Kepsek Harus Berani Tolak Siswa Titipan Pejabat
Suasana penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Depok, Jawa Barat, MI/Bary Fathahilah.
Kupang:  Kepala Ombudsman Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT), Darius Beda Daton meminta para kepala sekolah (Kepsek), khususnya SMA/SMK agar berani dan tegas menolak siswa titipan pejabat dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun 2018 mendatang. Budaya pejabat dan tokoh daerah baik dari eksektuif maupun legislatif menitipkan anak atau kerabatnya untuk masuk sekolah favorit kerap terjadi di musim PPDB.

"Para kepala sekolah harus berani menolak dengan tegas para siswa yang merupakan titipan oknum pejabat tertentu agar penerimaan siswa benar-benar terukur sesuai rombongan belajar," kata Darius Beda Daton di Kupang, Selasa, 19 Juni 2018.


Hasil pemantauan Ombudsman sekitar empat tahun terkahir ini menunjukkan, bahwa fenomena siswa titipan pejabat selalu terjadi dalam proses PPDB di NTT, yang tidak bisa dihindari oleh para kepala sekolah.    Ia mengungkapkan, masih ditemukan adanya permintaan pejabat pemerintah, DPRD, atau pemangku kepentingan lain kepada para kepala sekolah atau pantia agar
menerima calon siswa titipannya.   

Kondisi ini, lanjutnya, berdampak pada jumlah siswa per kelas dan rombongan belajar membengkak yang kemudian melanggar petunjuk teknis (juknis) yang sudah ditetapkan dalam aturan PPDB.  "Ada sekolah yang satu rombongan belajar yang seharusnya maksimal 36
siswa, namun dipaksa hingga mencapai 40 -42 siswa karena siswa titipan pejabat tersebut," kata
Darius seperti dikutip dari Antara

Menurutnya, fenomena siswa titipan pejabat ini masih memungkinkan terjadi terutama pada sekolah yang melaksanakan PPDB secara luar jaringan (luring).  Di NTT, terdapat 338 SMA negeri dan 188 SMK negeri akan menerima peserta didik baru dalam tahun ajaran 2018/2019.

Baca: Sekolah Boleh Terapkan Kriteria Tambahan selain Syarat Zonasi

Sebanyak 42 SMA dan 30 SMK di antaranya akan menyelenggarakan PPDB dalam jaringan (daring) atau online pada 23-26 Juni, selebihnya menyelenggarakan PPDB secara luring dari 2-4 Juli.

"Bagi sekolah yang masih menerima siswa secara luring agar bisa dengan tegas menolaknya jika kuota siswa dan rombongan belajar sudah terpenuhi," katanya.

Darius menambahkan, proses PPDB harus dijaga bersama-sama agar berjalan sesuai juknis yang ditetapkan pemerintah pusat hingga daerah melalui berbagai produk hukum. Proses yang berjalan dengan baik akan menghasilkan anak-anak yang berkualitas juga.

"Semoga PPDB kali ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Ombudsman bersama pemerintah provinsi, DPRD, dan sejumlah stakeholders juga sudah membentuk tim gabungan untuk memantau secara langsung." tutup Darius.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id