Perkuliahan <i>Face to Face</i> Untad Dimulai 5 November
Kondisi terkini salah satu ruang kuliah di Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah, pascagempa 7,4 SR pekan lalu., dokumentasi Universitas Tadaluko.
Jakarta: Perkuliahan face to face di Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah dijadwalkan akan dimulai 5 November 2018.  Mulai hari ini, Senin, 15 Oktober 2018, rapat perdana juga akan mulai digelar di dalam gedung kampus, setelah lebih dari dua minggu pascagempa dilakukan di dalam tenda darurat.

Rektor Universitas Tadulako (Untad), Muhammad Basir mengatakan, pembelajaran di kampusnya sudah berlangsung sejak 10 Oktober 2018.  "Alhamdulillah, saat ini sudah berlangsung pembejalaran mandiri, face to facebaru akan mulai 5 November," kata Basir saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Senin, 15 Oktober 2018.


Pembelajaran mandiri yang dimaksud Basir adalah menggunakan blended learning. Perkuliahan Face to faceyang berlangsung sebelum gempa, dilanjutkan dengan  perkuliahan mandiri yang memberi subpokok bahasan melalui https://untad.ac.id sebagai kelanjutan perkuliahaan di kelas. 

Dari pembelajaran mandiri tersebut, mahasiswa diwajibkan membuat ringkasan, dan dikumpulkan saat perkuliahaan 5 November tersebut dimulai.  Sedangkan untuk mahasiswa yang memilih sit in (kuliah sementara) di kampus sekitar Sulawesi, ataupun luar Sulawesi, kebijakan perkuliahan diserahkan kepada masing-masing rektor tuan rumah.

"Kami serahkan sepenuhnya kepada kebijakan Bapak Ibu Rektor masing-masing PTN," terangnya.

Saat ini hingga nanti 4 November 2018, pihak Untad akan terus menyisir kondisi gedung kuliah di lantai I yang memiliki risiko minimum.  Sebab tenda untuk perkuliahaan, kata Basir, masih dalam perjalanan.

Menurut Basir, jumlah ruang kuliah yang bisa dipakai, kemungkinan tereduksi hingga 50 persen di setiap fakultas. Untuk itu, Rektor telah melakukan sejumlah penyesuaian.

"Contoh, jika selama ini 50 menit per SKS (Satuan Kredit Semester), maka dalam kondisi saat ini berkisar 35 sampai 40 menit saja," terang Basir

Artinya, pembelajaran mandiri yang akan dinaikkan antara 60 sampai 70 menit per SKS, untuk menambal kekurangan pertemuan face to face.  Selain itu, Basir juga menempuh cara dengan menggabungkan kelas pararel, selama ruangan memungkinkan.

"Jika satu kelas biasanya 35 orang, maka jika kelasnya sejenis dapat digabung hingga 70 orang," sebut Dia.

Baca: Pendidikan di Bumi Tadulako Berdenyut Kembali

Hal ini Basir lakukan, agar mahasiswa Untad, utamanya yang memilih tetap kuliah di Untad tetap terlayani.  "Kita tidak boleh korbankan studi mereka," tegas Basir.

Terkait dengan bantuan yang Untad terima dari Kemenristekdikti, diakuinya sangat besar. Dalam waktu dekat, kata Basir, akan datang 100 relawan kemenristekdikti akan hadir di kampus.

Sedangkan bantuan dana, diakui Basir belum ada yang masuk.  Namun Basir yakin, Menristekdikti tengah mempersiapkan skema pendanaan yang tepat untuk Untad. 

"Beliau sangat concernsetelah melihat langsung kondisi kampus, yang didampingi Pak Dirjen Sumber dikti (Ali Ghufron) daya bersamaan saat kunjungan Bapak Presiden Jokowi (beberapa waktu lalu)," tutupnya.




(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id