Autisme. Foto: Freepik
Autisme. Foto: Freepik

Gak Cuma Antiperundungan, Anak Autisme Butuh Lingkungan Neuro-Affirming

Citra Larasati • 02 April 2026 20:05
Ringkasnya gini..
  • Bagi banyak orang tua, sekolah yang aman sering kali diartikan sebagai lingkungan yang bebas dari perundungan.
  • Namun bagi anak neurodivergent seperti anak dengan autisme, ADHD, atau disleksia, rasa aman tidak selalu sesederhana itu.
  • Dibutuhkan pendekatan yang lebih memahami cara kerja otak dan kebutuhan anak, yang dikenal sebagai lingkungan neuro-affirming.
Jakarta: Percakapan tentang rasa aman di sekolah mulai mengalami pergeseran. Bagi banyak orang tua, sekolah yang aman sering kali diartikan sebagai lingkungan yang bebas dari perundungan.
 
Namun bagi anak neurodivergent seperti anak dengan autisme, ADHD, atau disleksia, rasa aman tidak selalu  sesederhana itu. Sejalan dengan terbitnya Permendikdasmen No. 6/2026 tentang “Budaya Sekolah yang Aman  dan Nyaman”, Atelier of Minds, after-school care dan enrichment center inklusif di Jakarta Selatan menilai, rasa aman bagi anak neurodivergent perlu melampaui kebijakan  anti-perundungan dan bergerak menuju pendekatan neuro-affirming. 
 
Tantangan yang mereka hadapi sering kali tidak terlihat secara langsung, mulai dari kesulitan  memahami situasi sosial hingga tekanan untuk terus menyesuaikan diri dengan lingkungan di  sekitarnya. Karena itu, semakin banyak pihak menilai bahwa menciptakan lingkungan yang  aman bagi anak neurodivergent membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, tidak hanya  melindungi mereka dari perundungan, tetapi juga memahami cara mereka belajar, berinteraksi,  dan berkembang. 

Di banyak kasus, anak neurodivergent justru belajar untuk menyembunyikan cara berpikir atau  berperilaku mereka agar terlihat “sama” dengan teman teman lain. Proses ini dikenal sebagai  masking, yaitu upaya menahan atau menutupi karakteristik diri agar tidak dianggap berbeda. 
 
Meski terlihat berhasil dari luar, upaya ini sering kali melelahkan secara emosional dan dapat  berdampak pada kesehatan mental anak dalam jangka panjang.  Karena itu, semakin banyak ahli yang menilai bahwa menciptakan lingkungan sekolah yang  100 persen aman bagi anak neurodivergent membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan anti  perundungan.
 
Dibutuhkan pendekatan yang lebih memahami cara kerja otak dan kebutuhan  anak, yang dikenal sebagai lingkungan neuro-affirming, yaitu lingkungan yang tidak memaksa  anak untuk “menyesuaikan diri”, tetapi justru mendukung mereka untuk berkembang sesuai  cara mereka masing masing.
 
“Bagi anak neurodivergent, sekolah tidak otomatis menjadi tempat aman hanya karena tidak  ada perundungan secara fisik. Rasa aman muncul ketika anak dapat menjadi dirinya sendiri  tanpa takut disalahpahami. Dalam perspektif Occupational Therapy, regulasi emosi anak sangat  dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan mendukung kebutuhan sensori mereka,” ujar Occupational Therapist dan Lead Coach di Atelier of Minds,Ries Sansani dalam siaran persnya, Kamis, 2 April 2026.
 
Ketika anak dipaksa ‘menyesuaikan diri’ melalui pendekatan disiplin yang kaku tanpa  memahami kebutuhan sensori dan regulasinya, hal tersebut justru dapat meningkatkan stres  dan disregulasi. "Kebutuhan sensori yang terpenuhi dapat membentuk regulasi diri yang baik  serta mengembangkan Functional Emotional Development Capacity, yaitu kapasitas  perkembangan emosional yang memungkinkan anak merasa aman dan percaya ketika  membangun hubungan dengan orang lain, serta secara bertahap mengembangkan kontrol  emosi dan perilaku yang lebih adaptif,” tambah Ries.
 
Untuk memperkuat aplikasi dari pendekatan ini Atelier of Minds berkolaborasi dengan Agape  Psychology, klinik psikologi berbasis di Singapura yang telah memiliki pengalaman lebih dari  satu dekade dalam praktik pendidikan inklusif. 
 
Clinical Director Agape Psychology, Jeremy Ang menjelaskan, pendekatan  neuro-affirming penting untuk mendukung kesehatan mental anak dalam jangka panjang. “Tujuan kami adalah menerjemahkan praktik neuro-affirming yang telah kami kembangkan secara mendalam di Singapura ke dalam dunia pendidikan Indonesia,” kata Jeremy Ang.
 
“Pendekatan ini bukan sekadar tentang menerapkan model asing, melainkan tentang  bersama-sama membangun kerangka kerja yang berkelanjutan dan peka terhadap budaya,  sehingga anak-anak Indonesia dapat berkembang secara baik dalam sisi akademis, sosial, dan  emosional," ujarnya.
 
Kebutuhan terhadap layanan inklusif di Indonesia juga semakin mendesak. Berdasarkan data  global WHO yang dirujuk Kementerian Kesehatan, diperkirakan 1 dari 100 anak memiliki Autism  Spectrum Disorder (ASD). Dengan jumlah anak terdampak yang diperkirakan mencapai sekitar  2,4 juta anak di Indonesia, pentingnya pendidikan yang lebih inklusif pun semakin terasa.  Untuk membantu sekolah menerjemahkan kebijakan menjadi praktik nyata, Ries Sansani  membagikan tiga langkah sederhana yang dapat mulai diterapkan di sekolah:

1. Mengutamakan keamanan sensorik 

Rasa aman tidak hanya berarti tidak adanya kekerasan, tetapi juga bebas dari tekanan  sensorik. Sekolah dapat menyediakan ruang tenang atau memperbolehkan penggunaan  headphone peredam suara bagi anak yang membutuhkan. 

2. Berpindah dari kepatuhan ke kolaborasi 

Alih alih langsung menghukum perilaku yang dianggap tidak biasa, guru dapat mencoba  memahami apa yang ingin disampaikan anak melalui perilaku tersebut. Lingkungan  belajar perlu menyesuaikan kebutuhan anak, bukan sebaliknya.

3. Mengenalkan konsep keragaman cara berpikir kepada teman sebaya 

Perundungan sering berkurang ketika siswa memahami perbedaan. Anak dapat diajarkan bahwa cara kerja otak setiap orang berbeda. Ada yang seperti Windows, ada  yang seperti Mac. Ketika siswa memahami hal ini, empati dapat tumbuh secara alami. 
 
Bagi banyak orang tua di Indonesia, menemukan lingkungan yang benar-benar aman bagi anak  sering menjadi perjalanan panjang. Wina Natalia, figur publik sekaligus ibu dari anak  neurodivergent, menilai perubahan cara pandang ini sangat penting bagi keluarga. 
 
“Sebagai orang tua, ketakutan terbesar bukan hanya anak di-bully, tetapi saat anak dipaksa  mengubah dirinya agar bisa diterima,” ujar Wina Natalia. “Ketika menemukan lingkungan yang  menghargai neurodiversity, dampaknya sangat besar bagi keluarga. Kami tidak ingin anak  hanya sekadar ‘menyesuaikan diri’, tetapi benar benar dilihat, didengar, dan dihargai.” 
 
Sebagai bagian dari Bulan Kesadaran Autisme, Atelier of Minds bersama Agape Psychology juga akan mengadakan rangkaian workshop bagi orang tua dan pendidik. Program ini bertujuan  membantu masyarakat bergerak dari sekadar pemahaman menuju penerimaan, sekaligus  memberikan panduan praktis dalam menerapkan pendekatan neuro-affirming di rumah maupun di sekolah. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan