Ilustrasi karhutla. Foto: Istimewa,
Ilustrasi karhutla. Foto: Istimewa,

Masih Panas, Pemprov Riau Tingkatkan Level Waspada Karhutla sampai November 2026

Arif Wicaksono • 24 Agustus 2026 12:19

Jakarta: Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau belum selesai.
 
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau justru meminta semua pihak meningkatkan kewaspadaan, terutama memasuki September hingga November 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto menegaskan, penanganan karhutla tidak boleh menunggu api membesar. Personel, peralatan pemadaman, hingga sumber air harus sudah siap di wilayah yang berisiko.

Baca juga:  Mengapa Karhutla Selalu Terjadi Saat Kemarau? Pencegahan Jadi Kunci

“Kita tidak boleh lengah, terutama menghadapi September, Oktober hingga November yang perlu kita antisipasi bersama,” kata SF Hariyanto dikutip dari Infopublik. 

Menurutnya, seluruh kekuatan yang tersedia harus bisa bergerak cepat ketika kebakaran muncul. Koordinasi juga tidak cukup dilakukan pemerintah saja, tetapi membutuhkan kerja bareng antara pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Satpol PP, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat.

Pelalawan Jadi Salah Satu Titik Perhatian

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kabupaten Pelalawan. Daerah ini masih menghadapi tingginya aktivitas titik panas, sementara karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman menjadi lebih rumit.
 
Berdasarkan pemantauan yang dipaparkan dalam rapat, terdapat 216 titik panas yang terdeteksi di Pelalawan.

Kepala Pelaksana BPBDPK Provinsi Riau Edy Afrizal mengatakan tantangan di lapangan tidak hanya soal memadamkan api. Sebagian titik berada di kawasan gambut dengan vegetasi yang mudah menjadi bahan bakar.

Masalah lain adalah ketersediaan air. Sumber air di sekitar lokasi kebakaran bisa terbatas atau cepat habis sehingga proses pemadaman membutuhkan dukungan tambahan.

Karena itu, pemerintah meningkatkan jumlah peralatan sekaligus memperkuat pasokan air untuk tim di lapangan.

“Untuk memperkuat penanganan, peralatan pemadaman dan sumber air terus kita tambah, dari sebelumnya enam unit menjadi sekitar 15 unit,” ujar Edy.

Personel juga ditambah melalui kolaborasi Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan sejumlah unsur lainnya.

Bukan Cuma Api, Asap Juga Jadi Masalah

Karhutla bukan hanya soal api yang membakar hutan dan lahan. Asap yang dihasilkan juga bisa menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat.

SF Hariyanto meminta perlindungan kesehatan untuk petugas dan warga tidak ikut terlewat. Masker, obat-obatan, hingga oksigen harus tersedia, khususnya bagi masyarakat yang rentan terhadap paparan asap.

Pemprov Riau bahkan telah menyiapkan sekitar 110 ribu masker untuk mendukung kebutuhan warga dan petugas di wilayah terdampak.

Edy menambahkan, persoalan asap di Riau juga tidak selalu berasal dari kebakaran di wilayah tersebut. Berdasarkan pemantauan bersama BMKG, sebagian asap yang memengaruhi wilayah Riau disebut terbawa angin dari arah Lampung, Sumatra Selatan, dan Jambi.

Artinya, memantau karhutla tidak cukup hanya melihat titik api. Arah angin dan pergerakan asap juga perlu diperhatikan agar pemerintah bisa lebih cepat mengantisipasi dampaknya ke masyarakat.

Pemprov Riau pun akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor, menambah kesiapan personel dan peralatan, serta memastikan dukungan kesehatan tersedia.


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>