"Dari awal di Salam belajar mandiri, setiap anak boleh memilih topik riset sesuai ketertarikan masing-masing. Sejak awal, Salam tidak belajar berbasis mata pelajaran," kata pendiri Salam Sri Wahyaningsih dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa, 21 April 2020.
Wahya, sapaannya, menuturkan pandemi ini menguji metode pembelajaran di sanggarnya. Sejauh ini, Wahya meyakini apa yang dilakukan Salam sudah benar. Contohnya, ketika banyak orang meributkan soal kebutuhan sehari-hari apabila lockdown, Salam sudah terbiasa menghadapinya dengan saling mendukung dalam hal pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya.
"Karena kami tidak serta merta menjadi konsumen, jadi sebenarnya bagaimana sekolah juga memproduksi pengtahuan apa yang harus kita pakai sehari-hari," terangnya.
Baca: Tak Cuma Covid-19, Pendidikan Juga Darurat
Ia menilai konsep pembelajaran di Salam merupakan ciri pendidikan yang merdeka, dalam arti belajar atas kesadaran sendiri. "Tidak terperintah, karena belajar atas kesadaran sendiri, bukan karena ada tugas dari sekolah atau orang tua," ungkapnya.
Beberapa pembelajaran yang dilakukan secara mandiri oleh anak-anak bersama orang tua di rumah, yakni menyiapkan sarapan selain nasi. Kegiatan itu kemudian ditulis dalam bentuk jurnal dibantu orang tua. Peran orang tua ini menjadi kunci penting.
"Ada cerita menyiapkan sarapan di luar nasi. Nampak mereka ada kemandirian di dalam belajar. Ini ditantang orang tua punya percaya diri mendampingi anaknya," ujarnya.
Satu-satunya kendala yang dihadapi yakni tidak adanya interaksi langsung dengan anak-anak. Selama ini peserta Sanggar Anak Alam selalu berkumpul. Saat ini, teknologi jadi satu-satunya media melepas kerinduan.
"Paling berat jadi enggak ketemu, Zoom, siaran Instagram, lebih untuk menghilangkan kerinduan," terangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News