UKWMS Modernisasi Perpustakaan Lewat Teknologi
Humas UKWMS
Jakarta: Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) mendorong keberadaan perpustakaan berbasis teknologi. Perpustakaan UKWMS ini tak hanya menawarkan perpustakaan fisik namun juga bersifat nonfisik.

“Teknologi informasi yang berkembang harus menjadi mitra bagi perpustakaan untuk dapat selalu melayani pemustaka serta melakukan inovasi dan kreativitas agar eksistensinya dapat terus terjaga dan bermanfaat bagi masyarakat, kata Kepala Perpustkaan UKWMS, Josefine Hira Eksi dalam keterangan tertulisnya, Rabu 5 Desember 2018.


Ia melihat, anak milenial saat ini lebih cepat beradaptasi dengan teknologi. Oleh sebab itu, perpustakaan membutuhkan sistem online agar lebih dinamis.

“Informasi di era teknologi informasi merupakan sesuatu yang sangat mudah diperoleh oleh setiap orang, namun kemampuan menelusur informasi yang baik belum dimiliki setiap orang,” terang Josefine.

Hal inilah yang menginspirasi Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi (FPPTI) Jawa Timur menyelenggarakan temu komunitas dan pengguna perpustakaan ‘Senayan Library Management System’ (SLiMS) se-Indonesia. Acara ini melibatkan berbagai komunitas teknologi informasi yang mendukung perkembangan perpustakaan.

“Republik Indonesia semakin lama semakin sadar dengan kepentingan untuk mencerdaskan bangsa. Dulu orang lihat perpustakaan sebelah mata, tapi baru dua bulan saya menjabat ada banyak tantangan. Perpustakaan tidak hanya menjadi jendela, tapi harus menjadi pintu dunia” ujar Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Abdul Hamid.

Baca; UKWMS Kirim Dosen LPTK Tugas ke Sekolah

Dosen Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Heriyanto menyampaikan materinya tentang jurnal berbasis akses terbuka. Hal ini menyebabkan fenomena pertumbuhan jurnal melesat dengan cepat.

“Jurnal baru bermunculan tanpa memperhatikan kaidah, dan sebagian jurnal menerapkan sistem bayar untuk publikasi,” kata Heriyanto.

Namun, dari perkembangan teknologi pada perpustakaan ini, ada dampak tak baik yang ditimbulkan. Dimana diseminasi ilmu pengetahuan bisa berlangsung tanpa batas dan semua orang bisa mengakses semua macam publikasi dengan gratis.

“Lalu tidak ada kesenjangan informasi, dan seharusnya justru bisa menurunkan tindak plagiarism karena kita bisa dengan mudah menelusuri ini karya si A atau B,” pungkas Heriyanto.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id