El Nino kerap membuat banyak orang takut, sebab lekat dengan kondisi kering, kurangnya curah hujan hingga permukaan tanah retak-retak. Sebenarnya apa itu El Nino dan kapan El Nino 2026? Yuk simak penjelasannya berikut ini dikutip dari laman BMKG:
Pengertian El Nino
El Nino adalah fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. El Nino memiliki dampak beragam dalam lingkup skala global.Beberapa negara di kawasan Amerika Latin seperti Peru, saat terjadi El Nino akan berdampak pada meningkatnya curah hujan di wilayah tersebut. Sedangkan, di Indonesia secara umum dampak dari El Nino adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan.
Kondisi geografis Indonesia yang luas dan berbentuk kepulauan membuat dampak dari El Nino bervariasi antar wilayah di Indonesia. BMKG mengklasifikasikan intensitas El Nino menjadi tiga kategori, yaitu El Nino Lemah, Moderat, dan Kuat.
El Nino 2026
Berakhirnya fenomena La Nina Lemah pada Februari 2026 memicu sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau. Kini, kondisi klimatologi telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun.Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 (Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026. Namun, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Nino kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60 persen mulai semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian.
“Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,” kata Faisal dikutip dari laman bmkg.go.id, Rabu, 18 Maret 2026.
Peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi penanda dimulainya musim kemarau. BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.
Ini mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci 184 ZOM (26,3 persen) menyusul masuk musim kemarau pada Mei 2026 dan 163 ZOM (23,3 persen) pada Juni 2026. Berdasarkan data tersebut, Ardhasena menegaskan awal kemarau di 325 ZOM (46,5 persen) diprediksi maju atau terjadi lebih cepat dari biasanya, yakni sama 173 ZOM (24,7 persen), dan mundur 72 ZOM (10,3 persen).
“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” ujar dia.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026, yang mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen).
Wilayah yang memasuki puncak musim kemarau pada Juli, meliputi sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta merambah ke sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua.
Memasuki bulan Agustus, cakupan wilayah yang mengalami puncak kemarau semakin meluas secara signifikan. Kondisi kering ini akan mendominasi wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Pulau Papua.
Pada periode September, puncak musim kemarau masih dialami di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, dan sebagian besar NTT. Selain itu, puncaknya juga akan dirasakan di wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian kecil Pulau Papua.
BMKG memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 secara umum akan bersifat Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM (64,5 persen) dan Normal di 245 ZOM (35,1 persen). Sebaliknya, hanya terdapat 3 ZOM (0,4 persen) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah.
“Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,” tutur Faisal.
Langkah pencegahan dampak musim kemarau
Faisal menekankan pentingnya langkah antisipasi menanggapi berbagai risiko sepanjang musim kemarau 2026. Hal ini perlu dilakukan oleh kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga seluruh lapisan masyarakat.Di sektor pangan, para petani perlu segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat.
“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” ujar dia.
Selain manajemen air, kewaspadaan terhadap dampak lingkungan juga menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah perlu menyiapkan mekanisme respons cepat untuk menghadapi penurunan kualitas udara dan meningkatkan kesiapsiagaan di sektor kehutanan guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News