Uji coba PTM Terbatas di Magelang, Jawa Tengah. Foto:  ANT
Uji coba PTM Terbatas di Magelang, Jawa Tengah. Foto: ANT

Pakar UGM: Kebijakan PTM Terbatas Baiknya Diserahkan ke Daerah

Citra Larasati • 11 Juni 2021 09:00

 
Ia sangat setuju jika di awal penerapan pembelajaran tatap muka di bulan Juli 2021 nanti dilakukan dua kali seminggu. Menurutnya, dengan tatap muka dua kali seminggu adalah sebagai proses antara menuju pembelajaran normal seperti di saat sebelum masa pandemi.
 
“Sehingga biarkan seminggu dua kali tatap muka dan dari situ bisa dilihat dampaknya, jika aman akan dilanjutkan bisa tiga kali dalam seminggu, empat kali dan seterusnya atau bahkan bisa lima kali dalam seminggu. Saya pikir itu saat paling bagus, ideal," paparnya.

Terhadap sikap orang tua menghadapi sekolah tatap muka, Subarsono berpendapat sebaiknya orang tua harus mengontrol anaknya. Sebelum anak berangkat sekolah maka anak dipastikan harus sudah melengkapi diri dengan instrumen yang diperlukan di masa pandemi.
 
Anak harus dipastikan sudah membawa masker, hand sanitizer, minuman dan bekal agar tidak jajan di kantin.  Ia menilai untuk form kesanggupan izin orang tua agar bisa mengikuti sekolah tatap muka sifatnya adalah wajib ditawarkan.
 
Hal ini untuk mengantisipasi agar orang tua yang memberikan izin anak mengikuti sekolah tatap muka. Jika terjadi dampak yang tidak diharapkan maka akan menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan orang tua.
 
“Jadi, bukan hanya menyalahkan, tetapi orang tua juga bertanggung jawab makanya sebelum anak ke sekolah orang tua harus mengontrol, dan sebaiknya di dalam surat kesanggupan itu, salah satu poinnya harus berisi orang tua harus memfasilitasi anak sebelum masuk sekolah," terang dosen Fisipol UGM ini.
 
Meski sepakat dengan tatap muka dua kali dalam seminggu, namun dengan durasi dua jam sekali pertemuan tatap muka Subarsono menilai kurang efektif. Dua jam setiap kali tatap muka dinilainya terlalu sedikit, sebab anak berangkat ke sekolah saja membutuhkan waktu 30 menit.
 
“Kalau tiga jam saya kira anak tidak terlalu capek. Karena kalau 2 jam itu paling hanya 3 mata pelajaran, itu terlalu cepat menurut saya. Kalau mungkin empat jam lebih lumayan, terutama untuk anak-anak SD karena kalau hanya 2 jam orang tua hanya sibuk antar-jemput," urainya.
 
Subarsono meyakini bagi daerah-daerah yang tidak zona merah maka di Juli 2021 pasti akan melakukan pembelajaran tatap muka. Dengan tatap muka asumsinya siswa lebih mudah dalam pembelajaran dan lebih mudah dalam hal pendalaman materi dibanding pembelajaran online.
 
Materi pembelajaran tatap muka lebih menyenangkan bagi siswa dan guru sehingga kualitas pembelajaran akan lebih bagus.  Dengan dibukanya pembelajaran tatap muka maka akan mendorong solidaritas sosial, sebab jika pembelaran online hanya akan membuat siswa individual tidak pernah berinteraksi dengan teman-temannya sehingga tidak ada daya solidaritas.
 
“Solidaritas sosial itu mudah terbangun ketika terjadi pembelajaran tatap muka. Meski begitu pembelajaran tatap muka di bulan Juli nanti harus terus dievaluasi, pada bulan pertama bisa dilakukan evaluasi dua minggu sekali, kalau sudah memasuki bulan kedua dan ketiga harus setiap bulan dievaluasi," imbuhnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan