Rektor IPB, Arif Satria. DOK IPB
Rektor IPB, Arif Satria. DOK IPB

Rektor IPB: Harus Ada Langkah Strategis Atasi Bencana Hidrometeorologi

Pendidikan penelitian Riset dan Penelitian IPB bencana hidrometeorologi
Renatha Swasty • 13 Mei 2022 12:37
Jakarta: Bencana hidrometeorologi tidak hanya mengancam kestabilan stok pangan, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup petani. Kajian strategi mitigasi pangan yang tepat mesti menjadi agenda rutin mengingat faktor ancaman sering berubah.
 
Rektor IPB University Arif Satria mengatakan Pusat Studi Bencana (PSB) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University memiliki tugas penting untuk mampu memberikan solusi terkait kebencanaan yang berdampak pada sektor pertanian. Terlebih, sektor ini cenderung rentan terhadap bencana terutama bencana hidrologis akibat perubahan iklim.
 
Dia menyebut harus ada langkah-langkah strategis dan komprehensif yang perlu disusun. Hal ini menjadi tantangan bagi akademisi untuk menginformasikan berbagai pemikiran, solusi inovatif, hingga rekomendasi kebijakan mitigasi pangan.
 
Arif menyebut IPB University telah menerapkan teknologi 4.0 untuk membantu petani memprediksi bencana dan memberikan langkah mitigasi yang tepat. Salah satunya, teknologi yang mampu memprediksi kebakaran hutan.
 
Dia menjelaskan pemetaan kasus-kasus bencana di berbagai daerah Indonesia dapat menjadi bahan bagi IPB University memetakan isu-isu kebencanaan. Sehingga, dapat dirumuskan solusi, langkah adaptasi, mitigasi, serta riset yang diperlukan untuk mengatasi hal tersebut.
 
“Jika itu terjadi, saya yakin ini akan menjadi sebuah langkah transformasi pertanian kita yang lebih presisi di masa depan,” kata Arif dalam Webinar Propaktani dengan tajuk “Mitigasi Pangan Menghadapi Bencana Ketersediaan Stok Pangan dan Perlindungan petani di NTT” dalam keterangan tertulis, Jumat, 13 Mei 2022.
 
Ketua PSB LPPM IPB Doni Yusri menyebut perguruan tinggi harus mampu berkolaborasi dengan pemerintah daerah terkait kajian kebencanaan dan mitigasi. Doni menuturkan mitigasi bencana berkaitan erat dengan ketahanan pangan sehingga dibutuhkan langkah adaptasi dengan memanfaatkan teknologi digital.
 
“Teknologi ini tentu lebih presisi dan penerapannya harus disertai oleh inovasi yang lahir dari kampus,” kata dia.  
 
Doni menilai strategi pengelolaan bencana saat ini tidak difokuskan pada pencegahan saja. Dia mengatakan pencegahan utamanya untuk menghilangkan ancaman yang berpotensi merugikan. Strategi mengurangi besar dan keganasan kejadian dapat dilakukan apabila strategi tersebut tidak efektif.
 
“Caranya dengan mengubah karakteristik ancamannya dan memprediksi potensi kejadian maupun mengubah dari unsur struktural masyarakat. Contohnya, di Nusa Tenggara Timur (NTT) diterapkan desa tangguh bencana dengan memodifikasi masyarakat agar siap siaga terhadap bencana yang mungkin datang sewaktu-waktu,” papar Doni.
 
Dosen IPB University itu menuturkan bencana hidrologis ini dapat menimbulkan kerugian ekonomi dan psikologis bagi petani. Namun, ia menilai pemerintah jarang membicarakan petani sebagai objek yang terdampak bencana dalam ketahanan pangan. Dia mengatakan dua hal tersebut harus dihubungkan dan dibangun program.
 
“Jadi, kalau ada bencana hidrometeorologi bukan hanya di usaha taninya saja yang dipulihkan, tetapi ketahanan pangan petani itu untuk bertahan hidup selama pemulihan lahan mereka yang terkena bencana,” tutur dia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Pakar IPB Ungkap Pentingnya Jaga Kelestarian Satwa Primata Demi Selamatkan Manusia
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif