Tangerang Susun Indikator Sekolah Menyenangkan

Gerakan Sekolah Menyenangkan Bertumpu pada Kualitas Guru

Antara 15 November 2018 19:59 WIB
Kualitas Guru
Gerakan Sekolah Menyenangkan Bertumpu pada Kualitas Guru
Guru sedang mengajar di depan kelas, MI/Gino Hadi.
Tangerang:  Kabupaten Tangerang menyatakan akan menerapkan konsep Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di semua wilayah secara bertahap.
     
"Kami akan terapkan konsep ini secara bertahap. Di Tangerang ada sekitar 2.000 sekolah yang terdiri dari SD, SMP dan SMA, perlu adanya pembaruan di sekolah," ujar Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar, seperti dikutip dari Antara, Kamis, 15 November 2018. 
     
Dia menambahkan para pendidik harus turut membantu agar bisa menciptakan sekolah yang menyenangkan. Sehingga anak didik senang dan nyaman berada di sekolah.
   
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Hadisa Masyhur, mengatakan, saat ini pihaknya tengah menyusun indikator penerapan GSM.   "Melalui gerakan ini, kami menargetkan  bisa diterapkan di 756 SD negeri dan sebanyak 86 SMP negeri se-Kabupaten Tangerang," kata Hadisa.     
   
Pendiri GSM, Muhammad Nur Rizal, mengatakan, literasi harus mendapatkan tempat sebagai prioritas utama dalam kebijakan pendidikan di era disrupsi teknologi.
   
"Tujuannya agar manusia  bisa menjadi pelaku utama dalam menuntun penggunaan teknologi bagi kesejahteraan dan kemajuan sosial di masa akan datang," kata Rizal.

Baca: Mendikbud Usulkan Rasionalisasi LPTK ke Menristekdikti
   
Rizal menambahkan jika kodrat nalar yang dimiliki anak-anak saat ini hanya dipakai untuk menghapal isi buku teks, menjawab pekerjaan rumah, atau menjawab soal ujian saja. Sayangnya, tidak digunakan untuk belajar menjawab persoalan yang semakin kompleks.
   
"Padahal the World Economic Forum (WEF) menyatakan bahwa tuntutan industri kerja mulai tahun 2020 akan berubah," kata Rizal.
   
Rizal menjelaskan 36% pekerjaan menuntut kemampuan penyelesaian masalah, sekitar 20% kemampuan sosial, komunikasi dan kolaborasi, sedangkan ketrampilan pengetahuan hanya dibutuhkan 10% saja. 
   
"Ironisnya, sistem pendidikan kita masih berkutat pada penguasaan akademik hapalan saja," tambahnya.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id