Ilustrasi sekolah. Medcom
Ilustrasi sekolah. Medcom

Tulisan Rasis Rektor ITK Masuk 3 Dosa Besar Pendidikan

Pendidikan pendidikan rasisme Kemendikbudristek Rektor ITK
Renatha Swasty, Citra Larasati • 06 Mei 2022 10:34
Jakarta: Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menyebut tulisan rasis Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Budi Santosa Purwokartiko masuk tiga dosa besar pendidikan. Ketiga dosa besar itu, yakni intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan.
 
"Ini (tindakan rasis) kan bagian dari nomenklatur yang menjurus pada intoleransi," kata Ubaid kepada Medcom.id, Jumat, 6 Mei 2022.
 
Ubaid menyebut moderasi beragama sangat penting dikembangkan di institusi pendidikan. Sebab, intoleransi sudah merasuk, bahkan di buku pelajaran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sering kejadian kasus-kasus intoleransi masuk buku-buku di sekolah. Eh, ternyata guru dan pimpinan pendidikan tinggi kita juga banyak terpapar," tutur dia.
 
Dia menegaskan Budi mesti mendapat sanksi tegas. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mesti gerak cepat.
 
"Harusnya serius ditangani. Tapi sayangnya belum kelihatan langkah-langkah konkretnya," kata Ubaid.
 
Mendikbudristek Nadiem Makarim dalam tiap kesempatan menegaskan bakal membereskan tiga dosa besar pendidikan. Untuk mengatasi itu, pihaknya menghadirkan Asesmen Nasional (AN).
 
Nadiem menilai hasil AN dapat dimanfaatkan untuk menentukan langkah mengatasi dosa dunia pendidikan. "Dari situ adalah langkah permulaan dari perubahan, karena kalau kita tidak bisa ukur, kita tidak bisa perbaiki," ujar Nadiem dalam siaran YouTube Kemenko PMK, Selasa, 19 April 2022.
 
Sebelumnya, media sosial ramai membicarakan Rektor ITK Budi Santosa Purwokartiko. Tulisannya di media sosial dinilai menyinggung suku, agama, ras, antargolongan (SARA).
 
Dalam postingannya, Budi mengungkapkan mewawancarai mahasiswa yang akan berangkat ke luar negeri. Dia memuji kemampuan akademis maupun soft skills kandidat.
Namun, pada bagian akhir, dia memberi stigma bersifat SARA.
 
"Jadi, 12 mahasiswa yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open minded. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa barat, dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi," tulis Budi.
 
Tulisan itu menuai banyak komentar. Budi dianggap menghakimi suatu golongan.
 
Baca: Didesak Copot Rektor ITK, Kemendikbudristek: Tidak Boleh Grusa-grusu
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif