Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan mencatat luas area karhutla di Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat pada tahun 2026 mencapai 38 ribu hektare. Banyak netizen di media sosial mulai ramai membahas cara menangani karhutla di wilayah Kalimantan dengan metode backburning atau 'melawan api dengan api'.
Penerapan teknik backburning memerlukan koordinasi terhadap kondisi lapangan, besaran api, dan aspek keselamatan sehingga teknik ini tidak dapat dilakukan sembarangan. Apakah teknik backburning dapat diterapkan pada karhutla yang terjadi di Kalimantan? Yuk kita bahas lebih dalam berikut ini:
Apa Itu Backburning?
Backburning merupakan teknik pengendalian kebakaran dengan sengaja menyalakan api secara terkendali untuk mengurangi bahan bakar yang dapat digunakan oleh api utama. Bahan bakar dalam kebakaran hutan dapat berupa rumput, semak, ranting, dedaunan kering, hingga material vegetasi lainnya.Melansir NSW National Parks and Wildlife Service (NPWS), backburning merupakan salah satu taktik pemadaman yang digunakan untuk mengendalikan dan membatasi kebakaran hutan. Teknik ini dilakukan dengan menyalakan api secara terkendali untuk menghabiskan bahan bakar yang berada di jalur pergerakan api utama.
Teknik backburning bertujuan memperlambat atau menghentikan penyebaran api. Api yang digunakan untuk backburning dinyalakan dari garis pengendalian yang aman dan kemudian diarahkan untuk membakar kembali menuju api utama.
Teknik ini hanya dapat digunakan apabila kondisi bahan bakar dan cuaca mendukung, seperti dilakukan pada malam hari saat cuaca lebih dingin dan lembap. Namun, tidak semua kebakaran dapat dipadamkan menggunakan teknik backburning.
Cara Kerja Teknik Backburning
Penerapan backburning membutuhkan strategi yang perlu direncanakan oleh tim. Salah satu unsur penting dalam teknik ini adalah garis pengendalian atau fireline. Garis tersebut digunakan untuk membantu membatasi area tempat api yang akan dikendalikan.Mengutip Department for Environment and Water (DEW) Pemerintah Australia Selatan, backburning dilakukan dengan membakar lokasi-lokasi strategis di sekitar jalur kebakaran yang sedang mendekat. Teknik ini membutuhkan persetujuan incident controller, perencanaan, sumber daya, serta pertimbangan kondisi yang dapat menjaga keselamatan petugas.
Backburning merupakan operasi yang kompleks karena dilakukan dalam lingkungan dinamis. Faktor lingkungan juga menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan.
Arah dan kecepatan angin, kondisi bahan bakar, topografi, kelembapan, serta perilaku api dapat memengaruhi hasil pembakaran. Perubahan kondisi tersebut berpotensi membuat api bergerak di luar area yang direncanakan.
Meskipun bertujuan membantu mengendalikan kebakaran, backburning tetap memiliki risiko karena menggunakan api secara sengaja. Apabila kondisi di lapangan tidak sesuai dengan perhitungan, api yang dibuat untuk membantu pemadaman justru berpotensi berkembang dan menyebar ke area lain.
Risiko penggunaan teknik backburning berkaitan dengan kondisi kebakaran yang dapat berubah sewaktu-waktu. Faktor seperti cuaca, angin, dan kondisi bahan bakar dapat memengaruhi perilaku api.
Petugas perlu memahami perilaku api dan menunggu kombinasi kondisi bahan bakar serta cuaca yang tepat sebelum melakukan pembakaran. Bahkan, apabila api tidak berperilaku sesuai rencana, pembakaran dapat diperkecil atau dihentikan.
Penerapan Teknik Backburning pada Karhutla Kalimantan
Pembahasan mengenai backburning menjadi lebih kompleks ketika dikaitkan dengan kondisi lahan di Kalimantan, terutama kawasan gambut. Lahan gambut memiliki karakteristik kebakaran yang berbeda dengan vegetasi yang terbakar hanya di permukaan.Melansir publikasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kebakaran pada lahan gambut dapat berupa open flame atau kebakaran api permukaan dan smouldering atau kebakaran api bawah permukaan. Kebakaran smouldering sulit dipadamkan karena sifatnya yang tidak terlihat sehingga dapat merambat ke area sekitar dan kebakaran tersebut akan muncul kembali di permukaan.
Kebakaran api bawah permukaan dapat menghasilkan asap tebal karena terdapat banyak bahan bakar yang tersimpan di bawah permukaan. Kondisi tersebut menimbulkan bencana lanjutan, yakni bencana kabut asap tebal.
Backburning dapat menjadi salah satu taktik dalam pengendalian kebakaran pada kondisi tertentu, tetapi bukan metode pemadaman yang berlaku untuk semua jenis karhutla. Teknik tersebut bekerja dengan memanfaatkan api secara terencana untuk mengurangi bahan bakar dan membantu mengendalikan pergerakan api utama.
Apabila backburning diterapkan dalam karhutla di Kalimantan, penerapannya menjadi lebih kompleks karena sebagian wilayah yang terbakar merupakan lahan gambut. Api pada gambut dapat berlangsung di bawah permukaan dan menimbulkan bencana lanjutan berupa asap tebal sehingga penanganannya membutuhkan pendekatan berbeda dari kebakaran api biasa.
Backburning merupakan teknik yang harus dilakukan berdasarkan perencanaan tim dengan memperhatikan kondisi cuaca, karakteristik api, bahan bakar penyebab utama kebakaran, dan keselamatan petugas. Nah, itulah iformasi soal backburning. Semoga informasi ini bermanfaat yaa. (Adinda Kinanthi)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda