Siswa Sekolah Dasar tengah menunggu kedatangan gurunya di dalam kelas, MI/Gino Hadi.
Siswa Sekolah Dasar tengah menunggu kedatangan gurunya di dalam kelas, MI/Gino Hadi.

Momentum Memperbaiki Kualitas Guru di Indonesia

Pendidikan Kualitas Guru
Intan Yunelia • 04 Oktober 2018 13:52
Jakarta: Peringatan Hari Guru se-Dunia harus dimanfaatkan sebagai momentum memperbaiki kualitas guru di Indonesia. Guru tidak hanya ujung tombak, namun juga tulang punggung bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
 
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Pandu Baghaskoro mengatakan, setiap 5 Oktober diperingati sebagai Hari Guru Se-dunia. Momentum peringatan Hari Guru Se-dunia ini harus menjadi pengingat bagi pemerintah, dalam membenahi kualitas pendidikan di Indonesia terutama kualitas guru.
 
"Guru sebagai tulang punggung pendidikan diharapkan memiliki kompetensi yang bagus untuk mendidik anak didiknya. Agar siswa tersebut menjadi manusia produktif saat menghadapi revolusi industri 4.0," kata Pandu, di Jakarta, Kamis, 4 Oktober 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan dalam beberapa waktu belakangan pemerintah sudah mengupayakan peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru. Salah satu program yang terus menerus dilakukan adalah, program sertifikasi dan tunjungan profesi guru.
 
Program sertifikasi guru merupakan langkah pemerintah dalam meningkatkan kompetensi guru di seluruh Indonesia. Guru PNS maupun NonPNS yang telah memenuhi sertifikasi dan persyaratan administratif berhak memperoleh tunjangan profesi.
 
Baca:Dunia Kekurangan 69 Juta Guru
 
"Namun, tujuan baik inisiatif ini belum juga mencapai dampak yang optimal, yaitu mutu guru yang lebih baik, serta perbaikan kesejahteraan guru secara menyeluruh," kata Pandu,
 
Keterbatasan dana pemerintah, terang Pandu, dalam membiayai peserta sertifikasi juga tak luput dari permasalahan. Beban waktu dan tanggung jawab guru merupakan permasalahan inti yang tengah dihadapi.
 
Guru melakukan program sertifikasi di kampus dalam jangka waktu lima minggu. Oleh karena itu pihak sekolah harus mencari pengganti kekosongan guru di sekolahnya.
 
"Alhasil, ada segelintir guru yang harus rela mengundurkan diri dari sekolah untuk mengikuti program sertifikasi ini. Lagi-lagi siswa yang dikorbankan,” tutur Pandu.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif