Isyana Sarasvati (Foto: Instagram/isyanasarasvati
Isyana Sarasvati (Foto: Instagram/isyanasarasvati

Dikaitkan dengan Satanisme, Intip Pendidikan Isyana yang Jadi Fondasi Eksperimennya

Renatha Swasty • 06 Maret 2026 14:33
Ringkasnya gini..
  • Penggemar mengaku rindu dengan citra pop manis Isyana di masa lalu.
  • ​Tudingan mengenai simbolisme tertentu menghubungkan elemen visual tersebut dengan teori konspirasi global yang kontroversial.
  • Isyana tetaplah sosok musisi dengan latar belakang pendidikan musik formal yang sangat prestisius.
Jakarta: Isyana Sarasvati kembali mengguncang industri musik tanah air melalui pengumuman proyek terbarunya bertajuk ABADHI pada awal Februari 2026. Karya ini diperkenalkan sebagai babak pamungkas dari rangkaian album EKLEKTIKO yang selama ini dikenal penuh dengan eksperimen genre yang sangat berani.
 
Baru-baru ini, ABADHI memicu pro dan kontra di kalangan netezen akibat penggunaan simbol mata satu berwarna merah yang sangat dominan. Banyak warganet berspekulasi mengenai makna tersembunyi di balik estetika tersebut, bahkan mengaitkannya secara liar dengan isu okultisme.
 
​Komentar pro dan kontra membanjiri jagat digital, di mana sebagian besar penggemar mengaku rindu dengan citra pop manis Isyana di masa lalu. Beberapa warganet di platform Threads secara spesifik menyoroti perubahan drastis konsep musiknya yang kini dianggap terlalu gelap dan sulit untuk dicerna.

​Tudingan mengenai simbolisme tertentu juga mulai bermunculan dari warganet yang menghubungkan elemen visual tersebut dengan teori konspirasi global yang kontroversial. Mereka mempertanyakan apakah arah kreatif Isyana saat ini merupakan bentuk murni ekspresi seni atau justru mengandung pesan-pesan tertentu yang tabu bagi masyarakat.
 
​Namun, di balik estetika visual yang dianggap 'gelap' dan berani tersebut, Isyana tetaplah sosok musisi dengan latar belakang pendidikan musik formal yang sangat prestisius. Transformasi artistiknya dari penyanyi pop manis menjadi musisi eksperimental sebenarnya merupakan buah dari fondasi akademiknya yang kuat di dunia musik klasik.

Profil Isyana Sarasvati

Mengutip laman Schoters, Isyana Sarasvati lahir pada 2 Mei 1993 dan telah mengasah kemampuan bermusiknya sejak kecil. Prestasi internasional pertamanya tercatat pada tahun 2008, ketika karyanya yang berjudul "Wings of Your Shadow" masuk dalam jajaran komposisi terbaik di International Junior Original Concert, Jepang.
 
Kariernya di industri musik populer Indonesia dimulai pada tahun 2014. Sejak saat itu, ia konsisten merilis karya-karya yang ikonik dan penuh eksperimen, mulai dari nuansa pop di album Explore! dan Paradox, hingga sentuhan neoklasik-rock dalam Lexicon. 
 
Sebagai bentuk kemandirian dan visi seninya yang idealis, Isyana kini mengelola karier dan bakat-bakat baru melalui label musiknya sendiri, Redrose Records, yang ia resmikan sejak empat tahun lalu.

Rekam jejak pendidikan Isyana Sarasvati

​Satu fakta yang jarang diketahui publik adalah Isyana tidak pernah menyelesaikan pendidikan SMA secara formal. Ia mendapatkan jalur "Fast Track" berkat bakatnya yang luar biasa. 
 
Saat masih duduk di bangku SMP, Isyana berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Singapura untuk menempuh pendidikan musik di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA).
 
​"Aku lumayan bisa dibilang beruntung karena dapat beasiswa dari Singapura, jadi bisa langsung lompat dari SMP ke kuliah," ungkap Isyana dikutip dari Youtube Tonight Show, Jumat, 6 Maret 2026.
 
​Pendidikan tinggi Isyana di luar negeri mencakup dua institusi seni ternama, yakni:

1. ​Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA), Singapura

Di sini, Isyana mengambil program Diploma di bidang Music Performance. Ia mendalami mayor Vokal Opera dan minor Komposisi. 
 
Menariknya, Isyana sebenarnya adalah seorang pianis sejak kecil, namun cedera tangan akibat kecelakaan sebelum audisi memaksanya beralih ke mayor vokal. Hal itu merupakan sebuah keputusan yang justru mengantarkannya menjadi salah satu solois terbaik Indonesia.

2. ​Royal College of Music (RCM), London

Setelah menyelesaikan studinya di Singapura, Isyana melanjutkan ke tingkat Bachelor (S1) dengan beasiswa penuh. RCM London merupakan salah satu institusi musik paling bergengsi di dunia. Di sana, ia mengasah kemampuan seriosa dan pemahaman teori musiknya hingga lulus dengan predikat memuaskan.

​Menepis kontroversi dengan kompetensi

​Meskipun netizen di platform seperti Threads ramai mengkritik perubahan genrenya dan mengaitkan simbol "Babel" dengan teori konspirasi, Isyana membuktikan setiap karya yang ia rilis, termasuk simbolisme di dalamnya adalah hasil dari pemikiran artistik yang matang.
 
​Bagi Isyana, musik bukan sekadar hiburan, melainkan ruang ekspresi yang luas. Cita-cita besarnya tetap berpijak pada dunia pendidikan, yakni mendirikan Sekolah Musik sendiri untuk membagikan kurikulum dan ilmu yang telah ia serap selama bertahun-tahun di Singapura dan London.
 
​Dengan latar belakang akademik yang mencengangkan, konsep ABADHI tampaknya lebih merupakan pembuktian dari kebebasan kreatif seorang musisi terpelajar ketimbang sekadar tren visual semata. (Talitha Islamey)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan