Dampak Belajar Bahasa Asing Bagi Daya Nalar Anak

Pendidikan kurikulum 2013 Pendidikan Dasar
Intan Yunelia • 19 Juli 2019 20:39
Jakarta: Motorik nalar berbahasa anak sudah tertanam sejak masih dalam masa kandungan. Anak yang memiliki kemampuan berbahasa asing tumbuh kembang nalarnya akan lebih baik.
 
“Ketika anak di usia prasekolah ke bawah diajarkan dan diperkenalkan lebih dari satu bahasa kemampuan verbal/penalaran berbahasanya lebih berkembang dibanding anak yang diajarkan satu bahasa saja. Kelihatannya nanti di sekolah dasar,” kata Psikolog Universitas Tarumanagara, Roslina Verauli saat dihubungi Medcom.id, Jumat, 19 Juli 2019.
 
Kemampuan motorik berbahasa anak sudah tertanam sejak masih di dalam kandungan yang disebut Language Acquisition Device (LAD). Dengan adanya LAD ini, otak anak sejak lahir sudah merespons perbedaan bahasa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca:Orang Tua di Depok Sesalkan Materi Bahasa Inggris SD Dihapus
 
“Salah satu penelitian menunjukkan, ternyata tangisan anak bayi di tiap wilayah atau negara itu berbeda irama dan jeda-jedanya seiring dengan pola bahasa di sana. Jadi ketika anak bayi terbiasa dengan bahasa ibunya berbicara bahasa lain otaknya menangkap adanya perbedaan, artinya anak-anak sudah mampu merespons ada perbedaan bahasa di sana,” terang Roslina.
 
Menginjak usia tiga tahun, penguasaan berbahasa anak berbeda level. Anak perlahan mulai menguasai cara berbahasa yang lebih terstruktur sesuai dengan kaidah tata bahasa.
 
“Mereka mulai menguasai berbahasa untuk bicara dalam satu kalimat utuh dengan struktur kalimat yang lengkap ada SPOK (Subjek Predikat Objek dan Keterangan) nanti anak akan ada namanya mixing bahasa. Jadi bahasa campur-campur,” ujar Roslina.
 
Baca:SD Negeri di Depok Tak Lagi Wajib Pelajari Bahasa Inggris
 
Menurutnya, ketika anak-anak mulai mencampurkan bahasa saat berbicara, berindikasi positif. Karena ketika mereka menggunakan bahasa tertentu diartikan mereka sudah mulai familier dengan bahasa tersebut.
 
Mixing language artinya anak sedang menguasai semua bahasa yang kita berikan cuma dia menggunakan bahasa berbeda-beda di-mixing karena pada satu kata tertentu atau istilahnya dia lebih familier dengan bahasa tersebut,” tuturnya.
 
Pelajaran Bahasa Inggris kini tidak lagi wajib diberikan kepada siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Depok. Bahkan sejumlah SD Negeri di Depok kini mengganti muatan lokal (mulok) yang semula diisi Bahasa Ingris menjadi pelajaran Bahasa Sunda. Dihapuskannya pelajaran Bahasa Inggris ini menuai protes orang tua murid.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif